Memahami Pengaruh Makanan terhadap Tubuh

Memahami Pengaruh Makanan terhadap Tubuh

BIBLIOTIKA - Tubuh manusia selalu membutuhkan serat dari makanan yang dikonsumsinya, karena serat inilah yang memiliki fungsi sebagai ‘alat’ pencernaan sekaligus pembuangan. Jika tubuh mengalami kekurangan serat, maka fungsi pencernaan dan pembuangan pun menjadi terganggu karenanya.

Serat makanan ini terbagi menjadi dua macam, yaitu serat kasat dan serat makanan. Serat makanan atau dietary fiber tidak terdapat pada semua jenis makanan; hanya jenis-jenis makanan tertentu saja yang mengandung serat, itu pun dengan jumlah yang berbeda-beda.

Serat makanan yang memiliki fungsi melancarkan pencernaan dan pembuangan ini paling banyak terdapat di dalam sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat ini, sebagaimana yang telah disinggung di atas, memiliki fungsi yang penting bagi tubuh, karena apabila terjadi gangguan pada pencernaan, maka makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh pun tidak akan terserap dengan baik oleh tubuh.

Dengan kata lain, apa yang kita makan kemudian hanya akan dikeluarkan kembali dari tubuh karena kurangnya fungsi pencernaan, dan jika ini terjadi secara terus-menerus maka tubuh pun menjadi kekurangan nutrisi. Kalau keadaan kekurangan nutrisi ini terjadi secara terus-menerus, maka yang terjadi kemudian adalah tubuh menjadi tak memiliki tenaga atau energi, lesu, mudah lelah dan seperti tidak memiliki semangat. Di sisi lain, apabila terjadi serangan dari virus atau bakteri ke dalam tubuh, maka tubuh pun tidak mampu memberikan perlawanan yang memadai sebagaimana mestinya.

Inilah yang menjadi jawaban mengapa ada orang-orang tertentu yang makan dalam jumlah banyak namun merasa tidak memperoleh manfaat dari makanan yang dikonsumsinya. Mereka memasukkan makanan ke dalam tubuh dengan harapan untuk memperoleh energi baru dari makanan yang dikonsumsinya, namun yang terjadi malah perasaan lesu dan tidak bertenaga.

Ada pula orang-orang tertentu yang terbiasa mengkonsumsi makanan dengan hanya mempertimbangkan selera atau kepuasan lidah namun tidak mempertimbangkan manfaatnya (atau madharatnya) bagi tubuh. Orang-orang ini paling suka memanjakan lidahnya dengan masakan-masakan restoran atau makanan-makanan siap saji yang memang enak dilihat dan enak di lidah. Namun yang terjadi kemudian pada orang-orang semacam ini adalah apa yang sekarang terkenal dengan sebutan ‘kolesterol’.

Ya, kolesterol adalah ‘sahabat karib’ bagi orang-orang yang terbiasa memanjakan lidahnya dengan makanan atau masakan yang hanya enak di lidah namun belum tentu pula enak di tubuh. Saat ini, kolesterol sudah menjadi semacam ‘selebriti’ yang dikenal oleh hampir semua golongan masyarakat.

Kolesterol berasal dari bahasa latin, penggabungan dari dua kata; chole (yang berarti empedu) dan stereol (yang berarti padat). Kolesterol memang berbentuk seperti kristal padat berwarna putih. Nah, berlawanan dengan serat makanan, kristal padat yang bernama kolesterol ini hanya terdapat pada sel hewan dan manusia.

Di semua jenis tumbuhan tidak pernah dijumpai kolesterol, sesedikit apapun. Karenanya, jika Anda menginginkan terbebas dari gangguan kolesterol, mulailah mengganti konsumsi daging yang berasal dari hewan dengan konsumsi yang berasal dari tumbuhan.

Sumber kolesterol yang paling tinggi bisa dijumpai pada keju (400 miligram / 100 gram), otak sapi (2000 miligram / 100 gram), kuning telur (275 miligram / butir), dan mentega (400 miligram / 100 gram).

Semakin banyak orang mengkonsumsi bahan-bahan makanan yang mengandung kolesterol tinggi, maka semakin besar pula kemungkinan mengendapnya kristal-kristal padat kolesterol pada pembuluh darah, dan ini akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Muaranya, penyempitan pembuluh darah yang diakibatkan oleh kolesterol ini kemudian mengakibatkan penyakit yang sekarang disebut sebagai ‘jantung koroner’.