Memahami Psikologi Lelaki

Memahami Psikologi Lelaki

BIBLIOTIKA - Kita tentunya sudah akrab dengan apa yang disebut sebagai ‘katurangganing wanita’ atau literatur yang membahas tentang seluk-beluk kaum perempuan yang mengungkapkan watak dan karakternya. Selama bertahun-tahun para perempuan bertanya-tanya, mengapa ada literatur yang disebut ‘katurangganing wanita’ namun tak pernah ada ‘katurangganing lelaki’ atau ‘katurangganing pria’?

Hal itu terjadi, mungkin disebabkan oleh karena alasan kultur yang selama ini berlaku di negara atau di dalam kebudayaan kita, yakni kultur yang menempatkan lelaki sebagai pihak yang ‘memilih’ dan perempuan sebagai pihak yang ‘dipilih’. Itulah sebabnya yang kemudian menjadikan orang-orang (yang menulis literatur ‘katurangganing wanita’) lebih menitikberatkan penelitian mereka terhadap kaum perempuan dibanding kaum lelaki.

Jadi, kalau ditinjau dari sudut pandang ini, maka literatur ‘katurangganing wanita’ itu tak ubahnya seperti ‘buku manual’ atau buku pegangan lelaki dalam menilai watak dan karakter seorang perempuan sebelum ia ‘memilihnya’.

Namun sekarang jaman telah berubah dan kultur antara ‘memilih’ dan ‘dipilih’ itu sepertinya sudah tak relevan lagi jika diterapkan secara konservatif. Perempuan telah mengenal apa yang disebut sebagai emansipasi, kesadaran akan kesetaraan gender, dan perempuan pun bukan lagi pihak yang hanya pasif berdiam diri untuk menunggu ‘dipilih’ lelaki.

Seiring dengan kebebasan yang telah diraih oleh kaum perempuan (kebebasan untuk menyatakan kesadaran dan kemandirian gendernya) perempuan juga menyadari bahwa dia juga memiliki hak untuk memilih, alih-alih hanya sekedar menjadi ‘benda’ atau objek yang dipilih. Karenanya, pada saat ini, perempuan juga punya hak untuk menerima atau menolak setiap pinangan yang datang kepadanya; perempuan juga memiliki hak untuk secara aktif memilih pasangan bagi hidupnya; dan di dalam aktivitas memilih itu, perempuan pun memiliki hak untuk memilih yang ‘terbaik’.

Karenanya pula, rasanya relevan kalau sekarang juga dibutuhkan suatu literatur yang dapat dianggap sebagai semacam ‘katurangganing lelaki’ agar kaum perempuan juga memiliki semacam pengetahuan untuk dapat memilih pasangannya secara lebih baik dalam upaya untuk mendapatkan yang ‘terbaik’.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar isu KDRT atau kekerasan dalam rumahtangga. Seringkali, kekerasan dalam rumahtangga dilakukan oleh lelaki (pihak suami) terhadap perempuan (pihak istri), meskipun tidak menutup kemungkinan kekerasan dalam rumahtangga itu juga terjadi dari pihak orangtua terhadap anaknya. Mengapa kekerasan dalam rumahtangga semacam itu bisa terjadi?

Jawabannya tentu saja tidak semata-mata karena kondisi rumahtangga yang mungkin tengah kacau karena himpitan ekonomi (sebagai misal) sebab ada begitu banyak keluarga lain yang hidup pas-pasan namun dapat menjalani kehidupan berumahtangga secara damai. Alasannya tentu juga bukan semata-mata karena frustrasi sesaat atau stres yang diakibatkan oleh karena sesuatu hingga menyebabkan seorang suami menganiaya istrinya.

Apabila ditinjau secara lebih mendalam, kekerasan (dalam hal ini kekerasan dalam rumahtangga) seringkali lebih disebabkan oleh karena watak dan karakter seorang lelaki yang telah tertanam begitu dalam di dalam dirinya sehingga menyebabkannya melakukan hal-hal semacam itu (menganiaya istrinya) dengan alasan apapun.

Pertanyaannya adalah; mengapa perempuan harus hidup dengan seorang lelaki yang kemudian hanya memberinya kesengsaraan dan penderitaan? Dan pertanyaan yang lebih mendalam lagi adalah; mengapa seorang perempuan sampai memilih seorang lelaki yang kemudian membuatnya menjadi korban kekerasan dalam rumahtangganya? Bukankah ketika seorang perempuan memilih seorang lelaki untuk hidup bersamanya dia menginginkan kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian...?

Salah satu jawaban dari masalah itu adalah karena perempuan ‘salah memilih’—meskipun ini tentu saja bukan jawaban satu-satunya.

Sebagaimana seorang lelaki memilih seorang perempuan untuk mendampingi hidupnya sampai akhir hidup, perempuan juga tidak bisa memilih seorang lelaki untuk menjadi pendamping hidupnya hanya dengan melihat tampilan fisiknya semata-mata. Ada hal-hal lain yang tak kasatmata di balik fisik itu yang juga harus dicermati sebelum menjatuhkan pilihan agar tidak salah pilih.

Dan penilaian atas watak serta karakter seorang lelaki seharusnya menjadi prioritas utama dalam menjatuhkan pilihan itu, karena watak serta karakter inilah yang seringkali menjadi sesuatu yang ‘abadi’, dalam arti tak bisa diubah, bahkan seringkali menjadi sesuatu yang permanen dalam diri seseorang.

Lebih dari empat abad yang lalu, Hippocrates, yang dianggap sebagai pakar kedokteran pertama di dunia, telah menyatakan hal itu—bahwa watak dan karakter seseorang adalah sesuatu yang telah tertanam dalam dirinya semenjak dilahirkan, dan sulit diubah, bahkan oleh pendidikan ataupun lingkungan hidupnya.

Keindahan fisik dan wajah yang rupawan mungkin semakin berubah dan berkurang seiring dengan bertambahnya usia, namun tidak dengan watak dan karakter. Karenanya, sekali lagi, pilihan atas watak dan karakter yang baiklah yang sesungguhnya perlu menjadi prioritas utama dalam menjatuhkan pilihan sebelum berakhir dengan penyesalan karena salah dalam memilih.