Pahala Sebanyak Bintang di Langit

Pahala Sebanyak Bintang di Langit

BIBLIOTIKA - Suatu malam Rasulullah SAW dan istrinya, Sayidatina Aisyah r.a., berdiri di depan rumahnya sambil memandang keindahan langit. Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, pahala siapakah yang sebanyak bintang-bintang di langit itu?” Di dalam hatinya, Aisyah r.a. menebak bahwa pahala sebanyak ini pasti pahala ayahnya (Abu Bakar).

“Pahala sebanyak ini adalah pahala sahabatku Umar,” jawab Rasulullah SAW.

Sayidatina Aisyah r.a. terkejut, lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan ayahku?”

Rasulullah SAW tersenyum kepada istrinya sambil berkata, “Istriku, satu hari saat ayahmu, Abu Bakar, berhijrah bersamaku, pahalanya lebih banyak dari pahala Umar dan keluarganya sampai hari kiamat.”

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.

Niat Taubat Berbuah Keajaiban

Hari itu Khalifah Umar Al-Khatab sedang berceramah di lorong-lorong kota Madinah. Di ujung simpang jalan dia berpapasan dengan seorang pemuda yang membawa kendi. Pemuda itu menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung, yang dipanggul di pundaknya.

Melihat itu, timbul prasangka di hati Umar Al-Khatab sehingga ia pun bertanya, “Apa yang kau bawa itu?”

Karena panik sebab takut dimarahi Umar yang terkenal tegas, pemuda itu menjawab dengan terbata-bata bahwa benda yang dibawanya itu adalah madu. “Kendi ini berisikan madu,” katanya.

Tetapi sesungguhnya benda yang dibawanya itu adalah khamar. Pemuda itu pun berdoa dalam hati supaya Umar Al-Khatab tidak sampai memeriksa isi kendinya. Ia bahkan bersumpah dalam hati bahwa dia akan bertaubat—tidak akan minum khamar lagi—jika Umar tidak memarahinya.

Karena tidak percaya, Khalifah Umar ingin melihat sendiri isi kendi itu. Tetapi rupanya doa pemuda itu telah dikabulkan oleh Allah. Seketika itu juga khamar dalam kendi itu telah berubah menjadi madu.

Karena dia berniat dan bersumpah untuk bertaubat, dan niatnya ikhlas, maka ia pun terhindar dari kemarahan Khalifah Umar Al-Khatab, yang kemungkinan saja akan membahayakan dirinya, karena Umar memang sangat keras dalam menjatuhkan hukuman.

Allah Taala berfirman, “Seteguk khamar yang diminum akan mengakibatkan Allah menolak (tidak menerima) amal fardhu dan sunahnya selama tiga hari. Dan barangsiapa yang minum khamar segelas, maka Allah Taala tidak menerima sholatnya selama empat puluh hari. Dan orang yang tetap minum khamar, maka Allah akan memberinya ‘Nahrul Khabal’.”

Mendengar istilah ‘Nahrul Khabal’ itu, para sahabat bertanya pada Rasulullah. “Ya Rasulullah, apakah ‘Nahrul Khabal’ itu?”

Rasulullah menjawab, “Darah bercampur nanah orang ahli neraka!”