Meditasi dan Ramuan Terapi Akusipratsu

Meditasi dan Ramuan Terapi Akusipratsu

BIBLIOTIKA - Proses pengobatan dengan terapi akusipratsu biasanya menggunakan sarana meditasi sebagai awal pengobatan. Para pakar akusipratsu menyatakan bahwa meditasi sebagai awal rangkaian program penyembuhan, karena diyakini bahwa meditasi adalah komunikasi antara manusia dengan Tuhannya, apapun agama dan kepercayaan yang dianut oleh si pasien.

Selain itu, meditasi adalah sarana untuk menyatukan gelombang si terapis dengan gelombang si pasien, untuk melihat penyakit yang diderita oleh si pasien. Terkadang, pancaran gelombang itu begitu kuat, namun ada juga yang lemah. Gelombang yang kuat mengindikasikan kalau si pasien masih tergolong sehat, sedangkan gelombang yang lemah menunjukkan kalau si pasien sudah dalam keadaan sakit.

Setelah menjalani proses meditasi selama kurang lebih satu setengah jam, maka si pasien pun akan mulai ditangani masalahnya. Mula-mula, si pasien akan diminta berbaring di atas tempat tidur, kemudian dideteksi sekujur tubuhnya dengan menggunakan kristal berbentuk prisma yang biasanya sepanjang sepuluh sentimeter. Kristal ini berfungsi untuk mencari dimana pusat gelombang dalam tubuh pasien tadi berasal.

Setelah pusat gelombang tertemukan, maka si pasien pun akan mulai diterapi dengan akusipratsu. Selain menyentuh bagian yang dirasakan sakit oleh si pasien, sang terapis akan memeriksa pula titik-titik tubuh lainnya, mulai dari daerah telapak kaki hingga area lutut.

Beberapa pakar pengobatan akusipratsu terkadang juga menggunakan sarana vibrator pemijat dalam terapinya, yang bertujuan untuk menetralisir gelombang rasa sakit yang tidak terdeteksi oleh kristal.

Di bagian ini pula tidak jarang si pasien akan menjerit kesakitan. Rasa sakit itu muncul karena di bagian yang terserang penyakit itu sedang ditata kembali gelombangnya. Dengan vibrator pemijat itulah gelombang yang lemah tadi dinetralkan kembali.

Ramuan penunjang terapi akusipratsu

Setelah melewati proses terapi sebagaimana yang disebutkan di atas, maka si pasien akan diberi ramuan atau jamu tradisional yang biasanya dibuat sendiri oleh si terapis. Ramuan ini biasanya telah diusahakan agar seminim mungkin mengandung zat-zat kimiawi. Karenanya, sang terapis pun biasanya telah berupaya agar membuat ramuan penunjangnya itu menggunakan bahan-bahan tradisional yang murni.

Ketika kondisi tubuh pasien yang telah mengalami terapi akusipratsu dipertemukan dengan obat-obatan yang mengandung zat kimiawi dalam dosis yang cukup besar, maka terapi akan mengalami masalah.

Hal itu terjadi karena obat-obatan kimiawi membawa efek samping yang besar dan biasanya sulit untuk dinetralkan oleh tubuh. Karena itulah kemudian ramuan penunjang itu diusahakan setradisional atau sealami mungkin.

Jika dibandingkan, obat-obatan kimiawi mungkin memang lebih cepat memberikan reaksinya dibandingkan obat atau ramuan tradisional. Tetapi tanpa disadari, tubuh akan terus menumpuk zat-zat sisa dari obat kimiawi tersebut yang sulit dikeluarkan oleh tubuh.

Sebaliknya, ramuan tradisional memang relatif lebih lambat dalam memberikan efeknya, tetapi hasil yang dicapai dapat dipastikan dan tidak akan banyak menyulitkan kinerja tubuh. Hal itu terjadi karena kombinasi bahan-bahan tradisional umumnya saling mengurangi efek samping bagi tubuh. Kunyit, misalnya, apabila dikombinasikan dengan daun sirih dan akar ginseng, maka efek kunyit akan tertutupi oleh daun sirih, dan sebaliknya efek samping daun sirih akan ditekan oleh akar ginseng.

Selain itu, ramuan tradisional juga dapat diolah secara lebih fleksibel, dalam arti dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang memang benar-benar diperlukan oleh si pasien. Sebagai misal, kalau seorang pasien mungkin berpantang dengan suatu bahan obat tertentu, maka si terapis dapat mengolah obatnya tanpa menggunakan bahan tersebut. Fleksibilitas semacam itu tentunya akan sulit jika diterapkan pada obat-obatan kimiawi.