Pendidikan Nilai dan Keilmuan yang Integratif

 Pendidikan Nilai dan Keilmuan yang Integratif

BIBLIOTIKA - Situasi perkembangan keilmuan dan teknologi yang begitu pesat tampaknya semakin dirasakan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia modern hari ini. Terjadinya pemilahan dan pemisahan yang begitu kentara di antara disiplin ilmu agama dan umum menjadi fenomena yang jelas terlihat terutama di perguruan tinggi umum.

Disiplin ilmu agama tak jarang hanya sebagai pelengkap yang disampaikan secara verbal sebagai subjek mata kuliah yang harus diikuti oleh mahasiswa. Akibatnya bisa diduga, mata kuliah agama cenderung indoktrinatif hanya untuk diketahui dan dihafalkan agar lulus ujian.

Begitu pula dengan disiplin ilmu umum yang cenderung lebih dieksplorasi secara meluas dengan berbagai spesialisasi pengembangannya bisa dikatakan tidak menyentuh sama sekali aspek yang memiliki keterkaitan ataupun hubungan dengan ilmu agama. Baik ilmu agama maupun ilmu umum, kedua-duanya berjalan secara terpisah sebagai subjek mata pelajaran yang berdiri sendiri, bahkan proses pengembangan ilmu umum tersebut lebih cenderung pada pola pencapaian prestasi kegunaan dan keilmuan saja, atau bisa disebut sebagai ‘ilmu untuk ilmu’.

Jika ditelusuri tujuan awal manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebenarnya adalah untuk mengetahui, mengawal dan menguasai alam sekelilingnya demi kemaslahatan dan kegunaan dirinya. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern di satu sisi memang diakui telah banyak memberikan kontribusi positif terhadap kehidupan manusia saat ini.

Namun di sisi yang lain ibarat senjata makan tuan, perkembangan ilmu pengetahuan modern justru mengalami degradasi yang mengarah pada terjadinya disharmoni di antara sesama manusia dan lingkungannya.

Eksploitasi sumber energi alam yang berlebihan, bukan hanya mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan dan kerusakan dalam ekosistem kehidupan, tapi juga menjadi sumber bencana alam, konflik, dan terjadinya ketimpangan sosial. Berbagai prestasi penemuan teknologi dan kemampuan untuk melakukan rekayasa ilmiah terhadap sumber nabati dan satwa alam justru semakin menimbulkan banyak penyakit dan memunculkan berbagai bentuk virus yang mengakibatkan rasa tidak aman dan ketakutan dalam diri manusia.

Spesialisasi keilmuan dan penumpukan dalam satu titik ekstrim keahlian yang lebih berorientasi pada lapangan kerja, menimbulkan kurangnya kreativitas output lembaga pendidikan terhadap tuntutan dan tantangan perubahan.

Kesemua fenomena tersebut merupakan pengaruh dari pola dan sistem keilmuan barat yang berlandaskan pada rasio dan empiris serta metode ilmiah yang menafikan peranan wahyu sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan. Meskipun wujud keterkaitan antara disiplin keilmuan yang satu dengan yang lainnya, namun berbagai disiplin keilmuan itu cenderung berjalan secara sendiri-sendiri.

Oleh karena itu, pendidikan agama pada hakikatnya tidak bisa dilihat hanya sebagai subjek mata pelajaran semata, tapi lebih pada bagaimana subjek tersebut berfungsi sebagai induk dari berbagai mata kuliah yang ada, agar siswa memiliki kerangka berpikir yang sistemik berdasarkan paradigma dan pandangan hidup yang agamis. Pendidikan ini bisa menjadi katalisator untuk menjembatani dan menghubungkan setiap aspek dalam disiplin ilmu agama dan ilmu umum, sehingga puncaknya adalah siswa mampu memiliki bangunan konsep dan cakrawala ilmu yang integratif.

Pendidikan agama di sekolah atau kampus hakikatnya bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan luas dan luwes serta berakhlak mulia, menjadikan ajaran agamanya sebagai landasan berpikir dan berperilaku dalam pengembangan kepribadian dan profesinya.

Sebagai mata kuliah dasar umum, keberadaannya secara tidak langsung memiliki kedudukan yang sama dengan mata kuliah dasar umum lainnya sebagai dasar/basis bagi membangun dan membentuk karakter manusia indonesia yang beriman, berbudaya dan berkepribadian. Pendidikan agama diarahkan kepada proses penghayatan dan internalisasi nilai agama, sehingga siswa memiliki komitmen terhadap ajaran agama serta mampu melaksanakan ajarannya secara integral dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan agama juga diharapkan dapat menjadi panduan bagi siswa untuk mengembangkan substansi kajian yang lebih kontekstual, kontemporer, diminati, dan mendorong siswa untuk mengeksplorasi sumber kajian lebih lanjut melalui kegiatan mandiri atau kerjasama dengan pihak lainnya, sehingga dapat menjadikan nilai-nilai religius sebagai pedoman hidup yang mengantarkan siswa dalam pengembangan profesi dan berkepribadian yang baik.

Konsep integrasi atau kesatuan secara etimologis membawa maksud bersatu, saling bercantum dan bersama; bukan terpisah, terasing, atau terpencil. Integrasi ilmu sangat erat kaitannya dengan konsep pendidikan integratif yang boleh terjadi dalam berbagai bentuk dan dimensi. Konsep integrasi ilmu tersebut akan berkaitan secara langsung dengan kesatuan intra (dalam satu mata pelajaran atau disiplin ilmu) ataupun kesatuan inter (kesatuan multidisiplin).

Untuk membangun keilmuan integratif tentunya memerlukan satu desain pemikiran yang sesuai dengan corak dan paradigma pendidikan kita. Dan sebelum integrasi keilmuan tersebut dapat dibuat, keragaman konsep integrasi ilmu seharusnya ditelusuri secara teliti dan kritis supaya keilmuan integratif yang dibangun benar-benar berlandaskan di atas dasar kepahaman yang jelas terhadap konsep integrasi ilmu.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.