Keadilan dan Kemanusiaan

Keadilan dan Kemanusiaan

BIBLIOTIKA - Manakah yang lebih penting, keadilan atau kemanusiaan? Manakah yang lebih perlu dibela, keadilan atau kemanusiaan?

Dulu, saya tidak terlalu memikirkan hal itu, karena mempersepsikan keadilan dan kemanusiaan sebagai hal yang sama, atau dua hal yang tak berbeda. Tetapi, makin lama memikirkan, saya seperti melihat bahwa keadilan dan kemanusiaan adalah hal berbeda. Atau, dalam kasus tertentu, keadilan dan kemanusiaan tidak seiring sejalan. Ada putusan keadilan yang tidak berperikemanusiaan, dan ada prinsip kemanusiaan yang tidak adil.

Mari bayangkan kasus fiktif berikut. Seorang wanita menikah dengan seorang lelaki. Selama perjalanan berumah tangga, sering terjadi kasus kekerasan, dan si wanita terus menerus menjadi korban KDRT. Hampir setiap hari si lelaki marah dengan berbagai sebab dan latar belakang, dan dia menjadikan si wanita sebagai lampiasan kemarahan. Selama bertahun-tahun si wanita terus teraniaya, tanpa bisa melawan, bahkan pasrah dengan nasibnya.

Jadi, nyaris setiap hari, si wanita menerima pukulan, tamparan, lemparan barang, dan semua itu meninggalkan luka demi luka yang nyaris tak pernah sembuh. Satu luka bekas penganiayaan mengering, penganiayaan lain datang dan menimbulkan luka baru. Bekas memar yang kemarin mulai hilang, dan memar baru muncul menggantikan. Begitu terus menerus. Luka demi luka, siksa demi siksa, air mata demi air mata.

Selama bertahun-tahun, si wanita merasa tak berdaya. Dia sudah tidak memiliki orangtua untuk mengadu—ayah dan ibu kandungnya telah meninggal. Dia pernah datang kepada kakak dan adiknya, sekadar untuk berbagi rasa, namun kakak dan adiknya lama-lama bosan menerima, dan terkesan tak peduli lagi dengan nasibnya. Bagaimana pun, kakak dan adiknya telah punya keluarga sendiri, dan mereka pun telah sangat sibuk memikirkan keluarga mereka sendiri.

Si wanita pernah mencoba membicarakan kekerasan suaminya pada tetangga yang dipercaya, dan si tetangga menyarankan agar dia melaporkan pada polisi. Dengan segala kenekatan, si wanita pun melaporkan suaminya pada polisi. Namun polisi hanya memberikan jawaban basa-basi, menyatakan bahwa masalah dalam rumah tangga adalah hal biasa, dan bla-bla-bla. Bahkan, ketika suaminya tahu dia melapor pada polisi, penganiyaaan yang dilakukannya semakin parah.

Jadi, si wanita merasa tidak memiliki siapa pun untuk mengadu, untuk meminta tolong, atau mendapat perlindungan. Dia harus menghadapi nasibnya sendiri, luka-lukanya sendiri, dan tak bisa berharap uluran tangan orang lain. Suami yang diharapkan dapat memberi ketenteraman justru menjadi monster yang setiap hari melukai dan menyakiti. Dan tahun demi tahun berganti, luka-luka terus menganga, darah terus mengalir, air mata semakin getir.

Hingga suatu peristiwa datang. Suatu malam, seperti malam-malam lain, si suami pulang ke rumah sambil marah-marah seperti biasa. Dengan nada memerintah, dia meminta si wanita—istrinya—untuk mengambilkan minum dan lain-lain. Si wanita, seperti hari-hari lain, mematuhi permintaan si lelaki, dan berharap kali ini tidak ada lagi penganiayaan. Tapi harapan tinggal harapan.

Malam itu, seperti biasa, si lelaki sedang kesal, dan dia kembali melampiaskan kekesalan pada istrinya. Kembali si wanita menghadapi pukulan, tendangan, tamparan, dan berbagai sikap merendahkan. Puncaknya, si lelaki membenturkan kepala si wanita ke dinding, dan si wanita pingsan. Sementara darah dari luka-luka di tubuhnya merembes membasahi pakaian.

Si wanita tidak tahu berapa lama dia pingsan. Yang jelas, saat tersadar dari pingsan, dia mendapati tubuhnya terasa remuk, sementara pakaiannya basah oleh darah, dan wajahnya bersimbah air mata. Hanya tekad yang mampu membuatnya bangkit, dan berdiri, dan melangkah ke dapur... tekad untuk mengakhiri semua penderitaan yang dihadapinya.

Dia mengambil pisau di dapur, masuk ke kamar, dan mendapati suaminya sedang mendengkur dalam tidur. Dengan keyakinan yang mantap, dia hunjamkan pisau ke perut suaminya, lagi, lagi, dan lagi. Si suami sempat tersadar, dan terbelalak, tapi pisau itu terus menghunjam dan merobek dan mencabik-cabik perutnya. Darah muncrat ke mana-mana. Si suami tewas dengan perut menganga.

Kita tahu kelanjutan cerita ini. Kita bahkan bisa membayangkan headline-headline di berbagai media yang sangat provokatif, bahkan afirmatif.

Si wanita kemudian ditangkap polisi, diperiksa dan ditanya macam-macam, ditahan, lalu diajukan ke pengadilan. Setelah itu, pengadilan memutuskan perbuatan si wanita sebagai pembunuhan, dengan hukuman penjara. Pledoi pengacara berbusa-busa, tuntuan jaksa tak kalah berbusa-busa. Lalu Hakim memutuskan—si wanita masuk penjara 15 tahun untuk menjalani hukuman. Masyarakat senang, karena keadilan telah ditegakkan.

Tapi benarkah begitu...?

Adilkah menghukum seseorang yang melakukan pembunuhan dengan tujuan untuk mengakhiri penderitaannya? Adilkah memenjarakan seorang wanita yang terpaksa menikam suaminya, karena tak tahan lagi menerima luka dan penganiayaan yang tiap hari diterimanya? Kalau pun putusan Hakim memenjarakan si wanita dengan alasan keadilan, lalu ke mana kemanusiaan?

Manakah yang lebih penting, keadilan atau kemanusiaan? Manakah yang lebih perlu didahulukan, keadilan atau kemanusiaan? Jika keadilan dibentuk dan dihormati demi melestarikan kemanusiaan, lalu ke mana kemanusiaan ketika putusan pengadilan tidak memperhitungkan kemanusiaan?

“Kemanusiaan yang adil dan beradab,” kata sila kedua Pancasila. Tetapi, tampaknya, negeri ini masih gagap dalam mewujudkan hal ideal itu.

Masih ingat kasus tukang ojek salah tangkap, yang kemudian sempat dipenjara satu tahun sebelum akhirnya dibebaskan? Masih ingat kasus orang dihukum mati akibat tuduhan pembunuhan yang sebenarnya tidak dilakukannya? Dua kisah faktual itu hanya sedikit di antara banyak kisah serupa, akibat gagapnya negeri ini dalam menatap keadilan dan kemanusiaan.

Ketika suatu kasus kejahatan terjadi, apalagi jika kasus itu disorot media, kepolisian akan merasa ditekan. Kasus dugaan pelecehan seks di JIS atau pembunuhan Angeline, misalnya. Akibat membesarnya kasus-kasus tersebut di media, pejabat-pejabat tertentu biasanya sampai turun tangan—mereka akan menelepon petugas di peringkat atas kepolisian, lalu si pejabat polisi akan menekan bawahannya. Akibatnya, si bawahan kadang bekerja tidak lagi dengan motivasi menemukan si penjahat, tapi asal menemukan tersangka penjahat.

Dari situlah berbagai tindak kekerasan dan penganiyaan polisi terjadi, bahkan terhadap orang-orang yang bisa jadi tidak bersalah. Asal telah menangkap seseorang—atau beberapa orang—yang dapat dinilai sebagai tersangka, polisi kemudian berupaya mendapat pengakuan, dan dalam proses itu sering kali terjadi tindak penganiayaan.

Mengapa polisi sampai melakukan tindak kekerasaan dan penganiayaan terhadap orang-orang yang disangka melakukan kejahatan? Karena mereka butuh mendapatkan pelaku! Setelah pelaku kejahatan didapat, mereka dapat mengajukannya ke pengadilan, dan mereka bisa menganggap tugas mereka selesai. Setelah itu, biarkan pengadilan yang memutuskan. Setelah palu pengadilan diketuk, keadilan pun telah ditegakkan.

Jadi, apa sebenarnya yang kita cari dan pedulikan? Keadilan, atau kemanusiaan? Manakah sebenarnya yang kita prioritaskan? Keadilan, atau kemanusiaan? Lebih penting manakah sebenarnya dalam hidup kita? Keadilan, atau kemanusiaan? Akhirnya, apa sebenarnya tugas polisi, dan jaksa, dan hakim, dan pengadilan, ketika berhadapan dengan kejahatan? Keadilan, atau kemanusiaan?

Memang sungguh tidak adil jika seseorang melakukan kejahatan tapi dia tidak dihukum. Tetapi jauh lebih tidak adil menghukum seseorang, padahal dia tidak melakukan kejahatan apa pun. Begitu pun, sungguh tidak berperikemanusiaan, jika kita menghukum berat seseorang atas kejahatan kecil yang dilakukannya. Tetapi, lebih tidak berperikemanusiaan, jika kita menghukum seseorang, padahal dia tidak melakukan kejahatan apa pun.

Ketika suatu kasus kejahatan terjadi, kita senang saat mendengar pelakunya telah ditangkap, kemudian diadili, dan dihukum penjara. Kita senang, karena menganggap keadilan telah ditegakkan. Tapi benarkah begitu?

Bagaimana jika pelaku yang ditangkap dan dihukum ternyata hanyalah korban yang salah tangkap? Bagaimana kalau seseorang rela mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya, akibat disiksa dan dianiaya? Bagaimana jika orang yang kita anggap pelaku kejahatan, ternyata justru tak bersalah apa-apa?

Apa sebenarnya yang kita cari? Keadilan, atau kemanusiaan? Manakah yang lebih kita pentingkan? Terbukanya suatu kasus kejahatan dengan gamblang, ataukah buru-buru mendapatkan tersangka? Dan apa yang diprioritaskan pengadilan? Menghukum seseorang akibat kejahatan yang dituduhkan kepadanya, ataukah menghormati manusia dan membela kemanusiaan?

Tak pernah ada keadilan tanpa manusia. Sayangnya, kemanusiaan kadang hilang saat berhadapan dengan pengadilan.