Perspektif dan Batas Wawasan

 Perspektif dan Batas Wawasan

BIBLIOTIKA - Meski sama-sama Korea, tapi Korea Utara jauh berbeda dengan Korea Selatan. Sebagai sebuah negara, Korea Utara sangat tertutup, dan rakyat negara itu sangat patuh pada penguasa. Bagi rakyat Korea Utara, penguasa pasti benar, jadi mereka akan melakukan apa pun yang dikehendaki penguasa. Mungkin kepatuhan itu dilandasi rasa takut. Tapi ada faktor lain yang ikut mendukung kepatuhan rakyat Korea Utara kepada penguasa. Yaitu terbatasnya kesempatan untuk melihat semesta di luar negaranya.

Jadi, bagi rakyat Korea Utara, dunia adalah tempat mereka berada. Tidak ada dunia lain yang bisa dilihat, sehingga mereka tidak bisa membandingkan keadaan diri mereka dengan dunia luar. Karena wawasan yang terbatas pula, mereka pun terkurung dalam ketidaktahuan sendiri, dan—tidak menutup kemungkinan—menganggap diri sendiri sudah baik, cukup baik, atau bahkan sangat baik. Kenyataannya, rezim Korea Utara memang berhasil menanamkan kepercayaan pada rakyat bahwa merekalah pusat semesta, bahwa negara mereka adalah yang termakmur di dunia.

Kalau saja rakyat Korea Utara melihat tetangganya di Korea Selatan, mereka pasti akan terkejut, karena akan menyadari betapa miskinnya mereka, betapa tertinggalnya mereka, betapa terbelakangnya mereka.

Kondisi di Korea Utara bisa menjadi analogi yang bagus bagi wawasan kita dalam banyak hal, termasuk dalam hal membaca buku. Teman kita yang sama sekali tak tersentuh dunia buku mungkin menganggap Buku A sangat bagus. Sementara teman kita yang lain, yang tiap hari bersentuhan dengan dunia buku, menganggap Buku A justru sangat buruk. Tetangga kita yang membaca 5 buku per tahun menilai Buku Z sangat bagus, sementara tetangga kita yang lain, yang membaca 50 buku per tahun, menilai Buku Z sangat buruk.

Perbedaan dunia dan batas wawasan mempengaruhi cara penilaian. Tentu saja “penilaian” dalam hal ini menjadi sesuatu yang sama-sama subjektif, karena berkaitan dengan latar belakang masing-masing. Tetapi, bagaimana pun, penilaian yang (lebih) baik didasari wawasan yang sama lebih baik.

Persentuhan kita dengan buku, kenyataannya, memang tak bisa dilepaskan dari lingkungan atau pergaulan, atau bahkan wawasan. Buku apa yang kita baca, penulis mana yang kita kenal, sering kali dipengaruhi oleh wawasan kita, yang ikut terbentuk oleh lingkungan dan pergaulan kita. Dalam hal itu, setiap orang—khususnya pembaca buku—akan tumbuh dan terus tumbuh, selama mereka mau membuka diri pada dunia luar, yakni buku-buku lain yang mungkin belum masuk dunia mereka.