Roman Abramovich, dari Bisnis, Politik, Sampai Sepak Bola

Roman Abramovich, dari Bisnis, Politik, Sampai Sepak Bola

BIBLIOTIKA - Roman Abramovich kini terkenal sebagai salah satu raja minyak Rusia, dan namanya disebut-sebut di seluruh dunia ketika dia membeli klub sepak bola Chelsea. Padahal, masa kecil Roman Abramovich tidak bisa dibilang menyenangkan. Ibunya meninggal dunia ketika ia berusia 2 tahun. Dua tahun kemudian, ayahnya tewas dalam sebuah kecelakaan konstruksi. Karena kenyataan itu, Roman Abramovich pun hidup bersama kakeknya di Lithuania, dengan iklim Arktik yang dingin.

Lahir pada 24 Oktober 1966 di Saratov, Rusia, Roman Abramovich sempat mengenyam pendidikan di Moscow State Auto Institute. Pada 1980-an, sambil kuliah, dia membuka usaha dengan menjual souvenir di apartemennya yang kecil di Moskow. Usaha itu, meski kecil-kecilan, membuka wawasan bisnis Roman Abramovich. Dari situlah dia mulai mencoba-coba usaha lain—sebagian berhasil, sebagian gagal.

Pada awal 1990-an, Roman Abramovich menekuni usaha perantara jual beli. Usaha itu bisa dibilang sukses, sampai dia mendirikan perusahaan khusus yang menangani bisnis tersebut. Titik balik usaha itu mulai terjadi, ketika Roman Abramovich mulai menangani jual beli perusahaan minyak. Dari situ pula, dia mulai melihat bahwa bisnis minyak sangat potensial, dan dia tertarik memasukinya.

Pada 1995, dia mengajak seorang mitra bernama Boris Berezovsky, untuk membeli saham di perusahaan minyak Sibneft. Mereka patungan mengumpulkan 100 juta dollar, dengan tujuan agar saham yang mereka miliki menjadi saham mayoritas. Tidak lama kemudian, investasi saham mereka melonjak menjadi 150 juta dollar, dan Roman Abramovich beserta Boris Berezovsky mendapatkan untung besar.

Lima tahun kemudian, pada 2000, Boris Berezovsky meninggalkan Rusia, dan dia menjual saham miliknya kepada Roman Abramovich. Sejak itu, Roman Abramovich pun menjadi penguasa tunggal saham terbesar di perusahaan Sibneft. Kenyataan itu juga menjadikan Roman Abramovich sebagai miliuner baru, karena Sibneft berkembang dengan pesat. Karena itu pula, Roman Abramovich masuk dalam jajaran orang-orang terkaya di dunia, dengan kekayaan sebesar 9,1 miliar dollar.

Selain aktif di bidang bisnis, Roman Abramovich juga aktif di bidang politik, meski mungkin dia tidak menginginkan. Pada 1999, dia melakukan aktivitas amal di wilayah Chukotka, yang merupakan daerah miskin dan dingin di Rusia. Di sana dia mendirikan yayasan amal yang membantu masyarakat. Satu tahun kemudian, pada 2000, warga Chukotka memilihnya menjadi gubernur di sana.

Sejak menjadi gubernur di Chukotka, Roman Abramovich diketahui telah mengeluarkan jutaan poundsterling untuk membantu pengembangan sistem pendidikan, rumah sakit, serta perguruan tinggi di sana. Dengan perusahaan minyak yang dimilikinya, Roman Abramovich juga membuka lapangan kerja di Chukotka, sehingga penduduk setempat bisa mendapatkan pekerjaan.

Pada 2005, saat masa jabatannya sebagai gubernur selesai, Roman Abramovich bermaksud mengundurkan diri dan melepaskan jabatan itu. Tapi presiden Rusia, Vladimir Putin, meminta Roman Abramovich tetap menjadi gubernur di Chukotka, dan warga di sana juga tampaknya tetap ingin dipimpin oleh Roman Abramovich. Jadi, Roman Abramovich akhirnya kembali menjabat gubernur di daerah tersebut.

Karirnya dalam bisnis dan dalam pemerintahan mungkin tidak terlalu populer di luar Rusia. Namanya baru diperbincangkan banyak orang di dunia, saat dia membeli klub sepak bola Inggris, Chelsea Football Club, pada 2003. Sejak itu, Roman Abramovich pun menjadi salah satu miliuner yang juga memiliki klub sepak bola terkenal dunia.