Membaca Diary Demokrasi (3)

 Membaca Diary Demokrasi

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Membaca Diary Demokrasi 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Meskipun Fatima sebenarnya menujukan konsep pemikirannya dalam upaya membebaskan kaumnya, perempuan, dari belenggu pemasungan dan tembok-tembok harem dengan tujuan agar kaum muslimah bisa menghirup udara bebas tanpa sebatas hijab, tapi mau tak mau letupan-letupan pemikirannya ikut memercik di daerah di luar itu.

Seperti sayap rajawali, Fatima Mernissi benar-benar memiliki keleluasaan dalam penggambaran pemikiran-pemikirannya. Dia bisa begitu lincah terbang dari satu dimensi ke dimensi lainnya untuk melukiskan bagaimana konsep demokrasi yang coba ditawarkannya. Karena menggunakan gaya penulisan seperti catatan diary, maka Fatima pun bisa dengan bebas menceritakan tentang pengalamannya ketika mengunjungi seseorang bernama Mina yang menjadi penenun karpet yang diopname karena kecelakaan kerja.

Fatima menulis, “Dengan sempurna ia meringkaskan rintangan-rintangan demokratis, budaya dan linguistik yang diderita oleh orang seperti dia. Akibat kecelakaannya dan meskipun sudah bekerja selama puluhan tahun, Mina dipecat oleh pabrik tempat ia bekerja yang tidak menawarkan jaminan medis atau kompensasi apapun. Ketika mengunjunginya di rumah sakit di Rabat, saya menyarankan agar ia membawa kasus tersebut ke pengawas tenaga kerja. Ia menanggapi dengan kasar. Nampaknya saya menyentuh pokok persoalan yang menjengkelkannya. ‘Dengarkan Fatima, hanya karena kau orang terdidik dan aku buta huruf, kau tidak berhak untuk memperlakukan aku seperti orang bodoh. Engkau menyuruh aku untuk menemui pengawas tenaga kerja seolah-olah aku belum pernah berpikir tentang itu. Engkau menyuruh aku ke serikat pekerja seolah-olah aku belum berpikir tentang itu. Aku katakan kepadamu bahwa Allah adalah pembelaku; Dia adalah serikatku dan pengawasku!’” (halaman 69).

Lagi-lagi Fatima berhasil menohok urat kesadaran kita yang paling dalam ketika kemudian dia menjelaskan tentang latar belakang pemikiran wanita yang dikunjunginya itu. Belum cukup, Fatima pun menganalogikan Piagam PBB yang dianggap sebagai supremasi tertinggi demokrasi dengan legenda Lalla Haguza.

Dalam literaturnya, Fatima melukiskan Lalla Haguza sebagai makhluk mengerikan yang besar namun tak berwujud atau gaib. Piagam PBB yang diklaim sebagai puncak perjanjian demokrasi itu, dalam penilaian Fatima, tidak lebih dari Lalla Haguza itu. Besar dan didengung-dengungkan, tapi tak seorang pun yang pernah melihatnya.

Dengan bahasa yang cerdas sekaligus satiris, Fatima menuliskannya dengan kata-kata, “Piagam PBB agaknya seperti Haguza itu; tidak pernah terlihat dan tidak pernah dikenal serta menyerupai sesuatu yang gaib. Ia akan tetap seperti Haguza sampai saat ia meninggalkan kopor para diplomat kita, lalu masuk ke sekolah-sekolah umum dan pasar-pasar. Sampai saat itu, piagam yang mulia ini, sebagaimana seorang perawan yang diculik, dijaga dengan cemburu oleh mereka yang menandatangani-nya.” (halaman 75).

Sekali lagi sosok perempuan cerdas ini menegaskan bahwa demokrasi hanya akan terwujud kalau diri kita sendiri memulainya dari diri sendiri. Demokrasi selamanya akan tetap menjadi mimpi meski ia telah dipiagamkan, diideologikan, bahkan diberhalakan, kalau kita tak mau memulainya dari diri sendiri. Benarkah interpretasi dan penegasan dari Fatima Mernissi ini?

Fatima Mernissi hanyalah satu di antara para perempuan dunia Arab yang terus menjelajah dalam belantara pemikiran. Setelah Aisyah Abdurrahman dan Nawal el- Sadawi dari Mesir dan Rifat Hasan dari Pakistan, Fatima Mernissi datang dari Maroko. Kalau kita kemudian menutup buku karya Fatima ini dengan sebuah pertanyaan besar tentang keabsahan konsep demokrasi versi Fatima ini, maka Fatima pun dengan bahasa lugasnya menjawab bahwa apa yang telah ditulisnya itu adalah sebuah intuisi keperempuanannya. Dan... “Tuhan Maha Tahu, intuisi perempuan jarang salah.”

Karena itu, tak ada salahnya kalau kita mengikuti intuisinya tentang demokrasi ini, yakni memulai demokrasi dari diri kita sendiri.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.