Membaca Diary Demokrasi (2)

 Membaca Diary Demokrasi

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Membaca Diary Demokrasi 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Dengan bahasa yang lembut dan terkadang meledak-ledak, Fatima Mernissi terus mengajak kita untuk membongkar puing-puing sejarah silam semenjak masa hidup Rasulullah sampai pada era sahabat. Yang menarik, dia menulis buku ini dengan sudut pandang yang benar-benar berbeda, mirip dengan catatan diary atau jurnal perjalanan, dan inilah daya tarik utama dari buku ini.

Dengan gaya tulisan bertutur seperti ini, Fatima memiliki kebebasan dan keleluasaan dalam bergerak menuangkan pemikiran-pemikirannya. Jangan heran kalau dia bisa dengan begitu lincah menggambarkan keadaan paradoksal demokrasi di masa sekarang, lalu tiba-tiba dia ‘terbang’ ke masa pemerintahan Rasulullah di masa lampau. Fatima juga menghiasi bukunya ini dengan kisah-kisah filosofi tentang Demokrasi yang mau tak mau akan membuat kita termenung sejenak untuk melakukan introspeksi dan bertanya pada akal kita sendiri, apakah saya sudah demokratis?

Demokrasi dalam konsep Fatima, sebagaimana yang ditulisnya dalam buku ini, adalah ‘demokrasi yang dimulai dari diri sendiri’. Secara tersirat dia menyatakan bahwa demokrasi selamanya akan menjadi sebuah omong-kosong kalau diri kita sendiri belum juga bisa berdemokrasi dengan diri sendiri.

Konsep unik ini tentu saja merupakan sebuah wacana baru dalam paradigma demokrasi sebagaimana yang telah kita pahami selama ini. Dengan cerdas, Fatima mengilustrasikan konsep demokrasi yang dimulai dari diri sendiri ini dengan kisah Khalifah Harun al-Rasyid.

Ceritanya, malam itu Khalifah Harun al-Rasyid mengajak wazirnya, Ja’far Barmak, dan pengawalnya, Masrur, untuk berjalan-jalan di kota Baghdad. Mereka menyamar dengan memakai pakaian saudagar, dan mereka bertiga pun berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Sampai kemudian, mereka tiba di pinggir sungai Tigris dan melihat seorang laki-laki tua sedang duduk di atas perahu.

Khalifah dan para pengawalnya yang menyamar itu meminta kepada si lelaki tua untuk membawa mereka naik perahu di sungai dan menawarkan bayaran yang menggiurkan. Tapi laki-laki tua itu menolak, sambil berkata, “Khalifah Harun al-Rasyid setiap malam turun ke sungai Tigris dengan perahu negara, dan bersamanya seseorang berteriak dengan keras, ‘Hei kamu semua, besar maupun kecil, terhormat maupun jelata, dewasa maupun anak-anak, yang berada di perahu sungai Tigris, malam ini aku akan memotong kepala kalian atau menggantungnya di tiang perahu.”

Lalu lelaki tua itu menunjuk perahu yang tengah melaju di tengah alur sungai yang mereka lihat. Di haluan perahu itu, nampak seorang laki-laki memegang tongkat emas merah, dan orang-orang melihat di buritan ada laki-laki lain yang berpakaian sama dengan orang pertama, juga membawa tongkat yang sama, sementara di perahu itu terdapat beratus-ratus budak putih berdiri berjejer di kiri-kanan perahu.

Di tengah terdapat sebuah tahta berbalut emas merah, dan di sana duduk seorang laki-laki tampan bagai bulan. Ia mengenakan pakaian hitam yang menjadi lambang warna kerajaan Abbasiyah, bersulam emas. Di depannya tampak berdiri seseorang yang persis seperti Wazir Ja’far dan di depannya lagi berdiri pengawal, mirip Masrur dengan pedang di tangan.

Lalu Khalifah mengamati lelaki muda yang duduk di singgasana dan lalu berkata dengan gemetar kepada Ja’far, “Sesungguhnya laki-laki muda itu tidak lain adalah Khalifah...!”

Di sini, Fatima dengan cerdas mempertanyakan kepada kita, apa yang akan kita rasakan, apa yang akan kita lakukan bila kita dihadapkan dengan diri sendiri yang ternyata tidak seperti yang kita bayangkan? Dan semakin besar atau semakin tinggi tingkat kedudukan seseorang, tensi keterkejutan itu tentu akan semakin besar, dan ‘tuntutan demokrasi’ pun semakin besar pula.

Dari sini, Fatima kemudian menukik kepada bangsanya sendiri (Arab) yang mati-matian mengutuk bangsa Barat tapi tak kuasa menahan serbuan industri dari bangsa Barat semacam telepon atau televisi. Bahkan bangsa Arab pun kebingungan dalam memberi nama barang-barang semacam itu, karena kosakata di negeri mereka belum mengenal barang-barang impor dari ‘negeri terkutuk’ seperti yang mereka gambarkan itu.

Meski kemudian kamus bahasa mereka menyediakan kata-kata untuk menyebut barang-barang tersebut, namun masyarakat lebih memilih kata-kata ‘baku’ (dari Barat) yang telah menjadi penyebutannya. Ini jelas sebuah ‘paradoksal demokrasi’, menurut Fatima, yang mau tak mau harus ditelan oleh bangsanya, meskipun pahit.

Baca lanjutannya: Membaca Diary Demokrasi (3)

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.