Vegetarian dan Kesehatan Spiritual (2)

Vegetarian dan Kesehatan Spiritual

BIBLIOTIKA - Apa yang dinyatakan oleh P.R. Sarkar itu mungkin masih menjadi sesuatu yang debatable karena dia mendasarkan tesisnya pada perspektif spiritual. Namun lebih jauh dia juga mengaitkan tesisnya itu dengan filosofi ahimsa yang mungkin akan terkesan lebih ‘ilmiah’.

Sebagaimana ajaran dasarnya, ahimsa pada intinya adalah tidak menyakiti makhluk lain. Dalam kaitannya dengan persoalan makanan yang dikonsumsi oleh manusia ini, di dalamnya terdapat dua prinsip utama, yaitu:

Sebisa mungkin bahan makanan yang dikonsumsi diambil dari makhluk yang memiliki kesadaran paling rendah atau paling kecil. Hewan memiliki tingkat kesadaran dan tanggapan terhadap rangsang sebaik kesadaran manusia, sedangkan tumbuh-tumbuhan memiliki kesadaran yang lebih kecil. Tujuan dari hal ini adalah agar proses pemasakan makanan tersebut tidak menyakiti makhluk lain.

Sebelum memutuskan untuk menyembelih seekor hewan (dengan tujuan untuk dimakan), pikirkanlah terlebih dulu secara berulang-ulang antara manfaat yang diberikan oleh hewan tersebut (sebagai makanan) dengan rasa sakit yang luar biasa yang akan dideritanya di saat penyembelihan.

Nah, lalu bagaimana caranya memilih makanan-makanan yang memiliki daya prana? Jawabannya, mengacu pada pemaparan di atas, maka bahan-bahan makanan yang sarat mengandung prana adalah bahan-bahan makanan yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan seperti buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, ataupun juga umbi-umbian.

Setelah memperoleh bahan-bahan makanan yang baik yang diharapkan dapat memberikan energi pada fisik sebagaimana yang kita harapkan ketika mengkonsumsi suatu makanan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan kebiasaan makan yang baik sehingga makanan yang kita makan benar-benar dapat menjaga energi serta keseimbangan fisik dan mental serta spiritual kita. Nah, berikut ini adalah saran kecil untuk tujuan itu:

Usahakan agar tidak makan hingga terlalu kenyang. Perut yang terlalu kenyang tidak akan memberikan manfaat bagi kesehatan, namun justru akan merusakkan sistem pencernaan karena beban yang berlebihan. Ketika kita memasukkan makanan ke dalam tubuh, maka ‘mesin’ di dalam tubuh kita akan bekerja keras untuk dapat mencernanya. Proses ini akan sukses apabila bahan yang dicerna sesuai dengan kapasitas mesin pencernanya.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA untuk Anda.
Untuk mendapatkan, klik di sini.

Namun jika bebannya terlalu banyak—karena kita makan terlalu banyak—maka semua bahan makanan itu tidak bisa dicerna semuanya, dan akibatnya sisa yang tidak berhasil dicerna itu akan mengalami pembusukan yang pada akhirnya akan meracuni tubuh. Salah satu ‘pola makan’ yang sehat untuk tubuh adalah dengan mengisi perut ½-nya untuk makanan, ¼-nya untuk air, dan ¼-nya lagi untuk udara.

Usahakan agar makan dalam suasana yang tenang dan bahagia. Bagaimana kita makan sama pentingnya dengan apa yang kita makan, karena emosi dan suasana hati serta pikiran kita akan ikut mempengaruhi hormon dan enzim dalam tubuh kita selama proses makan berlangsung. Ketika sedang sedih atau stres, misalnya, tubuh secara otomatis akan memproduksi jenis asam yang berbahaya, sehingga kemampuan pencernaan dalam mengolah makanan akan menurun.

Akibatnya kembali lagi seperti yang dipaparkan di atas, yakni menumpuknya sisa makanan yang tidak tercerna yang kemudian menjadi racun. Karenanya, ada baiknya kalau sebelum makan kita meluangkan waktu sejenak untuk berdiam diri—untuk berdoa, dan mensyukuri sesuatu yang akan kita makan itu dengan hati yang tenang dan pikiran yang gembira.