Mitos dan Fakta Seputar Makanan Kotor

 Mitos dan Fakta Seputar Makanan Kotor

BIBLIOTIKA - Anda pasti pernah mendengar ungkapan “belum lima menit” yang berhubungan dengan makanan yang jatuh ke lantai. Ungkapan itu menjadi terkenal setelah digunakan dalam iklan sebuah produk pembersih lantai. Jika di Indonesia ungkapan yang terkenal adalah “belum lima menit”, di luar negeri juga ada ungkapan yang mirip, tapi lebih singkat, yaitu “belum lima detik”.

Studi observasi yang pernah dilakukan menyangkut hal ini membuktikan bahwa sekitar 70 persen wanita dan 56 persen pria percaya pada aturan tersebut. Ketika makanan mereka terjatuh, mereka akan mengambilnya kembali dan memakannya, selama waktu jatuhnya di lantai belum mencapai lima detik.

Asal usul “belum lima menit” atau “belum lima detik” itu bisa ditelusuri ke masa lampau, salah satunya ke zaman Genghis Khan, pendiri kerajaan Mongol. Pada masanya, Genghis Khan memberlakukan aturan bahwa makanan yang terjatuh masih dapat dimakan kembali jika belum mencapai 12-20 jam. Dari zaman ke zaman, seiring bertambahnya pengetahuan, khususnya ilmu kesehatan, aturan itu menjadi semakin singkat. Jika di masa lalu 12 jam masih dianggap aman, sekarang hanya 5 menit atau 5 detik.

Di luar negeri, aturan “belum lima detik” menjadi populer, karena dianggap sebagai aturan tak tertulis mengenai makanan yang dapat diambil dan dimakan setelah terjatuh ke lantai, jika keberadaan makanan tersebut di lantai kurang dari lima detik. Karena mereka berpikir bahwa kuman atau bakteri akan membutuhkan waktu 6 detik untuk sampai pada makanan yang terjatuh.

Yang menjadi pertanyaan, apakah memang makanan masih aman dikonsumsi setelah jatuh ke lantai, jika waktunya belum lima detik atau belum lima menit?

Berdasarkan penelitian, 5 detik adalah waktu yang terlalu lama bagi kuman atau bakteri untuk masuk ke dalam makanan yang terjatuh. Ketika makanan Anda terjatuh ke lantai, bakteri akan langsung dapat menempel seketika. Setelah 5 detik, makanan itu pun bisa menjadi rumah bagi 150-8.000 bakteri, tak peduli terjatuh di permukaan apa pun. Selama 1 menit, jumlah bakteri yang ada bisa menjadi 10 kali lipat lebih besar. Sekarang bayangkan bagaimana jika mencapai 5 menit?

Meski lantai rumah kita terlihat sangat bersih, kita tidak bisa merasa aman sama sekali. Karena, ketika kita menginjak lantai, berbagai bakteri akan segera terkumpul, entah kita menggunakan sandal, sepatu, atau tanpa alas kaki. Penelitian bahkan menemukan bahwa 90 persen sepatu kita terkontaminasi bakteri berbahaya seperti E.coli (Escherichia coli), yang dapat mengakibatkan demam dan diare.

Yang juga perlu diperhatikan, ternyata bersih atau tidaknya permukaan lantai tidak berbanding lurus dengan banyak atau sedikitnya bakteri yang ada. Sebagai misal, jalan raya yang jelas kotor karena tiap hari dilewati banyak orang ternyata diketahui memiliki bakteri yang lebih sedikit dibandingkan bakteri yang ada di lantai dapur atau lantai restoran yang tampak bersih.

Karenanya, aturan “belum lima detik” atau “belum lima menit” sangat riskan jika digunakan sebagai pedoman kesehatan. Begitu makanan Anda terjatuh, tak peduli pada permukaan lantai rumah atau lantai trotoar, pada waktu seketika itu juga bakteri sudah langsung masuk ke makanan Anda. Dengan kata lain, hanya dibutuhkan waktu “0 detik” bagi bakteri untuk sampai pada makanan yang terjatuh.

Bagaimana pun, semua tempat di sekitar kita, bahkan semua benda di sekitar kita, terdapat banyak bakteri. Ponsel, lembaran uang, pegangan pintu, sampai dudukan toilet, adalah beberapa contoh hal-hal yang sering bersinggungan dengan kita, dan di semua barang tersebut terdapat banyak bakteri. Tidak hanya bakteri yang “jinak”, namun juga bakteri yang berbahaya semacam E.coli atau Salmonella.

Karena itu, makanan yang terjatuh ke lantai tidak bisa disebut lagi makanan yang bersih dan sehat, karena bagaimana pun sudah terkena bakteri. Dalam hal ini, kita tidak pernah tahu apakah bakteri yang menempelinya berbahaya atau tidak. Karenanya, jauh lebih aman membuangnya karena kotor, daripada memakannya karena dianggap masih bersih.