Kisah Nasruddin Hoja dan Telur Rebus

 Kisah Nasruddin Hoja dan Telur Rebus

BIBLIOTIKA - Dua orang lelaki yang bersahabat menuju ke kota Nasruddin untuk mencari pekerjaan. Suatu hari, karena kehabisan bekal dan kelaparan, dua sahabat itu pun masuk ke sebuah warung dan masing-masing memesan dua buah telur rebus.

Karena mereka tidak memiliki uang lagi, maka kedua sahabat itu pun mencari-cari kesempatan untuk bisa kabur begitu menghabiskan telur rebus mereka. Karenanya, ketika pemilik warung tengah masuk ke dalam, kedua sahabat itu pun segera saja kabur dari warung itu.

Sampai kemudian mereka berhasil mendapatkan pekerjaan di kota itu. Sepuluh bulan kemudian mereka datang kembali ke warung yang dulu, lalu memesan makanan dan membayarnya. Setelah itu, mereka berdua dengan jujur mengutarakan kepada pemilik warung bahwa mereka dulu pernah makan di warung tersebut dan belum membayarnya, dan saat sekaranglah mereka ingin membayarnya. Masing-masing dari dua orang itu kemudian membayar sebesar dua puluh dirham sebagai pembayaran untuk sesuatu yang mereka makan dulu.

“Sebentar,” kata si pemilik warung, “apa yang kalian makan pada waktu itu?”

“Waktu itu kami masing-masing memakan dua butir telur rebus,” kata salah satu dari mereka.

“Kalau begitu saya tidak mau menerima uang pembayaran ini,” kata si pemilik warung. “Pembayaran ini jelas tidak cukup!”

Kedua orang itu tentu saja terkejut dengan jawaban itu. “Lho, bukankah itu harga yang wajar untuk telur-telur tersebut?”

“Ya, tapi kalian memakannya sepuluh bulan yang lalu. Tidakkah kalian sadari kalau keempat telur itu tentunya sekarang sudah dapat menetas dan menjadi empat ekor anak ayam, dan empat ekor anak ayam itu tentu sudah dapat bertelur, kemudian menetaskan dua puluh atau tiga puluh ekor anak ayam pula. Karena itu, maka kalian berdua berhutang kepada saya masing-masing sebesar dua ribu dirham.”

Kedua orang itu tentu saja tidak bisa menerima penjelasan itu dan tetap hanya mau membayar sebesar dua puluh dirham perorang. Si pemilik warung yang tidak puas kemudian menghadap hakim dan mengajukan tuntutan untuk dua orang itu. Sang hakim mendengarkan pengaduan itu dan lalu memutuskan hari pengadilan untuk mereka.

Dalam perjalanan pulang, kedua orang bersahabat itu berpapasan dengan Nasruddin Hoja. Melihat wajah mereka yang nampak letih dan kebingungan, Nasruddin segera saja memahami kalau kedua orang itu sedang terkena masalah.

“Kenapa kalian nampak begitu sedih?” tanya Nasruddin.

“Kami sedang mendapat kesusahan, Nasruddin,” jawab salah satu dari mereka.

“Apa kesusahan kalian?” tanya Nasruddin lagi.

Seorang dari mereka menjelaskan, “Sepuluh bulan yang lalu, saat kami tiba di kota ini, kami memasuki sebuah warung dan masing-masing dari kami memesan dua butir telur rebus karena sangat lapar sekali. Tetapi waktu itu kami tidak memiliki uang, jadi setelah makan waktu itu pun kami langsung kabur.”

“Nah, sekarang,” lanjut orang yang satunya, “kami berniat untuk membayar kepada pemilik warung itu, masing-masing sebesar dua puluh dirham, namun dia tidak mau menerima pembayaran itu.”

“Kok bisa?” tanya Nasruddin dengan heran.

Mereka menjawab, “Karena menurutnya, keempat telur yang dulu kami makan itu tentunya sekarang sudah menjadi ayam, dan ayam-ayam itu tentu sudah bertelur lagi dan kemudian menetaskan anak-anak ayam yang sekarang bisa saja telah berjumlah dua puluh atau tiga puluh ekor. Jadi menurutnya, semua itu berharga empat ribu dirham. Nah, uang sebesar itulah yang dia minta. Tentu saja kami tidak memiliki uang sebanyak itu.”

Nasruddin terdiam memikirkan masalah itu beberapa saat, kemudian dia berkata kepada kedua orang itu, “Begini saja, nanti pada waktu pengadilan dilaksanakan, katakanlah pada Pak Hakim bahwa saya adalah salah satu saksi.”

Kedua orang itu pun setuju dan mendaftarkan nama Nasruddin sebagai saksi di pengadilan nanti.

Ketika hari yang telah ditetapkan untuk pengadilan tiba, kedua orang itu berangkat ke tempat pengadilan, namun Nasruddin tidak juga muncul sampai acara pengadilan berlangsung. Sang hakim kemudian memerintahkan dua orang petugas untuk menjemput Nasruddin di rumahnya agar segera datang ke pengadilan.

Ketika dua orang petugas itu datang ke rumahnya, Nasruddin menyatakan bahwa dia sedang sibuk sehingga tak bisa pergi ke pengadilan, dan hanya bisa pergi setelah pekerjaannya selesai. Kedua petugas itu tak mau peduli apa yang tengah dikerjakan Nasruddin dan mereka memaksa Nasruddin untuk segera ikut mereka ke pengadilan sekarang juga.

Sesampai di pengadilan, Nasruddin segera saja ditanya oleh sang hakim, “Kenapa kau tidak datang tepat pada waktunya?”

“Saya sangat sibuk, Pak Hakim,” jawab Nasruddin.

“Pekerjaan apa yang sampai menyibukkanmu hingga kau tidak bisa datang ke pengadilan?” tanya sang hakim dengan gusar.

“Pak Hakim,” sahut Nasruddin menjelaskan, “besok pagi saya akan mulai menebarkan benih gandum, dan hari ini saya harus merebus cukup banyak benih gandum untuk bisa saya tebarkan di ladang.”

Mendengar penjelasan itu, sang hakim bertambah gusar. “Menebarkan benih gandum yang sudah direbus?!” tanyanya. “Apa kau pikir biji gandum yang sudah direbus dapat tumbuh?!”

“Uh, tentu saja bisa, Pak Hakim,” jawab Nasruddin. “Itu sama mudahnya dengan telur-telur rebus yang bisa menetas menjadi ayam.”

Mendengar penjelasan itu, sang hakim pun tahu keputusan apa yang paling adil untuk kedua orang yang memakan telur-telur rebus yang kini tengah dipersengketakan itu.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.