Lelaki dan Rahasia di Balik Profesinya (1)

  Lelaki dan Rahasia di Balik Profesinya

BIBLIOTIKA - Sudah menjadi rahasia yang umum bahwa seringkali libido lelaki mengalami penurunan seiring dengan makin menanjaknya usia perkawinan. Hal itu diketahui, baik oleh kaum lelaki sendiri, maupun juga oleh kaum perempuan. Menurunnya tingkat libido atau kegairahan yang terjadi pada diri lelaki ini bisa disebabkan oleh banyak hal; karena kejenuhan, penyakit tertentu, tingkat stres dan kesibukan, atau juga karena hal-hal lain yang bersifat psikis dan psikologis.

Richard Milsten, seorang urolog yang juga penulis buku The Sexual Male, menyatakan bahwa penurunan libido seorang lelaki itu terkadang juga disebabkan oleh, “kesadaran bahwa posisinya berada di bawah istri, baik dalam pekerjaan ataupun dalam penghasilan.”

Sementara Lawrence A. Kurdek, seorang psikolog dari Department of Psychology of Wisconsin University, menyatakan secara lebih jelas, bahwa penurunan libido seorang lelaki ini umumnya terjadi setelah delapan tahun usia pernikahan. Namun, “terkadang juga penurunan tingkat libido itu terjadi setelah masa bulan madu mereka usai,” tambahnya.

Dan penurunan tingkat libido itu akan terus terjadi secara berkala, yang pada akhirnya akan membuat lelaki semakin merasa ‘tak berdaya’ ketika bercinta dengan pasangannya. Penurunan tingkat libido yang kedua terjadi ketika sang istri mulai mengandung, dan selanjutnya setelah sang istri melahirkan. Hal itu terus berlanjut sampai pada usia ketujuh dalam perkawinan atau yang disebut sebagai ‘7-year-itch-effect’. Pada masa-masa inilah, menurut Lawrence A. Kurdek, seringkali timbul perselisihan yang tajam antara suami dengan istri.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.

Terlepas dari pengungkapan di atas, tingkat libido yang menurun dari seorang lelaki adalah sesuatu yang alamiah, dalam arti seorang lelaki memang tak bisa secara terus-menerus mempertahankan tingkat libidonya—semakin tua usia seorang lelaki maka tingkat vitalitasnya dalam hal seksual pun akan semakin menurun dan tak bisa mengharapkan terus-menerus memiliki vitalitas seperti yang pernah dicapainya ketika masih berusia muda.

Ketika hal tersebut mulai terjadi di dalam kehidupan suami-istri, maka dibutuhkan pemahaman, kesadaran serta rasa maklum dari kedua pihak agar masalah yang satu itu tidak kemudian menjadi masalah yang besar atau terlalu dirisaukan.

Apakah Anda pernah mendengar istilah ‘puber kedua’? Nah, apa yang disebut sebagai ‘puber kedua’ itu sebenarnya hanyalah mitos psikologis yang masih berkaitan dengan hal yang satu ini. ‘Puber kedua’ biasanya menghinggapi para lelaki yang berusia antara 40 tahunan, ketika si lelaki mulai mengalami tingkat penurunan libido yang amat drastis di dalam dirinya.

Akibat penurunan tingkat libido yang dirasakan drastis itu, sebagian lelaki kemudian berpikir bahwa dia mungkin akan dapat kembali memperoleh kegairahannya apabila bertemu dan bersama wanita lain. Inilah yang kemudian menyebabkan para lelaki ini mulai bertingkah seperti ‘pria puber’ yang mulai begitu memperhatikan penampilannya, dengan tujuan untuk dapat (berharap) menarik pandangan lawan jenisnya.

Jadi, apa yang disebut sebagai ‘puber kedua’ itu sesungguhnya bukanlah pengaruh hormonal sebagaimana yang terjadi pada lelaki-lelaki muda yang memang baru mengalami masa puber, namun lebih disebabkan oleh faktor psikologis; ketika si lelaki setengah baya ini menginginkan untuk dapat memperoleh kembali tingkat kegairahannya sebagaimana yang pernah ia rasakan dan ia miliki ketika masih muda. ‘Puber kedua’ itu bukan istilah medis sebagaimana puber dalam arti sesungguhnya, namun hanya mitos psikologis.

Baca lanjutannya: Lelaki dan Rahasia di Balik Profesinya (2)