Perjalanan Mencari Gaya Menulis

Perjalanan Mencari Gaya Menulis

BIBLIOTIKA - Dulu, saat masih pemula, saya juga dihinggapi “sindrom” penulis pemula, yaitu terpesona pada gaya menulis seseorang, kemudian berusaha menirunya. Hal semacam itu—dalam bidang apa pun—tentu wajar, karena kita memang kadang membutuhkan model untuk ditiru atau dicontoh, sebelum akhirnya menemukan diri sendiri.

Di antara penulis yang pernah menjadi model saya dalam gaya menulis adalah Sutardji Calzoum Bachri, salah satu penyair Indonesia. Di masa SMA saya, ada majalah remaja yang waktu itu terkenal, bernama Ceria. Majalah itu full berisi cerpen dan puisi, serta artikel yang berhubungan dengan sastra. Hampir semua materi majalah itu dikirim dan ditulis oleh para pembacanya (yang mungkin rata-rata anak muda).

Sutardji menjadi redaktur puisi di majalah tersebut, dia ia sering mengulas puisi-puisi yang ditampilkan di majalah itu. Ulasan-ulasannya itulah yang kemudian membuat saya terpesona, karena gaya tulisannya yang lugas, jelas, dan tidak berbelit-belit. Kadang-kadang dia bahkan mengkritik secara terang-terangan puisi yang dipilihnya untuk diterbitkan di majalah itu.

Karena menyukai gaya tulisannya, saya pun berusaha menirunya. So, untuk beberapa lama, saya suka menulis apa saja, sambil berusaha meniru gaya Sutardji yang lugas. Saya pikir, waktu itu, jika bisa menulis dengan gayanya, saya pun bisa tampak sehebat dia. Tentu saja itu pikiran naif, khas penulis pemula.

Seiring perjalanan waktu, saya juga mulai mengenal tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib. Bukunya yang pertama saya baca adalah Slilit Sang Kiai, yang merupakan kumpulan tulisannya. Membaca buku itu benar-benar membuat saya terpesona. Bukan hanya pada isinya, tetapi juga pada gaya tulisannya. Emha menulis dengan alur yang mengalir, kadang naik turun, tetapi alirannya sangat lancar. Di beberapa bagian kadang ia menyelipkan kejutan-kejutan tak terduga, yang membuat saya makin jatuh cinta pada tulisan-tulisannya.

Maka, sejak itu, saya pun mulai banyak membaca karya Emha yang lain, dan makin terobsesi untuk bisa menulis seperti dirinya. Tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib adalah gabungan antara pengetahuan, wawasan, serta kenakalan dalam berpikir. Orang ini bisa menulis tentang apa saja, dan semuanya mengasyikkan, pikir saya waktu itu. Maka saya pun berusaha meniru gaya tulisannya.

Dan proses itu belum berhenti. Seiring makin banyak yang saya baca, saya pun makin banyak mendapatkan wawasan tentang gaya menulis. Penulis lain yang pernah menginspirasi saya adalah Kahlil Gibran. Sejak mengenal karyanya pertama kali, saya seperti kecanduan pada apa pun yang ditulisnya. Jadi, sejak itu, saya mencari semua buku yang ditulis Gibran, dan membacanya dengan khusyuk.

Pada saat ini, saya berani yakin telah membaca semua yang ditulis Kahlil Gibran, dan karya-karyanya sangat mempengaruhi saya selanjutnya. Gibran, bagi saya, adalah penulis yang sulit ditandingi. Tidak hanya kedalaman visinya, tetapi juga dalam gaya menulis. Di banyak bukunya yang saya baca, Gibran bisa menulis dengan lembut dan romantis, tetapi juga bisa menulis dengan penuh ledakan kemarahan yang mencekam. Hebatnya, menulis selembut dan segarang apa pun, ciri khasnya tetap melekat—sebuah gaya menulis yang hebat.

Itu beberapa ilustrasi ringan, saat saya masih pemula, ketika masih berusaha mencari dan menemukan gaya menulis. Pada akhirnya, seiring proses demi proses yang dilewati, saya pun mulai menemukan gaya saya sendiri, yang tentu paling pas dan paling cocok untuk diri saya. Mungkin, para penulis lain pun sama menjalani proses semacam itu. Karena menulis adalah kerja kreatif, dan kreativitas membutuhkan proses.