Paradigma Pendidikan Konservatif, Liberal, dan Radikal

 Paradigma Pendidikan Konservatif, Liberal, dan Radikal

BIBLIOTIKA - Paradigma pendidikan konservatif merupakan penganut aliran filsafat perenialis dan esensialis yang bernuansa fatalistik serta anti perubahan. Menempatkan posisi manusia dalam keadaan pasif. Bahwa manusia berada di dunia hanya menjalankan perintah Tuhan. Segala sesuatu keadaan dan kejadian merupakan kehendak-Nya, manusia tinggal menjalankannya. Pendidikan konservatif hanya sebatas perwujudan dari ketidaksadaran manusia dalam menjalani hidupnya.

Paradigma pendidikan liberal mendasarkan pada modernitas dan kebebasan individu. Paradigma ini termasuk dalam aliran filsafat Progresif dan Eksistensialis. Dengan ciri rasionalitas empiris dengan nuansa posivistik, yang dipelopori oleh rasionalisme Descartes yang sangat mengedepankan kuasa akal pikiran manusia. Namun, meskipun mengakui keberadaan nilai-nilai transenden, paradigma pendidikan liberal tetap cenderung meninggalkannya. Dalam hal ini, manusia kembali terjerambap dalam problem eksistensialisnya.

Paradigma pendidikan kritis berkiblat pada aliran filsafat Eksistensialisme, Rekonstruksionalisme dan Progresifme. Merupakan antitesis dari arus modernitas yang dipandang justru telah menghilangkan nilai-nilai humanitas. Dalam pandangan pendidikan kritis, setiap dominasi peran yang mengakibatkan penindasan tidak bisa ditolelir. Sebab bagaimana pun yang namanya penindasan adalah tidak manusiawi, bertentangan dengan fitrah manusia pada lazimnya. Oleh karena itu penindasan merupakan musuh utama dalam pendidikan kritis.

Tokoh besar dalam aliran paradigma pendidikan kritis salah satunya adalah Paulo Freire yang berusaha untuk memberikan sebuah pemikiran baru untuk pendidikan kaum tertindas. Dikatakan bahwa kaum tertindas dapat mengatasi kontradiksi dimana mereka terjebak hanya jika pengetahuan mendorong mereka berjuang membebaskan diri.

Pendidikan kaum tertindas, sebagai pendidikan para humanis dan pembebas, terdiri dari dua tahap: Pertama, kaum tertindas membuka tabir dunia penindasan dan melalui praksis melibatkan diri untuk mengadakan perubahan. Kedua, ketika realitas penindasan sudah berubah, pendidikan tidak lagi menjadi milik kaum tertindas tetapi menjadi pendidikan untuk seluruh manusia dalam proses kebebasan yang langgeng.

Lawan dari pendidikan yang membelenggu menurut Freire adalah pendidikan yang membebaskan. Pendidikan yang membelenggu ditandai dengan terjadinya pemberian perintah dan transfer pengetahuan. Sedangkan lawannya adalah adanya transaksi dialogis dan transformasional, yakni proses pendidikan yang mempunyai makna dalam kehidupan.

Pendidikan secara luas dan umum sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusian diri ke arah tercapainya pribadi yang dewasa. Selain itu pendidikan adalah proses hominisasi (menjadikan seseorang sebagai manusia) dan humanisasi (pengembangan kemanusiaan manusia).

Lebih lanjut dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Konsepsi UNESCO tentang pembelajaran adalah Learning to Know, Learning to Do, Learning to Live Together and Learning to Be.

Pendidikan rakyat dalam tahapan pengembangannya dapat dikelompokkan dalam tiga tahapan:

Pengembangan sikap, rakyat diajak menggali dan menghargai pengalamannya, memahami realitas, pemahaman diri. Dibangkitkannya kreasi untuk mengubah realitas sesuai dengan harapannya.

Pengembangan ketrampilan, rakyat dimampukan untuk terampil, pertama-tama menganalisis situasi ketertindasan yang dialaminya (analisis sosial). Kemudian adalah tindak lanjut atas jawaban terhadap segudang pertanyaan analisis tadi.

Pengembangan pengetahuan, rakyat dimampukan mengembangkan pengetahuan sehubungan dengan upaya-upaya memperkuat dirinya.

Lingkungan memberi kontribusi dalam pendidikan seseorang, baik sekolah maupun luar sekolah. Komponen itu adalah keluarga, sekolah, masyarakat, daerah dan geografisnya, teknologi dan masyarakat globalnya. Penyelenggaraan pendidikan yang cenderung ke arah hasil baik antara lain diukur dari:
  1. Pendidikan yang berguna.
  2. Nyaman bagi siswa.
  3. Muatan tranformatif bagi kehidupan siswa, baik individu maupun social.
  4. Manusiawi.

Selain itu siswa harus memiliki ketrampilan yang dapat benar-benar diandalkan. Kompetensi yang dimiliki paling tidak harus mampu untuk mewujudkan keinginan warga atas apa yang mereka jalani setiap harinya. Salah satu panduan untuk menentukan kompetensi adalah:
  1. Karakteristik anak dan situasi lingkungan
  2. Situasi sosial – budaya masyarakat
  3. Tingkat perkembangan Iptek 

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.