Nasruddin Hoja dan Cahaya Lilin

 Nasruddin Hoja dan Cahaya Lilin

BIBLIOTIKA - Ketika musim dingin tengah mencapai puncaknya yang paling dingin, Nasruddin ditantang oleh kawan-kawannya; selama satu malam dia harus duduk di tengah lapang sendirian tanpa menyalakan api unggun. Kalau Nasruddin mampu melakukannya, maka mereka akan mengadakan pesta untuknya. Namun kalau gagal, maka Nasruddin yang harus mengadakan pesta buat mereka.

Nasruddin menyanggupi tantangan itu. Maka di malam yang telah disepakati, Nasruddin pun melakukan tantangan itu; duduk sendirian di tengah lapang yang dingin tanpa ada api unggun untuk penghangat tubuh.

Anehnya, Nasruddin berhasil melewati tantangan itu hingga malam berganti fajar. Maka ketika paginya Nasruddin pun menagih janji kawan-kawannya.

“Kau benar-benar hebat, Nasruddin,” kata seorang kawannya. “Tapi, kalau kami boleh tahu, bagaimana caramu menaklukkan hawa dingin di tempat terbuka seperti itu?”

“Tidak sulit,” jawab Nasruddin. “Semalaman aku melihat seberkas cahaya lilin di jarak sekitar satu mil dari tempatku. Nah, dengan seberkas sinar itulah aku menghangatkan tubuhku.”

“Wah, kalau begitu kau curang, Nasruddin!” seru kawannya yang lain, yang segera saja disepakati oleh yang lainnya. “Kau telah melanggar syarat yang kita sepakati. Kalau begitu, berarti kau yang harus mengadakan pesta untuk kami.”

Nasruddin pun akhirnya dengan terpaksa memenuhi permintaan mereka.

Keesokan harinya, kawan-kawan Nasruddin mendatangi rumah Nasruddin. Mereka datang semenjak siang hari, namun sampai malam menjelang larut, hidangan belum juga disuguhkan.

“Kami sudah lapar, Nasruddin,” kata salah satu dari mereka. “Kenapa sampai sekarang belum ada apapun yang dapat kau sajikan?”

“Uh, maaf, Kawan-kawan,” ujar Nasruddin. “Masakan yang kusiapkan untuk kalian belum juga matang sampai sekarang. Padahal aku sudah meletakkannya di atas api sejak tadi malam.”

“Mana mungkin?” tanya kawan-kawannya heran. “Masakan apa yang tak dapat matang meski sudah dimasak selama itu?”

“Kalau kalian tak percaya, mari lihat sendiri ke dapur.”

Maka Nasruddin pun membawa kawan-kawannya ke dapur untuk melihat masakan yang memang telah disiapkannya dalam sebuah kuali.

Kawan-kawan Nasruddin terkejut bukan main ketika menyaksikan sebuah kuali berukuran besar berisi masakan yang tengah dimasak dengan menggunakan api dari sebatang lilin kecil. 

“Nasruddin!” seru mereka dengan terkejut campur jengkel. “Mana mungkin masakan ini akan matang kalau kau memasaknya dengan api sekecil ini…???”

Nasruddin menjawab sambil tersenyum, “Kalian ini aneh,” katanya. “Baru kemarin kalian menyatakan kalau lilin dari jarak satu mil dapat menghangatkan tubuh. Kalau begitu, tentu hal yang sama dapat terjadi kalau lilin dipakai untuk memasak. Bahkan dari jarak sedekat ini, aku sempat khawatir kalau masakannya cepat gosong…”

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.