Membaca Diary Demokrasi (1)


Judul Buku: Islam dan Demokrasi
Penulis: Fatima Mernissi
Penerjemah: Amiruddin Arrani
Penerbit: LKiS
Kota Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 1994
Jumlah Halaman: viii + 228 halaman

BIBLIOTIKA - Demokrasi, yang pada akhir abad ke-18 dijuluki oleh Benjamin Franklin sebagai ‘Matahari Terbit’, ternyata lebih dari 200 tahun kemudian masih tetap bersinar cerah. Bagi orang-orang di seluruh dunia, demokrasi semakin menjadi pusat dan tumpuan harapan akan masa depan yang lebih cerah dan cita-cita menuju suatu kehidupan yang penuh kebebasan dan bermartabat.

Demokrasi telah didiskusikan selama lebih kurang 2500 tahun, suatu kurun waktu yang cukup lama untuk memberikan suatu perangkat gagasan yang jelas tentang demokrasi yang dapat disepakati oleh hampir semua orang. Namun ternyata, selama kurun waktu itu, dimana demokrasi telah dibahas, diperdebatkan, didukung, diserang, dilecehkan, ditegakkan, dipraktekkan, dihancurkan, dan kadang ditegakkan kembali, tampaknya semuanya itu tidak (atau belum) juga bisa menghasilkan kesepakatan tentang masalah-masalah yang paling pokok mengenai demokrasi.

Saat ini, nyaris tidak ada satu pun kekuatan negara di dunia ini yang secara eksplisit mengakui tidak menerapkan demokrasi. Demokrasi telah menjadi terminologi klise yang terbukti sangat ampuh untuk melegitimasi dan mengukuhkan eksistensi kekuasaan negara yang sebenarnya otoriter dan lalim.

Dalam perkembangan terkini, demokrasi sering menjadi biang retorika maupun apologi dalam pernyataan resmi untuk mempermanis wajah kekuasaan negara yang secara de facto sangat menindas eksistensi rakyat. Tak jarang, kekuasaan negara yang menyatakan diri demokratis namun banyak rakyatnya yang justru terampas haknya dan teraniaya.

Ironi semacam itu membuat demokrasi menjadi semacam contradictio-interminis (berlawanan dengan dirinya sendiri), lalu menghembuskan semacam lekatan citra ke lingkungan opini publik bahwa demokrasi sulit dipahami, tidak mudah dijelaskan, dan absurd.

Identitas dan hakikat demokrasi potensial tertimpa krisis di dalam kekuasaan negara yang cenderung apatis dan represif pada variabel publik sehingga melahirkan desain kekuasaan negara yang memusat hanya pada dirinya sendiri dan diktatorial.

Kekuasaan negara piramidal seperti itu kerap menjadikan aspirasi publik sekedar menjadi suara arus bawah, bisik-bisik subversif, yang tanpa signifikansi apapun. Watak kekuasaan negara seperti itu merangsang tumbuhnya sikap apriori, bahkan anarki di level publik terhadap kekuasaan negara. Relasi negara-publik menjadi tegang, saling curiga, sensitif dan melahirkan konflik-konflik dalam kawasan wacana maupun praksis.

Fenomena kebangkitan agama dan demokratisasi, akhir-akhir ini banyak menarik perhatian. Prinsip kebebasan dan arus budaya global pun hampir merebak ke semua negara. Maka penguasa dan negara otoriter sudah tidak lagi menarik perhatian dunia, bahkan dihalangi kehadirannya. Dan revitalisasi agama yang mengarah pada politisasi dan gerakan radikal menjadi pemberitaan yang tak habis diperbincangkan.

Meskipun demokrasi menurut WB. Gallie merupakan suatu konsep yang pada prinsipnya masih diperdebatkan, namun tuntutan partisipasi rakyat sudah merupakan keharusan yang tak bisa dielakkan. Ditambah menguatnya identitas komunal melalui sentimen agama, maka agama menjadi faktor pendorong yang paling efektif untuk menciptakan demokratisasi.

Islam dan demokrasi

Selama ini, wajah Islam dipersepsikan garang, penuh fanatisme, kekerasan dan pelopor terorisme. Namun Islam ternyata memiliki tradisi dan landasan teologis untuk membangun masyarakat egaliter, berkeadaban dan demokratis. Nurcholis Madjid bahkan menyatakan bahwa demokrasi merupakan cita-cita Islam. Masyarakat yang berkeadaban (civility) pun sudah ditunjukkan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau bermukim di Madinah. Saat itu, dengan pluralitas agama dan suku-suku, Rasulullah sebagai pemimpin sudah meletakkan dasar-dasar hukum dan pergaulan antar sesama.

Buku yang ditulis oleh Fatima Mernissi dengan judul Islam dan Demokrasi ini menjelaskan kepada kita bagaimana cikal-bakal demokrasi di dalam Islam dibentuk semenjak zaman Rasulullah masih hidup sekian abad yang lampau.

Dengan menggunakan prolog paska terjadinya Perang Teluk yang mengguncang dunia itu, Fatima memulai ‘perjalanan’nya dalam menapaki lorong panjang demokrasi, memasuki labirin waktu, menembus ruang ke masa lalu. Dengan bahasa yang sangat lincah sekaligus kaya dengan nuansa, buku ini akan bercerita kepada kita tentang demokrasi, sekaligus mempertanyakannya.

Mengapa janji demokrasi begitu mengancam hirarki-hirarki? Mengapa ia begitu mengguncangkan para rezim di Asia dan Afrika? Mengapa ia mendorong para pemegang kekuasaan itu lari pada tradisi lama? Apakah ide demokrasi menyentuh yang paling inti dari tradisi masyarakat ini; kemungkinan menghiaskan jubah kekerasan dengan kesakralan?

Kredibilitas kepemimpinan Barat harus mulai dipertimbangkan oleh bangsa-bangsa yang telah mengalami teror-teror kolonialnya. Tidak perlu dipercaya bila mereka berjanji akan mengutuk semua bentuk kekerasan terhadap umat manusia sebagai tindakan yang tidak sah. Model demokratis merupakan suatu jalan keluar dari malapetaka dunia, internal dan antar negara yang menyedihkan karena ia tampil menentang kekerasan dan keabsahannya (halaman 5).

Baca lanjutannya: Membaca Diary Demokrasi (2)

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.