Nasruddin Hoja dan Rumah yang Sesak

Nasruddin Hoja dan Rumah yang Sesak

BIBLIOTIKA - Kampung tempat tinggal Nasruddin bisa dibilang kampung yang padat. Masyarakat yang tinggal di kampung itu rata-rata memiliki anak yang banyak, sedangkan rumah mereka rata-rata berukuran sempit.

Suatu hari, salah seorang tetangga menemui Nasruddin dan mengadukan beban pikirannya. “Kau orang yang pandai, Nasruddin,” katanya, “karenanya aku ingin meminta nasihatmu untuk masalahku. Seperti yang kau tahu, rumahku sangat kecil, sementara aku hidup dengan istri, enam orang anak, ibu istriku, juga dengan ayahku yang sudah tua. Tentu saja rumah menjadi sangat sesak. Akibatnya kami semua merasa kalau kami tak pernah merasakan ketenangan dan kebahagiaan di dalam rumah. Hidup jadi terasa ruwet dan banyak masalah…”

Setelah mendengarkan penuturan itu, Nasruddin kemudian bertanya, “Apakah kau punya kambing?”

“Tidak,” jawab tetangganya.

“Kalau begitu belilah kambing,” ujar Nasruddin. “Lalu peliharalah kambing itu di dalam rumahmu.”

Satu minggu kemudian, orang itu datang lagi kepada Nasruddin. Nasruddin langsung bertanya, “Kau sudah membeli kambing?”

“Sudah,” jawab orang itu.

“Apakah kau sekarang bahagia di dalam rumahmu?”

“Tentu saja tidak. Rumah kami jadi bertambah sesak dengan kambing itu dan kami pun jadi merasa semakin tertekan di dalam rumah.”

“Kalau begitu,” kata Nasruddin, “belilah tujuh ekor ayam dan peliharalah ayam-ayam itu di dalam rumahmu juga.”

Kembali satu minggu kemudian orang itu datang lagi kepada Nasruddin. Kali ini dia berkata, “Nasruddin, keadaan rumahtangga kami makin kacau saja sekarang! Ada anak-anak, ada orang tua, ada kambing, ada ayam…”

“Jadi, kau belum merasa bahagia di rumahmu?” tanya Nasruddin.

“Bagaimana bisa bahagia dalam rumah yang kacau seperti itu?”

“Nah, kalau begitu, belilah dua ekor biri-biri dan pelihara biri-birimu dalam rumahmu.”

Satu minggu berikutnya orang itu kembali datang pada Nasruddin dalam keadaan kacau. “Aduh, Nasruddin,” keluhnya kebingungan, “rumahtangga kami jadi mengerikan. Uh, seperti neraka saja rasanya! Kami semua merasa sudah tak tahan lagi. Ada orang, ada binatang, dan semuanya kacau tak karuan!”

“Bagus,” kata Nasruddin. “Kalau begitu, sekarang pulanglah. Jual semua binatang peliharaanmu.”

Satu minggu berikutnya, orang itu datang lagi. Kali ini ia berkata dengan wajah yang berseri. “Nasruddin, rumah kami sekarang seperti istana saja rasanya. Kami semua bahagia sekarang tinggal di dalamnya. Kau telah membantu kami dengan baik, Nasruddin. Oh, terima kasih!”

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.