Nasruddin Hoja dan Tagihan Hutang

Nasruddin Hoja dan Tagihan Hutang

BIBLIOTIKA - Nasruddin memiliki sejumlah hutang kepada seseorang dalam jumlah yang tak terlalu banyak. Namun karena belum ada uang yang dapat digunakan untuk membayar, maka hutang itu pun tidak juga dapat ia lunasi, sementara orang yang memberinya hutang itu terus-menerus mendatangi rumahnya untuk menagih hutang Nasruddin.

Siang itu Nasruddin sedang duduk-duduk di depan rumahnya ketika ia melihat dari kejauhan sosok orang yang memberinya hutang itu. Pasti dia akan menagih hutangnya, pikir Nasruddin.

Maka Nasruddin pun segera masuk ke dalam rumah, menemui istrinya dan berkata, “Sebentar lagi akan ada orang yang datang kemari untuk menagih hutangnya. Sebaiknya kau yang bukakan pintu, dan katakan apa saja kepadanya, yang penting aku bisa selamat dari bertemu dengannya.”

Istri Nasruddin pun memahami maksud suaminya dan dia segera bersiap menyambut tamu itu. Sementara Nasruddin bersembunyi di belakang pintu untuk bersiap mendengar pembicaraan mereka. Sesaat kemudian, tamu itu pun datang dan istri Nasruddin membukakan sedikit pintu rumah untuk berbicara dengan si tamu.

“Anda siapa?” tanya istri Nasruddin pada orang yang kini telah berdiri di depan pintu rumahnya.

“Saya yakin Anda pasti tahu siapa saya,” kata si tamu dengan wajah yang amat masam. “Saya sudah sering kemari untuk menagih hutang suami Anda kepada saya. Saya bahkan sudah berpuluh-puluh kali ke sini. Kalian sungguh keterlaluan. Jadi, tolong katakan pada suami Anda kalau saya ingin bicara dengannya.”

“Katakan saja apa keinginan Anda,” sahut istri Nasruddin, “nanti saya akan menyampaikannya pada suami saya.”

“Ini masalah hutangnya kepada saya!” tukas orang itu tak sabar, sementara wajahnya semakin masam. “Saya sudah tak tahan lagi dengan urusan utang-piutang ini dengan suami Anda! Karenanya, kalau suami Anda tidak juga membayar hutangnya, saya akan mengadukannya ke pengadilan!”

“Oh, Anda tentu saja berhak melakukan itu,” ujar istri Nasruddin dengan bingung. “Tapi saya sarankan Anda jangan terburu-buru. Kami berjanji akan segera melunasi kewajiban itu tak lama lagi, soalnya kami sudah memiliki peluang baru untuk mendapatkan rezeki.”

“Uh, apa masih lama?” tuntut orang itu.

“Tidak,” jawab istri Nasruddin. “Saya mendengar kalau sekawanan domba milik seorang saudagar dari kota akan lewat di depan rumah kami. Bulu-bulunya akan banyak berjatuhan. Nah, kami akan mengumpulkannya, lalu memintalnya untuk dijadikan benang, kemudian akan kami jual. Uangnya akan kami gunakan untuk membayar hutang kami kepada Anda. sungguh, kami tidak ingin memakan harta orang lain.”

Mendengar penuturan itu, orang tadi jadi tertawa terbahak-bahak dan melupakan wajah masamnya.

Suara tawa orang itu membuat Nasruddin menjulurkan lehernya dari balik pintu dan berkata, “Aku mendengar suara tawamu. Sekarang aku juga ingin tertawa…”

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.