Apakah Manusia Bisa Menghamili Hewan?

Apakah Manusia Bisa Menghamili Hewan?

BIBLIOTIKA - Zoofilia adalah kelainan seks yang menjadikan pengidapnya suka bersetubuh dengan hewan. Namun ada pula orang yang melakukan hal sama, tapi hanya sekadar iseng, karena butuh pelampiasan atau bukan karena kelainan. Tak peduli memang kelainan atau sekadar iseng, mungkinkah manusia bisa menghamili hewan? Dalam kasus ini tentu si manusia berjenis kelamin laki-laki, dan si hewan berjenis kelamin wa... eh, betina.

Jawabannya tidak. Pada permukaan sperma terdapat reseptor yang dapat melengkapi reseptor yang terdapat pada sel telur. Jadi, ketika reseptor yang terdapat pada sperma tidak bisa melengkapi reseptor yang terdapat pada sel telur, pembuahan tidak akan terjadi. Bahkan hewan yang berasal dari spesies berbeda pun tidak bisa berkembang biak satu sama lain. Misalnya, buaya tidak bisa menghamili gajah, atau sebaliknya.

Karena adanya perbedaan reseptor itulah, maka sperma yang berasal dari manusia hanya dapat mengenali sel telur milik manusia. Begitu pula sebaliknya, sperma yang berasal dari hewan tidak bisa menghamili manusia. Selain itu, susunan genetik satu spesies dengan spesies berbeda lainnya tidak bisa menghasilkan keturunan, sehingga jawaban untuk pertanyaan ini tentu saja sperma manusia tidak bisa menghamili hewan.

Tetapi kenyataan itu tidak berarti “aman” bagi pelakunya. Meski hewan yang disetubuhi tidak akan hamil sehingga tidak akan “menuntut tanggung jawab”, perilaku menyetubuhi hewan sangat berbahaya, karena dapat menularkan penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis). Perpindahan kuman itu bisa melalui cairan vagina, urin, saliva, atau feses. Dalam hal ini, manusia pelakunya juga sangat rentan terkena infeksi seksual, yang salah satunya adalah kanker penis.

Stenio de Cassio Zequi, ahli urologi di Sao Paulo yang meneliti kasus ini, menyatakan, “Sejak zaman dulu, kebiasaan ini—seks dengan hewan—telah dijelaskan dalam musik rakyat, teater, lelucon, dan tradisi lisan. Dalam beberapa peradaban antik, ada kuil atau ritual yang ditujukan untuk praktek seks dengan hewan.”

Sebuah penelitian terhadap 492 pria berusia 18 sampai 80 tahun di pedalaman Brazil menemukan 35 persen dari mereka pernah berhubungan seks dengan hewan, dan sebagian di antaranya sudah didiagnosis mengidap kanker penis. Umumnya, pelaku seks dengan hewan melakukannya dengan kuda, sapi, babi, ayam, dan terkadang bersama-sama pria lainnya secara berkelompok.

Cedera kecil pada penis merupakan faktor risiko berkembangnya kanker penis. Seks dengan hewan yang dilakukan secara intens dan jangka panjang juga menyebabkan luka pada jaringan penis manusia. Selaput lendir kelamin hewan memiliki karakteristik berbeda dari kelamin manusia, dan sekresi hewan berbeda dari cairan manusia. Bisa jadi jaringan hewan menghasilkan cairan yang akan menjadi racun bagi manusia.

Fakta:

Dari The Journal, edisi Senin, 19 September 2011, diberitakan seorang wanita Irlandia berusia 43 tahun dan telah punya 4 orang anak, tewas setelah berhubungan seks dengan seekor anjing gembala dari ras German Shepherd. Wanita yang tak disebutkan namanya itu mengalami anaphylaxis atau reaksi alergi yang berlebihan. Ia mengalami sesak napas disertai gejala mirip alergi kacang, namun sangat parah, sehingga harus dilarikan ke Mid-Western Regional Hospital di Limerick, Irlandia. Kisah yang terjadi pada 7 Oktober 2008 itu berakhir dengan kematian.