Ingin Bertani di Surga

 Ingin Bertani di Surga

BIBLIOTIKA - Pada suatu hari Rasulullah SAW berbicara dengan seorang lelaki badui dari desa. Rasulullah menceritakan kepadanya, bahwa ada seorang lelaki penghuni surga meminta kepada Allah untuk bercocok tanam, kemudian Allah bertanya kepadanya, bukankah Allah telah memberikan semua perkara yang dia perlukan?

Lelaki itu mengakui bahwa segala kebutuhannya telah tersedia di surga, tetapi dia suka bercocok tanam. Lalu dia pun menabur biji benih. Tanaman itu langsung tumbuh. Kesemuanya sama. Setelah itu dia menuainya. Hasilnya dapat setinggi gunung.

Mendengar kisah itu, si lelaki badui berkata, “Demi Allah, orang itu pastilah orang Quraisy ataupun Anshar, karena mereka dari golongan petani. Kami (badui) bukan dari golongan petani.”

Rasulullah SAW tertawa mendengar kata-kata orang badui itu.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.

Nasihat dari Kitab-kitab Terdahulu

Suatu ketika Rasulullah s.a.w ditanya tentang suhuf yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Rasulullah s.a.w bersabda, “Sebagian dari kandungan suhuf Nabi Musa a.s di antaranya:

Aku heran pada orang yang meyakini datangnya kematian (yakin dirinya akan mati dan ditanya tentang amalannya), tetapi merasa senang dan gembira di dunia (tidak membuat persiapan dan menyiapkan bekal untuk mati).

Aku heran kepada orang yang meyakini adanya qadar (ketentuan) Allah, tetapi marah-marah (bila sesuatu musibah menimpa dirinya).

Aku heran pada orang yang meyakini adanya hisab (hari perhitungan amal baik dan buruk), tetapi mereka tidak berbuat kebaikan.”

Rasulullah s.a.w ditanya pula tentang sebagian dari isi kitab Taurat, dan Nabi berkata, “Di antara kandungannya ialah:

Wahai anak Adam, janganlah kau merasa khawatir akan kekuasaan (pangkat), selagi kekuasaan-Ku kekal abadi dan tidak akan hilang selamanya.

Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami menciptakan kamu untuk beribadah kepada-Ku, maka janganlah kamu menyia-nyiakan (menghabiskan waktumu untuk bersenang-senang saja).

Wahai anak Adam, Kami tidak memperhitungkan amal yang akan kamu lakukan besok, karena itu janganlah kamu cemas akan rezekimu untuk hari esok.

Wahai anak Adam, sesungguhnya bagimu ada kewajiban dan ketentuan rezeki, sekalipun kamu mengabaikan kewajibanmu terhadap-Ku, namun Aku tidak akan mengabaikan rezeki yang telah ditentukan untukmu.

Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu ridha pada apa-apa yang telah Aku berikan kepadamu, maka kamu akan merasakan bahagia lahir dan batin. Tetapi jika kamu tidak ridha dengan apa-apa yang telah Aku berikan, maka kamu akan dikuasai oleh dunia, sehingga kamu akan melompat-lompat dan kepanasan di padang pasir yang panas. Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku, ketika itu pun kamu tidak akan memperoleh apa-apa selain yang telah Aku tetapkan, bahkan kamu termasuk di dalam golongan orang yang tercela di sisi-Ku.”