Robert Budi Hartono, Orang Terkaya Indonesia

 Robert Budi Hartono, Orang Terkaya Indonesia

BIBLIOTIKA - Robert Budi Hartono lahir pada 28 April 1940 di Semarang, Indonesia, dengan nama asli Oei Hwie Tjhong. Dia orang Indonesia keturunan Cina, yang saat ini memimpin salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, yaitu Djarum Group. Djarum Group didirikan oleh ayah Robert Budi Hartono, yaitu Oei Wie Gwan. Ketika sang ayah meninggal dunia, perusahaan itu diwariskan kepada dua anaknya, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.

Sejarah perusahaan Djarum Group dimulai pada 1951, ketika Oei Wie Gwan membeli usaha kecil dalam bidang kretek, bernama Djarum Gramophon. Setelah menjadi miliknya, Oei Wie Gwan mengubah nama usaha kecil itu menjadi Djarum, dan mulai memasarkan kretek dengan merek Djarum. Usaha itu sukses di pasar Indonesia. Sampai kemudian, pada 1963, pabriknya mengalami kebakaran yang memusnahkan hampir semua yang ada. Tidak lama kemudian, Oei Wie Gwan meninggal dunia.

Dua anak Oei Wie Gwan, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, mewarisi pabrik ayahnya yang bisa dibilang tinggal puing. Mereka berdua lalu membangun kembali pabrik itu, dan memodernisasi perusahaan yang telah dirintis sang ayah. Sejak itu, Djarum kembali memproduksi kretek yang dijual di pasar Indonesia.

Memasuki 1972, Djarum mulai mengekspor produknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian, pada 1975, Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertama yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981. Sejak itu, Djarum pun tumbuh menjadi perusahaan raksasa.

Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan rokok itu mulai berinvestasi dan merambah berbagai sektor. Robert Budi Hartono, dengan Group Djarum yang dipimpinnya, melebarkan sayap antara lain ke bidang perbankan, properti, agrobisnis, elektronik, dan multimedia. Diversifikasi bisnis dan investasi yang dilakukan Group Djarum itu memperkokoh imperium bisnisnya.

Dalam bidang perbankan, Group Djarum memiliki saham terbesar di Bank Central Asia (BCA). Melalui Farindo Holding Ltd., Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono menguasai 51 persen saham BCA. Dalam bidang agrobisnis, mereka memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 65.000 hektar di Kalimantan Barat sejak tahun 2008. Mereka bergerak di bawah payung Hartono Plantations Indonesia, salah satu bagian dari Group Djarum.

Di bidang properti, banyak proyek yang dijalankan di bawah kendali Robert Budi Hartono, dan yang paling besar adalah mega proyek Grand Indonesia yang dimulai pada 2004 dan selesai pada 2008. Proyek itu mencakup hotel (renovasi Hotel Indonesia), pusat perbelanjaan, gedung perkantoran 57 lantai, dan apartemen. Total nilai investasinya mencapai 1,3 triliun rupiah.

Sementara dalam bidang elektronik, mereka menjalankan Polytron yang telah beroperasi selama lebih dari 30 tahun. Polytron semula memproduksi barang-barang elektronik semisal AC, kulkas, produk video dan audio, dan dispenser. Kini, Polytron juga mulai memproduksi ponsel.

Robert Budi Hartono juga mendirikan perusahaan baru, Ventures Global Digital Prima, dan melalui perusahaan itu dia membeli saham Kaskus, situs paling populer di Indonesia. Terakhir, karena menyukai bulu tangkis, Robert Budi Hartono juga mendirikan PB Djarum pada 1969. Salah satu pemain bulu tangkis yang berasal dari PB Djarum adalah Liem Swie King, yang terkenal dengan julukan “King Smash”.

Dengan kerajaan bisnisnya yang bergerak di banyak bidang, Robert Budi Hartono menjadi orang terkaya di Indonesia, dan menjadi salah satu orang terkaya di dunia, dengan kekayaan mencapai 9 miliar dollar.