Nasruddin Hoja dan Nasihat Aneh

 Nasruddin Hoja dan Nasihat Aneh

BIBLIOTIKA - Karena membutuhkan uang, Nasruddin pun pergi ke pasar untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa memberinya imbalan. Ketika sampai di tempat para penjual periuk, Nasruddin menanyakan apakah ada yang dapat dibantunya sehingga ia bisa memperoleh bayaran.

Salah seorang tukang periuk menyatakan, “Aku memiliki keranjang besar berisi mangkuk dan cangkir. Kalau kau mau membawakan barang-barangku itu sampai ke rumah, aku akan membayarmu dengan tiga buah nasihat yang baik. Menurutku itu bayaran yang pantas.”

Tak ada salahnya, pikir Nasruddin. Uang dapat diperoleh kapan saja, namun nasihat yang baik tidak mudah didapatkan. “Baiklah,” kata Nasruddin kemudian pada tukang periuk itu, “mungkin saja nasihat-nasihatmu akan berguna bagiku.”

Maka Nasruddin pun mulai mengangkat keranjang besar milik si tukang periuk dan mulai membawakannya, beriringan dengan si tukang periuk. Karena penasaran, di tengah perjalanan Nasruddin mencoba menanyakan salah satu nasihat yang dijanjikan oleh si tukang periuk.

“Kalau aku boleh meminta,” kata Nasruddin, “bagaimana kalau sekarang saja kau sampaikan nasihatmu yang pertama?”

Si tukang periuk setuju. “Dengar,” katanya, “nasihat pertama; jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bahwa lebih baik lapar daripada kenyang.”

“Hm, itu memang nasihat yang baik,” gumam Nasruddin menyetujui.

Beberapa saat mereka berjalan lagi, kemudian Nasruddin kembali berhenti dan menanyakan, “Lalu bagaimana dengan nasihat yang kedua?”

“Nasihat yang kedua,” ujar si tukang periuk, “jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bahwa lebih baik berjalan kaki daripada mengendarai kuda.”

“Uh, itu nasihat yang bagus sekali,” kata Nasruddin.

Kembali mereka berjalan. Beberapa saat kemudian, sekali lagi Nasruddin berhenti dan bertanya kembali, “Nasihat yang ketiga bagaimana?”

“Nasihat yang ketiga,” si tukang periuk kembali menjawab, “jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bahwa ada tukang pikul yang lebih tolol daripada dirimu…”

Mendengar itu, seketika Nasruddin membanting keranjang yang tengah dipikulnya hingga barang-barang yang ada di dalamnya terdengar pecah berantakan.

“Apa-apaan kau…?!” teriak si tukang periuk dengan marah.

Nasruddin menjawab, “Jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bahwa mangkuk dan cangkir di dalam keranjang ini tidak pecah.”

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.