Pendidikan Ideal: Apa, Mengapa, Bagaimana

Pendidikan Ideal: Apa, Mengapa, Bagaimana

BIBLIOTIKA - Di era teknologi seperti ini, pendidikan sangat diperlukan bagi setiap orang. Pendidikan saat ini kerap menjadi tolak ukur bagi kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Pendapat bahwa orang yang selalu memiliki IPK hampir empat, lulus dengan predikat cumlaude dan yang mempunyai gelar tinggi hingga doktor bahkan profesor, dipercaya oleh sebagian besar orang akan menjadi orang yang sukses kelak dan berpenghasilan besar tentunya.

Padahal pada kenyataannya tidak semuanya seperti itu. Banyak orang yang sukses di usia produktifnya, padahal ketika masa sekolah ia termasuk anak yang bisa dibilang tidak pintar bahkan mungkin termasuk peringkat sepuluh terburuk di sekolahnya.

Pendidikan adalah proses pembelajaran, proses dimana kita mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang sesuatu hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui, proses dimana kita dilatih dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang lebih berilmu dan berakal sehat juga rasional. Proses pembelajaran tidak hanya dimulai ketika kita mulai masuk sekolah, tapi dimulai ketika kita masih di dalam perut ibu. Saat kita masih di dalam kandungan, ibu sudah mengajarkan kita tentang kasih sayang, dari seorang ibu yang selalu menjaga anak dalam kandungannya agar kelak lahir dengan sehat dan selamat.

Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Pendidikan adalah salah satu cara manusia agar dapat melanjutkan kehidupannya. Dengan pendidikan, ilmu yang kita miliki akan semakin bertambah, wawasan yang kita miliki akan semakin luas, sehingga kita dapat berpikir secara lebih baik dan rasional. Dengan ilmu, seseorang dapat berbuat banyak, juga dapat beramal karena dapat berguna untuk orang lain.

Agar pendidikan dapat diterima oleh peserta didik secara maksimal, maka perlu dibuat sistem pendidikan yang ideal. Yang dimaksud ideal adalah yang memenuhi beberapa kriteria seperti pendidikan yang sesuai umur, sesuai kapasitas kemampuan peserta didik dalam menerima, dan pendidikan yang diberikan secara bertingkat dan bertahap.

Pendidikan sesuai umur maksudnya adalah proses belajar dimana materi yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan umurnya. Misalnya anak SMP tidak cocok lagi jika diajarkan penjumlahan bilangan puluhan bahkan satuan, karena seharusnya mereka sudah paham karena sudah diajarkan sejak taman kanak-kanak. Sebaliknya, anak SD juga tidak cocok jika diajarkan pelajaran Biologi, yang membahas tentang proses reproduksi pada manusia, karena mereka dianggap belum mengerti masalah itu, dan berbahaya jika disalahgunakan.

Hal itu juga berhubungan dengan kriteria kedua, yaitu sesuai dengan kapasitas kemampuan sang peserta didik untuk menerima pelajaran tersebut. Jika pendidikan yang diberikan melebihi dari kemampuan menerima, dikhawatirkan peserta didik akan stress. Sebaliknya, jika terlalu mudah akan membuat mereka menjadi bosan.

Kriteria tepat ketiga adalah proses pembelajaran seharusnya diberikan secara bertahap dan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh, siswa-siswi taman kanak-kanak mulai diajarkan matematika, yaitu mengenal bilangan satuan dan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan satuan.

Ketika di SD kelas 1, pelajaran yang mereka terima mulai naik tahapannya menjadi penjumlahan bilangan puluhan, lalu ratusan, ribuan dan seterusnya. Meningkat lagi ke perkalian dan pembagian. Namun saat SMP, matematika yang dipelajari tidak lagi sederhana yaitu mulai konsep al-jabar, phytagoras, dan lain-lain. Sehingga peserta didik dapat menerimanya dengan baik karena dimulai dari tahap yang mudah hingga yang paling sulit. 

Belajar tidak hanya di sekolah, kita belajar dan mendapat pendidikan dimana saja. Ada pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal adalah pendidikan wajib yang terstruktur dan terorganisir, seperti sekolah.

Di Indonesia, pemerintah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun untuk warganya, hal ini berguna untuk menyamaratakan pendidikan masyarakat Indonesia agar tidak menjadi bangsa yang terbelakang pendidikannya. Selain formal, ada juga pendidikan informal, seperti les-les tambahan di luar jam sekolah, les musik, lukis, teater, olahraga dan kesenian lainnya. Pendidikan ini bersifat tidak wajib, hanya sebagai tambahan saja, biasanya untuk mengasah kemampuan yang berhubungan dengan hobi.

Selain les-les tambahan, kegiatan berorganisasi juga merupakan pendidikan yang bersifat informal, kita belajar bagaimana cara menghargai orang lain, berkomunikasi di depan umum, dan lainnya. Keluarga juga berperan penting dalam pendidikan informal ini, karena dirumah pun kita juga tetap belajar, belajar menghomati orang lain, mengalah dan saling menyayangi antar anggota keluarga. Jadi pendidikan itu bersifat luas, dan dapat diperoleh dimana saja.

Pemerintah Indonesia bercita-cita untuk menjadikan pendidikan di Indonesia mudah dijangkau oleh masyarakat. Karena mereka menilai pendidikan itu sangat penting, terutama di era globalisasi ini, dimana teknologi semakin canggih dan semakin mudah untuk melakukan apa pun.

Indonesia adalah negara yang tingkat kepadatan penduduknya mendapat peringkat sepuluh besar di dunia. Masalah pendidikan di negara ini telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang secara garis besar dikatakan bahwa setiap penduduk mendapat hak pengajaran yang layak.

Dari kenyataan ini, seharusnya dapat mendukung Indonesia menjadi negara yang maju yang dapat menciptakan alat-alat baru dengan inovasi teknologi yang canggih. Namun realitasnya, hanya sebagian kecil saja yang dapat melakukan inovasi tersebut. Hal ini mungkin saja menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia belum maksimal sehingga belum menghasilkan banyak bibit unggul yang dapat mengharumkan nama bangsa ini.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.