Fast & Furious dan Tipuan Media (3)

 Fast & Furious dan Tipuan Media

BIBLIOTIKA - Semua orang memiliki rasa takut—itu benar, dan semua orang pasti tahu. Yang masih jarang diketahui, orang-orang paling penakut sering kali justru memiliki penampilan menakutkan!

Jadi, ketika menyaksikan film Fast & Furious, dan menyaksikan Vin Diesel serta Dwayne Johnson mengamuk di jalanan dan mengobrak-abrik sarang penjahat, kadang saya merasa dikibuli. Sejujurnya, saya tidak yakin dua orang itu—Vin Diesel dan Dwayne Johnson—benar-benar memiliki keberanian sebesar itu di dunia nyata. Hanya karena tipuan media, dalam hal ini film, kita percaya—benar-benar percaya—bahwa Vin Diesel serta Dwayne Johnson adalah pahlawan pemberani, sosok Hercules abad modern.

Media telah menipu kita, telah banyak menipu kita, khususnya dalam hal penampilan. Tidak hanya dalam penampilan fisik, tapi juga dalam penampilan lainnya.

Pada November 2010, terbit sebuah buku berjudul The Millionaire Next Door: The Surprising Secrets of America’s Wealthy. Buku yang kemudian menggemparkan dunia itu ditulis oleh Thomas J. Stanley. (Saat saya menulis catatan ini, buku tersebut masih bisa didapatkan di Amazon.com).

Untuk penulisan buku itu, Thomas Stanley melakukan riset terhadap banyak orang yang dikenal sebagai miliuner, yang memiliki uang dalam jumlah luar biasa, atau memiliki perusahaan raksasa dengan omset miliaran dollar. Dia bermaksud mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari para miliuner itu, dan hasilnya kemudian ia tulis dalam bukunya tadi, yang kemudian mencengangkan dunia.

Dalam penelitian Thomas Stanley, para miliuner itu ternyata menjalani gaya hidup yang jauh berbeda dengan kesan kita selama ini.

Dalam bayangan kita, seperti apakah kira-kira penampilan dan gaya hidup para miliuner? Pasti kita akan langsung menyebutkan hal-hal “hebat” semacam mobil mahal, rumah mewah, kapal pesiar, jet pribadi, dan penampilan yang tampak hebat. Kenapa kita berpikir seperti itu? Karena media mengatakan seperti itu!

Film-film, sinetron, telenovela, bahkan kisah-kisah dalam novel, terus mendoktrinasi kita bahwa orang-orang berduit yang disebut miliuner menjalani gaya hidup mewah, dengan wajah angkuh dan cerutu mahal, sampai yacht dan villa. Faktanya, berdasarkan penelitian Thomas Stanley terhadap banyak miliuner, orang-orang super kaya itu tidak menjalani gaya hidup semacam itu. Sebaliknya, mereka justru menjalani gaya hidup sederhana dengan tampilan bersahaja!

Orang-orang yang menjalani gaya hidup mahal dan penampilan “wah” biasanya hanya orang “setengah kaya”, “cukup kaya”, atau “baru kaya”. Mereka masih butuh penampilan untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka cukup kaya. Karenanya, mereka pun mengenakan jas mahal, mengendarai mobil mewah, dan membangun rumah megah. Tujuannya satu—meyakinkan dunia bahwa mereka kaya!

Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar kaya, atau super kaya, justru tidak menjalani gaya hidup semacam itu. Para miliuner yang bergelimang uang itu sudah tidak butuh pembuktian apa pun. Mereka tidak butuh dunia mengakui kekayaan mereka, karena kenyataannya bisa dibilang dunia sudah jadi milik mereka! Jadi, para miliuner sejati itu justru menjalani kehidupan sederhana, dengan penampilan bersahaja. Mereka tidak butuh pengakuan apa-apa.

Sudah melihat lilitan rahasia benang merahnya?

Orang-orang yang cukup penakut berusaha mati-matian membesarkan tubuh mereka, membuat penampilan mereka tampak kuat bahkan menakutkan, semata karena ingin menutupi ketakutan yang ada di dalam diri mereka! Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar pemberani tidak terlalu direpotkan penampilan—mereka sudah pemberani, tak peduli seperti apa pun penampilannya!

Orang-orang yang tidak terlalu kaya mati-matian menciptakan kesan kemewahan, dari pakaian mahal sampai kendaraan mewah, semata karena ingin menciptakan kesan agar dunia mengakui bahwa mereka kaya! Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar kaya tidak terlalu direpotkan penampilan—mereka sudah kaya, dan tak peduli apa kata dunia, toh dunia sudah jadi milik mereka!

Media telah lama menipu kita, film-film dan fantasi telah lama mendoktrinasi kita dengan keyakinan-keyakinan keliru dan pemahaman salah kaprah. Karenanya, kapan pun kita menonton Fast & Furious atau film-film semacamnya, saksikanlah semata sebagai film, dan tak usah terlalu percaya. Di dunia nyata, belum tentu memang seperti itu kenyataannya.