Bersikap Adil pada Orang Lain

Bersikap Adil pada Orang Lain

BIBLIOTIKA - Saat melihat kekurangan atau kelemahan orang lain, kita kadang suka mencibir, “Yaelah, masak kayak gitu aja nggak bisa!” Itulah kebiasaan umum kita—menghakimi orang lain, tanpa tahu latar belakang hidupnya. Kita mudah mengagumi kelebihan orang lain, tapi sering kali tak bisa menerima kekurangan yang dimilikinya. Padahal kita tidak diciptakan sempurna.

Thomas Edison adalah penemu paling hebat sepanjang masa, tapi dia sering kebingungan saat harus berkomunikasi dengan orang lain. Nikola Tesla, yang sama-sama ilmuwan hebat, juga sering gagap saat berbicara dengan orang lain. Jika Edison atau Tesla dianggap terlalu jauh, lihatlah Iwan Fals.

Di Indonesia, bisa dibilang tidak ada satu pun penyanyi yang mampu menandingi kehebatan Iwan Fals. Dia menciptakan dan menyanyikan lagu dalam jumlah tak terhitung banyaknya, dan nyaris semuanya dihafalkan jutaan orang. Di atas panggung, dia sangat memukau. Selama puluhan tahun, dia terus eksis dan dipuja dan dicintai, hingga menjadi legenda hidup. Di dunia musik, orang ini benar-benar hebat dan mengagumkan—semua orang tahu!

Tetapi, cobalah perhatikan saat Iwan Fals berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Di YouTube, banyak sekali wawancara atau percakapan Iwan Fals dengan orang lain, dan kita bisa memperhatikannya. Saat bercakap atau berkomunikasi dengan orang lain—di luar panggung—Iwan Fals sangat tampak canggung, kaku, bahkan sering tidak nyambung. Meski di atas panggung dia adalah “dewa”, di luar panggung dia hanyalah “bocah”.

Dan Iwan Fals mengakui hal itu. Saat diminta untuk tampil dalam acara Kick Andy, misalnya, Andy Noya harus “memaksa” sampai puluhan kali sebelum Iwan Fals kemudian bersedia muncul di acara itu. Saat di studio, Iwan Fals mengakui, “Saya sering tidak tahu yang harus saya lakukan, atau saya katakan, dalam acara-acara seperti ini.”

Coba lihat. Penyanyi yang dipuja jutaan orang, sosok yang dipuji majalah TIME sebagai Legenda Asia, orang yang dikagumi sepanjang masa, mengakui bahwa dia sering tidak tahu yang harus dilakukan dalam acara ramah-tamah seperti acara Kick Andy. Tetapi apakah kemudian kita harus mencela Iwan Fals hanya karena kekurangmampuannya dalam hal itu? Tentu saja tidak! Sebagaimana manusia lain, dia juga punya kekurangan meski memiliki banyak kelebihan.

Kita sering tidak adil menilai orang lain, hanya karena melihat permukaannya. Karena kagum melihat kemampuan atau kelebihan yang dimilikinya, kita kadang lupa bahwa dia juga manusia biasa yang tentu punya kekurangan. Bukan hanya Thomas Edison, bukan hanya Nikola Tesla, juga bukan hanya Iwan Fals. Orang-orang di sekitar kita, yang mungkin hebat dan istimewa, juga tetap manusia biasa, yang tidak menutup kemungkinan juga memiliki kelemahan serta kekurangan.

Jadi, kapan pun, sebelum menilai orang lain sombong atau antisosial hanya karena tidak menyapamu, pikirkanlah terlebih dulu, “Apakah dia tidak menyapaku karena tidak mau, ataukah karena memang tidak tahu?”

Meski mungkin pertanyaan itu aneh, tapi di dunia ini ada banyak orang yang sungguh-sungguh ingin menyapa orang lain, ingin berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, tetapi kebingungan bahkan tidak tahu cara melakukannya. Untuk hal itu, kita perlu belajar untuk bersikap adil kepada mereka.