Ciri-ciri Perempuan Perusak Rumahtangga (3)

  Ciri-ciri Perempuan Perusak Rumahtangga

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Ciri-ciri Perempuan Perusak Rumahtangga 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Dia tak peduli urusan rumahtangga

Sekali lagi, bayangkan Anda bermain catur dengan seseorang. Anda duduk berhadapan dengan orang itu, dengan papan catur di tengah-tengah Anda berdua. Anda dan lawan main Anda mulai meletakkan buah-buah catur itu pada tempatnya masing-masing yang tepat, dan Anda pun sudah membayangkan sebuah permainan catur yang mengasyikkan. Dan permainan catur pun dimulai...

Namun, ketika acara sedang di tengah jalan, saat permainan tengah berlangsung dan Anda masih asyik bermain, tiba-tiba lawan main Anda bangkit dari duduknya dan berkata, “Eh, sekarang kau teruskan sendiri ya permainannya. Aku tidak bisa meneruskan acara main kita karena aku tiba-tiba ingin pergi ke rumah temanku...”

Mungkinkah Anda masih mau meneruskan permainan catur itu? Senikmat dan sehebat apapun kecintaan Anda pada permainan catur, Anda pasti tak akan mau bermain sendirian, bukan? Begitu pula halnya dengan ‘bermain’ dalam sebuah lembaga bernama perkawinan; kedua pihak harus saling menghormati dan melayani.

Keretakan dan kehancuran rumahtangga seringkali dipicu oleh karena salah satunya mulai tidak mau lagi mengurusi dan peduli dengan urusan rumahtangga. Alasannya mungkin bisa saja karena kesibukan, tanggung jawab sosial, pendidikan, karir dan segala macam alasan lainnya. Namun apapun sebab dan alasannya, ketidakpedulian terhadap rumahtangga, sekali lagi, adalah pemicu rusaknya bangunan keluarga.

Jika suami sibuk mengurusi pekerjaan di luar rumah, sistem sosial kita masih bisa memakluminya, karena betapapun juga, itu merupakan tanggung jawabnya dalam mencari nafkah untuk keluarga. Namun jika istri yang sibuk mengurusi segala urusan di luar rumah hingga tak mempedulikan rumahtangga, padahal suaminya masih dapat menafkahinya dengan baik dan cukup layak, dia bukan hanya akan dianggap sebagai perempuan yang egois, namun juga menelantarkan keluarganya, suami dan anak-anaknya.

Dia suka bergaul dengan orang rusak

Ahli psikologi, khususnya para pakar pengembangan diri, menyatakan bahwa kalau Anda ingin tahu seperti apa seseorang lima tahun yang akan datang, lihatlah siapa orang-orang yang bergaul dengannya dan buku apa yang dibacanya. Sedemikian kuat dan besarnya pengaruh pergaulan ini hingga menjadi faktor penentu perubahan seseorang dalam waktu lima tahun.

Sebaik apapun seseorang, dia akan cenderung menjadi rusak apabila pergaulannya adalah pergaulan yang rusak. Hanya satu di antara seribu orang baik yang tetap baik meski bergaul di lingkungan yang rusak. Sebagaimana air putih akan menjadi hitam dengan satu tetesan tinta, pengaruh pergaulan akan meresap dengan sebegitu kuat bagi setiap orang.

Dalam kaitannya dengan kehidupan berumahtangga, seorang istri harus memahami bahwa pergaulan yang pernah dimilikinya dulu kini harus ‘disaring’ setelah dia memiliki suami. Mungkin waktu masih sendiri dia memiliki pergaulan yang kurang baik, tetapi ketika dia telah bersuami, maka dia pun harus mulai bisa menahan diri untuk tidak terus berhubungan dengan pergaulan yang kurang baik itu. Tentu saja yang dimaksud bukanlah memutuskan hubungan dengan persahabatan, tetapi menjaga agar persahabatan itu tidak menjadi jalan kerusakan.

Lebih parah lagi kalau pergaulan yang kurang baik itu justru muncul ketika telah berkeluarga; ini sama saja bermain-main dengan buaya saat tengah berlayar di sungai di atas sampan kecil yang aman. Barangkali buaya itu tidak akan menerkam, namun siapa yang tahu kalau dia tidak akan menabrak sampan hingga menenggelamkan penumpangnya ke arus sungai...?

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.