Canda dan Gurauan Rasulullah

Canda dan Gurauan Rasulullah

BIBLIOTIKA - Rasulullah SAW bergaul dengan semua orang. Beliau menerima hamba, orang buta, dan anak-anak. Rasulullah bergurau dengan anak kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua. Akan tetapi, Rasulullah tidak berkata kecuali yang benar saja.
Suatu hari, seorang perempuan datang kepada beliau dan berkata, “Ya Rasulullah! Naikkan saya ke atas unta.”

“Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta,” sahut Rasulullah SAW.

“Jangan anak unta, ya Rasulullah, ia tidak mampu,” kata perempuan itu.

“Tidak, aku akan naikkan engkau ke atas anak unta.”

“Ia tidak mampu menahan beratku.”

Para sahabat yang berada di situ berkata lalu menyahut perempuan itu, “Bukankah unta itu juga punya ibu?”

***

Seorang perempuan lain pernah mendatangi Rasulullah, dan dia memberitahu, “Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit. Dia memanggilmu.”

“Semoga suamimu matanya putih,” jawab Rasulullah SAW.

Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia langsung membuka mata suaminya.

Suaminya bertanya dengan keheranan, “Kenapa kau ini?”

“Tadi Rasulullah memberitahu kalau matamu putih,” kata istrinya menerangkan.

“Bukankah semua mata memang punya warna putih?” kata suaminya.

***

Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam surga.”

Rasulullah menjawab, “Wahai ummi fulan, surga tidak dimasuki oleh orang tua.”

Mendengar jawaban itu, perempuan tua itu pun menangis.

Rasulullah lalu menjelaskan, “Tidakkah kau membaca firman Allah ini, ‘Serta Kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya’.”

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.

Kain Kafan dari Rasulullah

Seorang wanita datang kepada Rasulullah S.A.W. Ia menyerahkan kain yang ditenunnya sendiri dan diserahkan kepada Nabi S.A.W sebagai rasa cintanya kepada Rasul. Dengan senang hati Rasulullah menerima pemberian itu dan memakainya.

Dengan memakai kain pemberian wanita itu, Nabi keluar menemui sahabatnya. Salah seorang sahabat melihat begitu indahnya kain yang dipakai Nabi, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, alangkah indahnya kain yang engkau pakai itu. Betapa senangnya jika aku memakainya.”

“Baiklah,” jawab Nabi S.A.W ringkas.

Setelah keluar dari pertemuan itu, Rasulullah S.A.W datang lagi ke tempat itu, tetapi tidak lagi menggunakan kain tenun yang baru dipakai tadi. Kain pemberian wanita itu terlipat di tangannya, dan kemudian diserahkannya kepada sahabat yang memujinya tadi.

“Terimalah kain ini, dan pakailah,” ujar Rasululah S.A.W.

Melihat peristiwa tersebut, para sahabat pun mencela lelaki yang menerima pemberian kain itu. Kain pemberian wanita itu sangat disenangi Nabi karena itu dipakainya, tetapi Nabi tidak pernah menolak permintaan seseorang. “Mengapa engkau masih memintanya?” tanya para sahabat dengan tidak senang.

Sahabat yang meminta kain kepada Rasulullah S.A.W tersebut menjawab, “Saya meminta kain itu bukan untuk saya pakai, melainkan untuk saya gunakan sebagai kain kafan.”