Mengenal Tiga Golongan Vegetarian

 Mengenal Tiga Golongan Vegetarian

BIBLIOTIKA - Pengikut gaya hidup vegetarian tidak pernah hilang dan bahkan cenderung bertambah dari tahun ke tahun seiring dengan kesadaran manusia akan kesehatan dan pengetahuan akan berbahayanya zat-zat makanan tertentu yang biasa dikonsumsi sehari-hari.

Bahkan pada masa-masa kini muncul semacam fenomena untuk menjadikan vegetarian sebagai semacam ‘gaya hidup modern’, hingga di banyak mall atau swalayan sekarang terdapat gerai-gerai yang khusus menyediakan makanan dan masakan untuk orang-orang yang menjalani gaya hidup vegetarian.

Faktanya memang penganut gaya hidup yang berpantang dengan daging dan sejenisnya ini tersebar dimana-mana di berbagai pelosok dunia. Di kaki pegunungan Himalaya, misalnya, ada sekelompok masyarakat yang bernama suku Hunza. Kelompok masyarakat ini sudah terkenal sebagai masyarakat yang menganut gaya hidup vegetarian dan itu sudah menjadi semacam gaya hidup yang mereka warisi secara turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Orang-orang dari suku Hunza ini tidak pernah mengkonsumsi bahan makanan kecuali bahan-bahan makanan dari sumber nabati. Makanan pokok mereka adalah gandum, kedelai dan buah aprikot.

Nah, fakta positif yang bisa diambil dari kenyataan hidup masyarakat ini adalah bahwa mereka (hampir seluruhnya) memiliki umur yang panjang, jarang menderita sakit, meskipun mereka termasuk para pekerja keras yang terbiasa membanting tulang setiap harinya. Fenomena yang tak jauh berbeda juga terjadi pada kehidupan suku Abkhasia yang ada di negara bagian Georgia, dan juga suku Vilkamba di Ekuador.

Pertanyaannya kemudian, benarkah seorang vegetarian memiliki kemungkinan untuk berumur panjang dibanding dengan orang-orang yang memakan daging?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita akan mempelajari terlebih dulu tentang apa yang disebut sebagai ‘vegetarian’.

Secara garis besar, vegetarian terbagi dalam beberapa macam, dan di dalamnya terdapat tiga golongan besar, yaitu:

Vegetarian Vegan

Kelompok pertama ini adalah ‘vegetarian murni’ yang benar-benar menghindari segala macam makanan yang bersumber dari hewan, termasuk telur dan olah-olahan lainnya yang berasal dari hewan, seperti susu, yoghurt, mentega dan semacamnya.

Orang-orang yang tergolong sebagai vegetarian vegan ini benar-benar murni hanya memakan sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan dan semacamnya.

Semi Vegetarian

Golongan ini adalah orang-orang yang hanya berpantang terhadap daging merah, semacam sapi, kerbau, kambing dan semacamnya. Namun mereka tetap mengkonsumsi hewan-hewan lain semacam ikan, daging unggas seperti ayam, bebek, termasuk juga telur yang dihasilkan dari ayam atau bebek.

Vegetarian Temporer

Yang disebut sebagai vegetarian temporer alias vegetarian sementara ini adalah orang-orang yang menjalani gaya hidup vegetarian, namun sewaktu-waktu masih juga mau mengkonsumsi daging-dagingan. Misalnya saja pada waktu pesta atau acara tertentu dimana di dalamnya disuguhkan masakan yang terbuat dari daging, mereka ‘libur’ dari gaya hidup vegetariannya.

Namun di luar itu mereka tetap menjalani gaya hidup vegetariannya, dimana mereka hanya mengkonsumsi makanan yang terdiri dari buah-buahan atau sejenisnya. Konon, kelompok ketiga inilah yang terbesar di anara dua kelompok vegetarian lainnya.

Hakikatnya, sistem pencernaan manusia secara alami mendukung gaya hidup vegetarian. Meskipun manusia tidak memiliki saluran kantong ganda seperti hewan pemamah biak, namun (percaya atau tidak) manusia memiliki ukuran usus yang panjangnya sama dengan hewan-hewan pemamah biak itu. Apabila seluruh lipatan dinding usus diukur, maka panjangnya adalah sekitar sepuluh kali lipat dari panjang tubuh. Kondisi alamiah seperti itulah yang menjadikan sistem tubuh manusia lebih memungkinkan (lebih baik) jika mencerna bahan-bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dibanding yang berasal dari hewan.

Sel-sel yang terdapat di dalam tumbuhan memiliki dinding yang kuat sehingga ketika masuk ke dalam tubuh akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam mencernanya. Keadaan ini sesuai dengan kondisi alat-alat pencernaan yang ada di dalam tubuh manusia.

Sebaliknya, bahan-bahan makanan yang berasal dari hewan tidak memiliki dinding sel, sehingga ketika masuk ke dalam tubuh menjadi sangat mudah dicerna—dan jika bahan makanan hewani ini terlalu lama berada di dalam usus maka akan bisa membahayakan karena zat-zat penting dari makanan tersebut akan mengalami kerusakan yang kemudian akan meracuni tubuh. Jadi secara fisiologis, manusia sesungguhnya adalah seorang vegetarian.