Fast & Furious dan Tipuan Media (2)

Fast & Furious dan Tipuan Media

BIBLIOTIKA - Jadi, setiap malam, si Kelud ini duduk di salah satu tempat di alun-alun, dan bocah-bocah di sana dengan patuh menyetor duit kepadanya. Usianya mungkin sekitar 25-an waktu itu—berkulit sawo matang, kurus, kecil, biasa memakai topi, dan terkesan pendiam. Semula, saya tidak paham bagaimana dia bisa dianggap sebagai pelindung kami. Tapi karena bocah-bocah di sana patuh kepadanya, saya pun ikutan. Setiap malam, kalau pas dapat duit cukup banyak, saya ikut setor upeti untuknya.

Sebenarnya, Kelud tidak jahat pada kami. Permintaan “upeti” darinya pun tidak bersifat wajib. Suatu malam, saat saya kebetulan dapat duit sedikit, dia mengatakan, “Kamu tidak harus setor kepadaku, kalau kebetulan tidak dapat uang, atau kalau pas duitmu pas-pasan.” Dia malah menawari rokok, dan kami merokok sambil saya mendengarkan “ceramahnya”. Dari obrolan pertama itu, saya sempat tahu, dia telah memulai “karir” di jalanan sejak kecil. Kelak, itu menjadi awal pertemanan kami di hari-hari selanjutnya.

Sampai suatu malam, terjadi peristiwa mengerikan.

Ceritanya, jalanan di sekitar pasar—yang jaraknya cukup jauh dari alun-alun—“dibersihkan” oleh Tibum. (Tibum atau Ketertiban Umum adalah pasukan penertib lingkungan, yang sekarang berubah nama menjadi Satpol PP). Anak-anak jalanan yang biasa mangkal di sekitar pasar kehilangan tempat mencari uang. Mereka harus menyingkir, jika tak ingin ditangkap petugas Tibum. Jadi, mereka pun kemudian berniat melakukan “invasi” ke alun-alun untuk merebut wilayah kami.

Invasi itu dipimpin ketua kelompok mereka—seorang lelaki mengerikan dengan tubuh tinggi besar, dengan wajah dan kata-kata yang sama kasar. Saya tidak tahu nama lelaki itu. Yang masih saya ingat, dia dan gerombolannya datang ke alun-alun, dan berkata pada salah satu bocah di sana, bahwa dia ingin berbicara dengan pemimpin kelompok kami. Kelud pun muncul, dan menemui lelaki itu. 

Malam itu menjelang pukul satu dini hari, dan alun-alun sudah sepi. Bocah-bocah berkumpul di salah satu bagian alun-alun, dan Kelud berkata pada pemimpin geng dari pasar, bahwa dia tidak akan memberikan wilayahnya untuk mereka.

Dalam ingatan saya, inilah yang dia katakan waktu itu, “Selama bertahun-tahun, kami mencari uang dengan damai di sini. Kami tidak mengganggu siapa pun, dan kami tidak ingin diganggu siapa pun. Anak-anak di sini sudah menganggapku pelindung mereka, dan mereka percaya kepadaku. Jadi, kalau kamu ingin mengambil wilayah ini, kamu perlu menyingkirkanku lebih dulu.”

Dia mengatakan itu dengan kalem, tanpa sikap mengintimidasi sedikit pun. Di sisi lain, pemimpin geng anak-anak pasar bersikap kasar, dengan ancaman-ancaman mengerikan. Sekilas, itu tampak seperti perang yang tak seimbang. Kelud bertubuh kecil, kurus, dengan penampilan dan kata-kata kalem, sementara lawannya bertubuh tinggi besar, berwajah sangar, dengan sikap dan ucapan penuh ancaman.

Lalu mereka memutuskan untuk bertarung satu lawan satu. Masing-masing diberi pisau mirip samurai yang entah didapat dari mana. Itu peristiwa paling mengerikan yang pernah saya saksikan di masa remaja, bertahun-tahun lalu. Tepat di depan mata kepala saya, dua orang akan bertarung, dengan pisau di masing-masing tangan. Perjanjiannya, jika Kelud yang kalah, geng pasar boleh mengambil wilayah alun-alun. Tetapi jika pemimpin geng pasar yang kalah, mereka harus enyah selamanya.

Dua orang dengan tampilan fisik yang tak seimbang itu pun berdiri di tengah alun-alun, dengan pisau di tangan. Semula, saya sempat membatin, Kelud akan kalah dalam waktu singkat, mengingat ukuran tubuhnya yang jauh lebih kecil dari lawannya. Tapi perkiraan saya keliru. Bahkan ketika pertarungan itu belum dimulai, pemimpin geng pasar memutuskan untuk angkat tangan. Dia menyatakan, “Oke, kami pergi.”

Sudah, cuma begitu. Sejak itu, mereka tak pernah datang lagi, tak pernah mengganggu lagi. Dari peristiwa itu pulalah saya kemudian tahu kenapa bocah-bocah di alun-alun mau menyetor upeti kepada Kelud, karena dia benar-benar melindungi kami, bahkan dengan taruhan nyawanya.

Karena penasaran, suatu malam saya sempat menanyakan hal itu pada Kelud. Kenapa pemimpin geng pasar bisa takut dan memutuskan pergi sebelum bertarung. Kelud menyatakan, “Jangan tertipu dengan penampilan. Setiap orang memiliki rasa takut. Tubuh besar tidak menjamin keberanian.”

Kalimat itu bukan diucapkan oleh pakar psikologi, melainkan keluar dari mulut orang yang menghabiskan seumur hidupnya di jalanan. Kelud mungkin tidak tahu teori-teori psikologi apa pun, tapi dia menghadapi realitas yang langsung dijalaninya, dan tanpa sadar mulai memahami psikologi manusia. Bahwa penampilan bisa menipu, dan seringnya memang begitu. Kelak, bertahun-tahun kemudian, ketika saya mulai belajar psikologi, saya mendapati kenyataan sama seperti yang diajarkan oleh Kelud!

Baca lanjutannya: Fast & Furious dan Tipuan Media (3)