Ciri-ciri Perempuan Perusak Rumahtangga (1)

Ciri-ciri Perempuan Perusak Rumahtangga

BIBLIOTIKA - Anda pasti tahu permainan catur. Ini adalah permainan yang dimainkan oleh dua orang yang mengandalkan kekuatan otak dan pikiran untuk menggerakkan buah atau bidak catur di papan catur. Meskipun dinamakan atau dianggap sebagai bagian dari olahraga, namun permainan ini sama sekali tidak mengandalkan kekuatan fisik sebagaimana olahraga lainnya. Kita meletakkan buah-buah catur di papan, tepat di bagian-bagiannya yang benar, kemudian menggerakkan dan menjalankannya sesuai dengan aturan main yang berlaku.

Permainan catur memiliki aturan main yang jelas meskipun mungkin tidak tertulis, dan masing-masing pemain catur mengetahui aturan itu dan mematuhinya bersama agar permainan catur dapat berlangsung dengan mulus. Apabila suatu waktu salah seorang pemain menggerakkan buah catur dengan tidak benar, tidak sesuai dengan aturan main yang berlaku, apa langkah bijak menghadapi hal semacam itu? Tentu saja dengan mengingatkannya, atau menasihatinya.

Membangun dan membina rumahtangga tidak jauh berbeda dengan itu. Barangkali sepasang suami-istri tidak menetapkan aturan-aturan baku yang tertulis di dinding kamar mereka, namun setidaknya sepasang suami-istri tahu dan memahami ‘aturan main’ yang berlaku dalam sebuah rumahtangga.

Jika sewaktu-waktu salah satu pihak melenceng dari aturan main, maka mengingatkan atau menasihati adalah jalan terbaik. Namun, jika peringatan dan nasihat itu sama sekali tak diindahkan dan terus saja dilakukan, maka rumahtangga pun sering berakhir dengan perceraian.

Sebagaimana bermain catur, maukah Anda bermain catur dengan seseorang yang menggerakkan buah-buah catur seenaknya sendiri meski dia tahu aturan mainnya? Kalau dia sudah diperingatkan dan dinasihati tapi tetap saja membandel dan terus saja melakukannya, maka tentu lebih baik menutup acara itu dan memasukkan buah-buah catur ke dalam kotaknya!

Agar rumahtangga berlangsung dengan baik, kedua pihak suami-istri harus saling mendukung dan membangun. Namun jika salah satu pihaknya, baik pihak suami maupun istri mulai melakukan ‘perusakan’ dan tak peduli dengan nasihat atau peringatan yang telah diberikan, maka rumahtangga pun akan segera gulung layar.

Nah, untuk melengkapi ilustrasi menyangkut masalah tersebut, berikut ini adalah ciri-ciri dari perempuan yang bisa disebut sebagai perusak rumahtangga.

Dia menginginkan kebebasan

Secara esensial, hidup sendiri dengan hidup bersama orang lain dalam sebuah lembaga bernama perkawinan tentu saja memiliki perbedaan, dan salah satu perbedaannya adalah dalam hal kebebasan. Setiap orang yang berumahtangga tentu harus memahami hal itu, dan tentunya harus pula rela mengurangi tingkat kebebasannya demi keutuhan rumahtangga.

Namun ada kalanya lelaki atau perempuan yang seolah belum juga memahami hakikat berumahtangga ini, dan mereka masih saja menginginkan kebebasan sebagaimana saat masih sendiri. Keinginan untuk terus bebas inilah yang seringkali menjadi palu pertama yang menghantam bangunan rumahtangga hingga menciptakan keretakan. Jika keretakan awal itu tidak segera ditambal (pihak yang ingin bebas masih saja ingin memperturutkan keinginan kebebasannya), maka keretakan bisa berakhir dengan kehancuran.

Perempuan yang tidak menyadari hakikatnya sebagai istri, perempuan yang masih menginginkan kebebasan sebebas-bebasnya sebagaimana ia masih belum bersuami, adalah salah satu ciri dari perempuan perusak rumahtangga.

Dia kehilangan kasih sayang

Secara hakiki, apa perbedaan antara cinta dengan kasih sayang? Cinta adalah sesuatu yang menarik dan mempertemukan, sementara kasih sayang adalah sesuatu yang merekatkan dan menjaga. Pada usia awal pernikahan, barangkali cinta masih memegang peranan penting karena unsur cinta inilah yang menjadikan dua manusia asing bisa hidup bersama dalam satu rumah, di bawah satu atap.

Baca lanjutannya: Ciri-ciri Perempuan Perusak Rumahtangga (2)

Tersedia paket buku digital BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.