Ciri-ciri Perempuan yang Mudah Dicerai Suami (1)

Ciri-ciri Perempuan yang Mudah Dicerai Suami

BIBLIOTIKA - Para aktivis dan pejuang perempuan (feminis) seringkali menyatakan bahwa tata kehidupan gender kita tidak (atau belum) adil karena perempuan masih menjadi sosok yang seringkali termarjinalkan. Salah satu contoh yang paling sering dikemukakan oleh para pejuang kesetaraan gender ini (khususnya dalam pernikahan dan rumahtangga) adalah kekuatan posisi perempuan di hadapan lembaga perkawinan dan pengadilan menyangkut perkawinan.

Apabila lelaki menginginkan perceraian, begitu argumen para feminis itu, maka lelaki tinggal menjatuhkan talak dan perceraian pun terjadi. Terlepas apakah kehendak perceraian (dari talak itu) masuk akal ataukah tidak, wajar ataukah tidak, perceraian tetap saja terjadi kalau lelaki sudah menjatuhkan talak.

Namun apabila perempuan yang menginginkan perceraian, maka perempuan tidak bisa menjatuhkan talak—kehendaknya untuk bercerai harus melalui pengadilan dan harus menjalani berbagai hal yang merepotkan—dan dia harus menjelaskan alasannya mengajukan perceraian untuk kemudian dipertimbangkan oleh majelis hakim apakah tuntutannya itu wajar ataukah tidak, layak ataukah tidak, pantas ataukah tidak.

Jika lelaki ingin bercerai, dia hanya perlu satu langkah. Tetapi jika perempuan yang menginginkan bercerai, maka dia memerlukan puluhan langkah. Setidaknya seperti itulah yang terjadi di dalam fenomena masyarakat kita.

Nah, terlepas dari apa yang diteriakkan oleh para feminis, dan terlepas mengapa suami atau istri menginginkan atau tidak menginginkan perceraian, sesungguhnya ada tipe-tipe perempuan tertentu yang memang ‘rentan’ untuk menjadi sosok-sosok perempuan yang mudah diceraikan oleh suaminya.

Dalam hal ini, seringkali yang menjadi penyebab terjadinya perceraian bukanlah pihak suami, melainkan pihak istri yang memang memiliki sifat-sifat tertentu yang membuat suaminya kemudian ‘nekat’ memilih bercerai. Berikut ini adalah ciri-cirinya…

Dia tidak dicintai suaminya

Ini alasan yang paling fundamental menyangkut mengapa seorang perempuan atau seorang istri dicerai oleh suaminya. Dalam kultur masyarakat kita yang masih menganggap perempuan dapat ‘nunut’ atau ‘mengikuti’ suaminya, maka perempuan seringkali dapat hidup bersama lelaki yang mungkin tidak dincintainya dan ia akan belajar untuk mencintai suaminya.

Lebih dari itu, secara psikologis, perempuan adalah makhluk yang mewakili secara tepat apa yang dikatakan oleh pepatah Jawa yang menyebutkan bahwa ‘witing tresno jalaran soko kulino’ atau cinta itu adalah karena kebiasaan.

Tetapi hal seperti itu jarang terjadi pada lelaki. Lelaki tidak bisa dipaksa untuk hidup dengan seorang perempuan yang tidak dicintainya, dan hanya ada satu di antara seribu lelaki yang mau hidup dengan cara seperti itu untuk kemudian mencoba belajar mencintai istrinya. Tradisi kawin paksa (menikah tanpa didasari cinta) biasanya berhasil ketika pihak perempuan yang dipaksa, namun perkawinan jenis ini seringkali akan kandas di tengah jalan ketika pihak lelakilah yang dipaksa.

Jadi, perempuan yang tidak dicintai suaminya adalah ciri pertama dari ciri perempuan yang mudah dicerai oleh suaminya. Orang yang mencoba berpikir bijak seringkali menyatakan bahwa cinta itu bertumbuh dan berkembang, bahwa seseorang yang pada mulanya tidak cinta bisa menjadi cinta, bahwa segalanya bisa saja berubah. Namun hal-hal semacam itu, secara psikologis (sekali lagi, secara psikologis) seringkali terjadi pada perempuan dan jarang terjadi pada lelaki.

Mengapa…? Karena perempuan adalah makhluk emosi—dia bisa menyingkirkan otak, nalar bahkan akal sehatnya jika emosinya tersentuh. Namun hal semacam itu jarang sekali terjadi pada lelaki. Karenanya, jika perempuan ingin merasa lebih save dari ancaman perceraian, yang paling utama adalah meyakinkan diri bahwa dirinya dicintai oleh lelaki pasangannya.

Baca lanjutannya: Ciri-ciri Perempuan yang Mudah Dicerai Suami (2)

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.