Jalan Kaki Demi Dakwah

 Jalan Kaki Demi Dakwah

BIBLIOTIKA - Dari kejauhan, gumpalan debu padang pasir membumbung ke langit. Debu-debu yang beterbangan itu dapat terlihat dari kejauhan, yang merupakan tanda bahwa ada satu rombongan kafilah yang akan datang mendekati kota Mekkah.

Rasulullah SAW melihat gumpalan debu itu dari kejauhan, dan segera pulang ke rumah. Beliau langsung menyiapkan perbekalan dan membungkusnya. Setelah itu Rasulullah SAW menunggu di pintu gerbang kota Mekkah.

Kafilah itu rupanya tidak memasuki kota Mekkah, namun mereka hendak menuju tempat lain. Rasulullah SAW mendekati kafilah itu, dan mencari pimpinan rombongan kafilah tersebut.

Setelah berjumpa dengan pemimpin kafilah itu, Rasulullah SAW meminta izin untuk dapat ikut serta di dalam rombongan tersebut. Beliau diizinkan. Sejak itu, Rasulullah SAW mulai berdakwah kepada mereka, kepada setiap orang dalam rombongan itu, dan mengajak mereka untuk menerima Islam.

Setelah semua orang mendapat penjelasan, Rasulullah SAW pun meminta izin kepada pimpinan rombongan untuk pulang kembali ke Mekkah.

Rasulullah SAW kembali ke kota Mekkah dengan berjalan kaki, sedangkan kafilah tersebut telah melalui kota Mekkah sejauh satu hari satu malam perjalanan. Rasulullah SAW hanya menginginkan setiap orang memiliki kalimah ‘Laalilaaha illallaah’ dan selamat dari azab yang pedih kelak di akhirat.


Saat Pencari Rezeki Pergi Berperang

Ketika Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk segera berangkat ke Tabuk untuk berperang menghadapi kaum kafir, mereka semua pun segera menyambutnya. Hanya beberapa orang sahabat yang tidak mengikuti peperangan tersebut, selain orang tua, para wanita, dan anak-anak, serta orang-orang munafik.

Pada waktu itu, panen kurma hampir tiba, dan masa itu musim panas yang terik sedang melanda, sementara perbekalan dan persenjataan yang dimiliki sangat minim. Tetapi Rasulullah SAW dan para sahabatnya tetap berangkat berperang.

Di waktu itulah keimanan dan pengorbanan para sahabat diuji. Orang-orang munafik mulai menyebarkan desas-desus dan menghasut para sahabat agar tidak meninggalkan kebun kurma mereka, dan tidak menyertai peperangan tersebut. Hasutan para munafiqin itu tidak hanya kepada para sahabat, tetapi istri para sahabat pun tidak luput dari hasutan mereka.

Para munafiqin itu berkata, “Suami-suami kalian pergi ke Tabuk, sementara kurma di kebun-kebun kalian sebentar lagi ranum, siapakah yang akan mengurusnya? Mereka meninggalkan kesempatan yang bagus ini dan pergi meninggalkannya begitu saja.”

Istri-istri para sahabat itu menjawab dengan keimanan mereka, “Pencari rezeki telah pergi, dan pemberi rezeki telah datang.”

Pada masa itu, Rasulullah SAW dan para sahabat, dengan pertolongan Allah SWT, kembali dari peperangan dalam waktu yang sangat singkat. Allah SWT menjaga kebun-kebun kurma dan keluarga mereka. Tidak satu pun buah kurma yang telah masak itu jatuh dari tangkainya, panen mereka berlipat ganda hasilnya, dan harga kurma Madinah saat itu mencapai harga tertinggi sehingga para sahabat mendapatkan keuntungan yang banyak.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.