Panduan Memberikan Handphone pada Anak (1)

Panduan Memberikan Handphone pada Anak

BIBLIOTIKA - Handphone memang telah menjadi sesuatu yang menggejala di dalam kehidupan kita, dan gejala akan kebutuhan atau setidaknya keperluan dan keinginan untuk memiliki serta menggunakan handphone itu tidak saja hanya terjadi pada orang-orang dewasa, tetapi juga pada diri anak-anak. Sebagian orangtua merasa keberatan untuk memberikan handphone kepada anak-anaknya, sementara sebagian orangtua yang lain merasa perlu membekali anak-anak mereka dengan perangkat handphone.

Sebenarnya, tentu saja tidak dilarang kalau orangtua memberikan handphone kepada anak-anaknya, karena handphone memang bermanfaat. Dengan adanya handphone, maka komunikasi antar anak dengan orangtua pun menjadi semakin lancar atau setidaknya lebih lancar. Selain itu, melalui handphone ini diharapkan anak-anak akan menjadi lebih dini untuk mengenal teknologi sehingga mereka tidak menjadi generasi yang gaptek atau gagap teknologi.

Namun, meskipun begitu, anak-anak juga sebenarnya tidak atau belum terlalu perlu dibekali sebuah handphone jika si anak masih dalam radius jangkauan keluarganya. Untuk hal semacam ini, maka manfaat handphone pun menjadi tidak maksimal, karena paling-paling handphone akan dijadikan sebagai semacam mainan, alat untuk gaya-gayaan atau setidaknya hanya untuk ngobrol-ngobrol yang tidak penting dengan teman-temannya.

Selain belum perlu membekali mereka dengan handphone karena alasan tersebut di atas, hal lain adalah karena dampak negatif yang mungkin saja ditimbulkannya. Menurut Dr. regina Milteer, dokter spesialis anak yang juga anggota dari American Academy of Pedriatics Council on Communications and Media, anak-anak menjadi seringkali lupa diri kalau menggunakan handphone.

Dia mengatakan, “Keluhan terbanyak dari orangtua adalah anak sering lupa waktu apabila sudah menggunakan handphone miliknya, entah itu untuk bermain games ataupun untuk menelepon dan berkirim SMS, sehingga waktu tidur dan belajar pun menjadi tersita.”

Pernyataan Dr. Milter di atas itu didukung oleh Amy Linn, seorang psikolog dari Wayne State University, Detroit, Michigan, yang mengatakan, “Dampak negatif fasilitas permainan di dalam fitur handphone itu, selain menyebabkan prestasi anak menjadi menurun, juga mengurangi kesempatan bersosialisasi dengan rekan-rekan seusianya. Padahal, usia 6 sampai 10 tahun itu kemampuan sosialisasi anak harus ditingkatkan.”

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA untuk Anda.
Untuk mendapatkan, klik di sini.

Dampak lain dari penggunaan handphone oleh anak-anak adalah dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Ini juga dapat mendorong anak yang secara ekonomi tak mampu membeli handphone untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak baik hanya untuk dapat memiliki sebuah handphone. Selain itu, memberikan handphone, apalagi yang mahal dan canggih, akan membuat si anak menjadi rawan untuk jadi korban kejahatan.

Untuk hal tersebut, kita dapat belajar pada Jepang. Pemerintah Jepang telah menyerukan pada para orangtua dan para guru untuk membatasi penggunaan telepon genggam atau handphone, khususnya yang memiliki fasilitas internet, demi keselamatan anak-anak dari ancaman kejahatan di dunia maya.

Statistik menyebutkan bahwa 33 persen anak usia SD yang berumur 7 sampai 12 tahun sudah memiliki handphone dan pada tingkat SMP, angka tersebut melompat menjadi 60 persen. Nah, umumnya, mereka terjebak dalam kencan dunia maya atau virtual dating, pelecehan atau harassment, penganiayaan atau bullying melalui forum-forum online sekolah tempat mereka bersekolah (online school forum).

Baca lanjutannya: Panduan Memberikan Handphone pada Anak (2)