Nasruddin Hoja dan Pembagian yang Adil

 Nasruddin Hoja dan Pembagian yang Adil

BIBLIOTIKA - Empat orang lelaki mendatangi Nasruddin dengan membawa sekarung apel. Keempat orang itu ingin meminta Nasruddin agar dapat membagikan apel dalam karung itu secara adil.

Nasruddin memenuhi permintaan mereka. Dia bertanya, “Mana yang kalian inginkan; pembagian dengan cara Allah atau pembagian dengan cara manusia?”

Mereka serempak menjawab, “Dengan cara Allah, tentu saja.”

Maka Nasruddin pun membuka karung apel itu dan memberikan separuh isinya kepada orang pertama. Kemudian sisanya ia ambil sepuluh butir dan ia berikan kepada orang kedua. Sisanya lagi ia berikan semuanya kepada orang ketiga, sementara orang keempat tidak mendapatkan apa-apa.

Keempat orang itu spontan bertanya dengan heran, “Pembagian macam apa ini…?”

“Begitulah cara Allah membagi,” jawab Nasruddin dengan tenang. “Dia memberikan seseorang dengan berlimpah, sementara yang lainnya sedikit, dan ada yang tidak mendapatkan apapun. Kalau tadi kalian memintaku membagi dengan cara manusia, tentu aku akan membagikannya dengan jumlah yang sama pada setiap orang.”
Nasihat-nasihat yang Tolol

Dulu, sewaktu masih remaja, Nasruddin terkenal sebagai orang yang aneh, suka melawan arus, pendeknya berbeda dengan orang kebanyakan. Contoh gampangnya, kalau orang menasihati Nasruddin agar ke kiri, maka Nasruddin justru akan melangkah ke kanan. Keluarganya pun sudah hafal dengan tabiatnya yang unik itu, sehingga mereka mencari cara agar setiap nasihat atau perintah yang mereka katakan bisa dilakukan Nasruddin sebagaimana yang mereka inginkan. Akibatnya, mereka sering memberikan nasihat atau perintah yang berkebalikan.

Suatu hari, Nasruddin pergi bersama ayahnya dengan membawa seekor keledai yang dimuati beberapa karung tepung untuk dijual di pasar. Perjalanan menuju ke pasar itu harus melewati sebuah sungai yang tak terlalu dalam. Ketika mereka tengah menyeberang di sungai itu bersama keledai mereka, sebuah karung nampak merosot ke bawah.

Ayah Nasruddin yang melihat itu segera berteriak memerintahkan pada Nasruddin agar secepatnya menarik karung yang merosot itu. Tentu saja dengan caranya yang khas, “Nasruddin, cepat turunkan karung tepung itu agar masuk ke air.”

Tanpa diduga, bukannya melakukan yang berkebalikan dengan perintah itu, Nasruddin justru melakukan tepat seperti yang diperintahkan oleh ayahnya. Dia menekan karung yang telah merosot itu ke bawah hingga akhirnya jatuh dan tenggelam di dalam air. Seketika tepung di dalamnya pun segera ludes oleh arus sungai.

Melihat itu, ayah Nasruddin naik pitam. “Uh, bagaimana kau ini, Nasruddin?!” teriaknya dengan marah. “Biasanya kau kan selalu bertingkah berlawanan dengan yang dikatakan orang???”

“Iya, Ayah,” jawab Nasruddin dengan tenang, “tapi kali ini aku mematuhi perintahmu dan mengerjakan nasihatmu hanya untuk membuktikan betapa tololnya perintah dan nasihatmu.”

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.