Mengapa Kita jadi Lebih Pintar Ketika Kebelet Pipis?

 Mengapa Kita jadi Lebih Pintar Ketika Kebelet Pipis?

BIBLIOTIKA - Mungkin tidak banyak yang menyadari, kadang-kadang kita menjatuhkan keputusan penting tepat ketika sedang ingin buang air kecil, atau sambil buru-buru ke toilet. Ada cukup banyak orang yang ketika dimintai suatu keputusan tidak bisa langsung menjawab, mungkin karena ragu-ragu, tidak yakin, atau karena alasan lain. Tetapi, ketika hal yang sama diajukan pada waktu orang itu kebelet buang air kecil, entah kenapa dia bisa memutuskannya dengan cepat.

Kasus aneh itu telah sering menjadi pertanyaan para pakar, yang kemudian secara serius menelitinya. Hasilnya, berdasarkan penelitian, orang memang jadi lebih pintar ketika kebelet buang air kecil. Pada waktu kandung kemih penuh, kemampuan otak untuk berpikir dan membuat keputusan akan meningkat. Kesimpulan itu dipublikasikan di Psychology Science pada awal 2011.

Dr. Mirjan Tuk dari University of Twente di Belanda melakukan penelitian itu dengan melibatkan sejumlah relawan yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta minum air putih 7 gelas sekaligus yang masing-masing sebanyak 750 ml, sementara kelompok kedua hanya diminta menyeruput air dalam jumlah sama, namun sedikit demi sedikit.

Sekitar 40 menit kemudian—jeda waktu yang diperkirakan air putih untuk mengisi kandung kemih hingga penuh pada kelompok yang meminum 7 gelas sekaligus—para relawan diminta menjalani tes psikologi untuk mengukur kemampuan pengambilan keputusan.

Hasilnya, para relawan yang kandung kemihnya sudah penuh cenderung menjatuhkan pilihan pada hal-hal yang sifatnya memberikan keuntungan jangka panjang, sementara relawan yang minumnya sedikit demi sedikit cenderung menjatuhkan pilihan pada hal-hal yang memberikan keuntungan sesaat. Hasil penelitian itu menegaskan persepsi awal, bahwa kebelet buang air kecil memang menjadikan orang lebih pintar.

Bagaimana kondisi semacam itu bisa terjadi? Profesor Hans Reul, ahli neurologi dari University of Bristol, menguraikan bagaimana kerja otak ketika pemiliknya panik. Pada waktu panik, menurut penelitiannya, otak memicu pelepasan hormon stres, yaitu kortisol dan adrenalin. Kedua hormon itu diyakini mampu mengubah mekanisme kerja hipokampus, bagian otak yang mengatur daya ingat dan kemampuan mempelajari sesuatu.

Perubahan mekanisme kerja hipokampus itu disebut epigenetic modification, dan menyebabkan susunan rantai Deoxyribonucleic Acid (DNA) pada hipokampus seperti diprogram ulang. Jika pada kondisi biasa mungkin seseorang akan sulit mengingat atau memahami sesuatu, maka segalanya bisa tampak lebih mudah ketika sedang panik, termasuk ketika kebelet buang air kecil.

Karenanya, para peneliti pun kemudian menyarankan agar orang banyak minum air putih hingga kandung kemih selalu penuh, agar dapat lebih sering berpikir jernih. Meski banyak minum air putih menjadikan sering buang air kecil, tapi kondisi itu ternyata memberi manfaat dalam bentuk peningkatan kinerja sel-sel otak, khususnya bagian otak yang merupakan pusat berpikir yang berhubungan dengan pengambilan risiko.

“Pada waktu kebelet buang air kecil,” kata Dr. Mirjan Tuk, “orang menjadi lebih mampu mengontrol impuls (keinginan sesaat), dan cenderung mengambil keputusan yang memberi keuntungan jangka panjang.”

Fakta:

Buang air kecil dapat membersihkan kandung kemih dari bakteri yang berkembang di urine.

Membersikan kemaluan setelah mengeluarkan air kemih (kencing) dapat mencegah terjadinya penyakit kanker kelamin.

Sebenarnya, air seni berbau amoniak. Bau tidak sedap muncul karena bakteri di kloset mengolah kandungan air kencing tersebut.