Kearifan Lokal dan Teknologi Dalam Dunia Pendidikan (4)

  Kearifan Lokal dan Teknologi dalam Dunia Pendidikan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Kearifan Lokal danTeknologi dalam Dunia Pendidikan 3). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Kearifan lokal dalam perangkat lunak pembelajaran

Dalam konteks pendidikan inilah, Lawrence A. Tomei, seorang pakar pengajaran menggunakan teknologi, menyatakan dalam bukunya, The International Society for Technology in Education, butir-butir penting berikut ini:

Technology Standards for Students:

Basic operations and concepts: Students must demonstrate a sound understanding of the nature and operation of technology systems and become proficient in the use of technology.

Social, ethical, and human issues related to technology: This standard infuses an understanding of the responsible use of technologies, information, and software and encourages positive attitudes toward technology uses that support lifelong learning, collaboration, personal pursuits, and productivity

Technology productivity tools to enchance learning: Included in this standard are technologies to increase productivity and promote creativity; collaborate in constructing technology-enhanced models, prepare publications, and produce other creativity works.

Technology communications tools: The fourth category concentrates on telecommunications technologies, preparing students to collaborate, publish, and interact with peers and experts, and communicate effectively to multiple audiences.

Technology research tools: This category involves students use of technologies to locate, evaluate, and collect information from a variety of sources; process data and report results; and evaluate and select information resources appropriate for specific tasks

Technology problem-solving and decision-making tools: The final category prepares students to use technology resources for solving problems and making informed decisions in the real world.

Supaya terjadi padu-padan, berikut ini adalah standar yang diharapkan ada pada para guru:

Technology Standards for Teachers:

Technology Operations and Concepts: Teachers are expected to demonstrate sound understanding of technology operations and concepts, including knowledge of concept related to technology and current and emerging technologies.

Planning and Designing Learning Environment and Experiences: Teachers are expected to design, implement, manage, and assess their own appropriate learning situations incorporationg technology-enhanced instructional strategies to support the diverse needs of learners.

Teaching, Learning and the Curriculum: Teachers are expected to infuse technology into their curriculum to maximize student learning, address the diverse needs of students, and develop higher-order skills and creativity.

Assessment and Evaluation: Teachers are expected to apply technologies effectively. To accomplish this standard, teachers must be able to evaluate technology-based instructional strategies and the subject matter content to be taught

Productivity and Profesional Practice: Teachers must use technology to enhance their own productivity and profesional practice, especially to communicate and collaborate with peers, parents, and the larger community in order to nurture student learning.

Social, Ethical, Legal and Human Issues: As their students, teachers must understand the social, ethical, legal and human issues surrounding the use of technology in schools and apply those principles in practice.

Konteksnya jelas sudah, bahwa penggunaan teknologi untuk pembelajaran bukanlah sekedar memahamkan teknologinya semata-mata, tetapi lebih pada memahamkan “apa, mengapa dan bagaimana seharusnya”. Akses kepada teknologi pembelajaran haruslah sampai kepada akses “mengubah, memodifikasi, merancang ulang” teknologi tersebut menjadi lebih baik dan lebih cocok dengan kebutuhan pendidikan.

Menjadikan sebuah teknologi pendidikan bersifat ‘proprietary’, terbatas hak ubah dan rekayasanya, jelas sekali akan menghambat pengembangan kearifan lokal dalam pengembangan teknologi pendidikan.

Kearifan lokal dalam pelatihan guru

Melatih seorang guru bukanlah seperti melatih seorang teknisi yang sehari-harinya berhadapan dengan  mesin pabrik. Solusi yang ditawarkan oleh seorang guru kepada para siswanya tidak pernah cukup jika hanya mengandalkan logika Aristotelian, jika A = B, B = C, maka A = C.

Seorang guru haruslah memahami konsekuensi teknologi yang ia gunakan, latar belakang mengapa ia menggunakan teknologi itu, kapan seharusnya ia menggunakan dan bagaimana masa depan teknologi yang sedang ia gunakan.

Membuka akses sumber kepada para guru untuk belajar lebih banyak tentang mengapa begini mengapa begitu,  pada akhirnya diharapkan mampu membuat loncatan-loncatan pemikiran para siswa—yang usianya hampir dapat dipastikan lebih muda—untuk kemudian dapat difasilitasi oleh para guru ini dalam proses kreativitas tak terbatas dan bertanggung jawab, bukan doktrinatif, bukan dengan sekedar mengatakan bahwa tombol Start selalu berada di sudut kiri bawah komputer, atau bahwa internet adalah Google, Yahoo dan Facebook atau yang semacamnya.

Lebih luas lagi, semangat kreativitas itu diharapkan akan berbekas pada jiwa para siswa mereka, untuk meyakini bahwa suatu saat nanti merekalah yang memegang kendali teknologi, merekalah yang akan dengan bangga mengatakan bahwa sebuah produk yang bermutu adalah produk yang di dalamnya tertulis “Buatan Indonesia”.

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.