Nasruddin Hoja dan Keledai yang Ketujuh

  Nasruddin Hoja dan Keledai yang Ketujuh

BIBLIOTIKA - Di hari yang cerah itu, Nasruddin menggiring enam ekor keledainya menuju ke pasar untuk ia jual. Dia berjalan kaki bersama keledai-keledainya. Namun, setelah cukup lama berjalan, Nasruddin merasa kakinya mulai capek dan memutuskan untuk menaiki salah seekor keledainya. Kemudian ia lanjutkan menggiring keledai-keledainya.

Sambil terus menggiring keledai-keledainya, Nasruddin merasa heran karena melihat keledainya berkurang jumlahnya. Dicoba dihitungnya mereka, dan ternyata benar kalau sekarang semua keledainya hanya berjumlah lima.

Karena merasa heran dan tak yakin, Nasruddin menghentikan perjalanannya dan turun dari keledainya. Ia hitung lagi jumlah keledainya. Namun kali ini Nasruddin semakin bertambah heran. Sekarang jumlah keledainya lengkap; enam ekor.

Setelah yakin dengan hitungannya, Nasruddin kembali menaiki keledainya dan mencoba menghitung lagi jumlah mereka. Sekali lagi Nasruddin heran campur bingung karena sekarang jumlahnya menjadi lima. Dia turun lagi, dicobanya dihitung lagi, jumlahnya ada enam. Lalu dia naik lagi, dihitung lagi, sekarang jumlahnya hanya lima. Bagaimana ini, pikir Nasruddin dengan bingung.

Saat itulah kemudian seseorang melewati tempat Nasruddin dan bertanya, “Kau seperti tengah kebingungan, Nasruddin. Ada apa?”

“Aku sedang heran campur bingung,” jawab Nasruddin. “Tadi aku meninggalkan rumah dengan membawa enam ekor keledai. Tapi kemudian jumlahnya hanya lima. Setelah itu aku hitung lagi dan jumlahnya enam lagi. Tapi setelah itu jumlahnya menjadi lima lagi. Ini benar-benar aneh. Kalau kau tak percaya, coba kuhitung; satu, dua, tiga, empat, lima... Nah, cuma lima, kan?”

“Lho, yang seekor lagi kan kau naiki, Nasruddin,” ucap orang itu. “Itulah keledaimu yang keenam, sedang keledai yang ketujuh adalah kau.”
Tingkat Kebijaksanaan

Seseorang yang dikenal sebagai filsuf sekaligus sosok yang bijak dan moralis mendengar tentang Nasruddin Hoja, dan ia ingin mengenal orang yang tersohor itu. Maka sang filsuf ini pun kemudian berangkat ke desa kediaman Nasruddin dan mendatanginya.

Setelah bertemu dengan Nasruddin, filsuf itu mengajak Nasruddin untuk menikmati makan siang di sebuah rumah makan yang tenang, sebagai semacam ungkapan perkenalannya dengan Nasruddin sekaligus untuk mengajaknya berdiskusi.

Setelah memesan makanan, mereka pun mulai berdiskusi. Tidak lama kemudian, pelayan datang dan menyuguhkan makanan dengan dua ekor ikan bakar. Salah satu ikan bakar itu berukuran jauh lebih besar dibanding ikan yang satunya.

Dengan seketika Nasruddin mengambil ikan yang berukuran sangat besar untuk dirinya dan kemudian asyik menikmatinya. Sang filsuf yang melihat tingkah Nasruddin itu mengernyitkan dahinya sambil menatap Nasruddin dengan tatapan tak percaya. Setelah itu, sang filsuf pun mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Nasruddin itu adalah suatu hal yang tak layak dilakukan, menunjukkan sikap yang egois, serta bertentangan dengan prinsip etika, moral, serta kesopanan masyarakat pada umumnya.

Nasruddin hanya diam mendengarkan semua khutbah itu, sambil terus menikmati makannya. Setelah sang filsuf terdiam karena kelelahan setelah berbicara panjang lebar, Nasruddin pun bertanya, “Jadi, kalau begitu, apa yang seharusnya dilakukan?”

Sang filsuf menjawab dengan jumawa, “Sebagai orang yang bijak, saya tentunya tidak akan mementingkan diri sendiri, dan tentunya akan mengambil ikan yang lebih kecil untuk diri saya sendiri.”

“Uh, silakan kalau begitu,” kata Nasruddin sambil menyodorkan ikan yang kecil kepada sang filsuf.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.