Tips Agar Belajar Tidak Membosankan

Tips Agar Belajar Tidak Membosankan

BIBLIOTIKA - Suatu malam, tanpa sengaja saya mendengar percakapan tetangga sebelah rumah, dialog antara ayah dan anaknya. Si ayah rupanya sedang kesal kepada si anak yang mungkin menurutnya malas belajar. Kira-kira seperti inilah yang dikatakan si ayah malam itu, “Kapan kamu mau belajar?! Setiap hari yang kamu lakukan cuma main game melulu!”

“Saya bosan kalau terus-terusan belajar, Yah,” sahut si anak.

Suara ayahnya terdengar meninggi. “Kamu tidak boleh bosan belajar! Itu tugasmu sebagai pelajar!”

“Ayah selalu menyuruh saya untuk belajar,” sahut si anak yang suaranya juga ikut meninggi, “tapi ayah tidak pernah memberitahu bagaimana cara belajar biar tidak membosankan!”

Meskipun mungkin jawaban anak itu dapat dianggap tidak sopan, tetapi jawaban anak itu seperti ikut menampar pikiran saya. Sebagai seorang guru, saya selalu meminta dan menasihati murid-murid saya agar rajin belajar. Tetapi—sekarang saya baru menyadari—saya tidak pernah memberitahu mereka tentang bagaimana cara agar bisa asyik belajar sehingga tidak mudah merasa bosan.

Kalau saya flashback ke masa lalu, saya juga pernah mengalami saat-saat seperti yang dialami oleh anak tetangga saya itu. Saya pernah menjalani waktu-waktu ketika saya masih menjadi pelajar, dan terkadang—atau bahkan sering—saya pun merasa malas belajar karena aktivitas itu tidak jarang terasa membosankan.

Alasan mengantuk, misalnya. Bagi orang-orang dewasa mungkin itu terdengar sebagai alasan yang remeh, tetapi kenyataannya ada banyak anak yang memang tidak bisa belajar karena entah mengapa dia selalu saja merasa mengantuk setiap kali membuka bukunya.

Seperti ada semacam sensor otomatis yang memberitahu pikirannya agar segera mengantuk setiap kali dia membuka buku untuk belajar. Mengapa kenyataan “aneh” semacam itu bisa terjadi? Menurut saya, faktor kebosanan itulah masalahnya.

Belajar, sebagaimana aktivitas lain yang dilakukan secara terus-menerus, terkadang menjadi sesuatu yang membosankan ketika dalam aktivitas itu kita tidak memasukkan unsur kreativitas dan motivasi yang kuat di dalamnya. Apabila seseorang bersekolah sampai kelas tiga SMA, misalnya, maka setidaknya dia telah melakukan aktivitas belajar selama dua belas tahun.

Melakukan hal yang sama—belajar—selama dua belas tahun berturut-turut tentunya wajar kalau kemudian aktivitas itu sesekali menimbulkan rasa bosan. Sebagaimana makanan yang paling lezat pun akan terasa membosankan dan membuat perut mual jika dimakan terus-menerus, aktivitas belajar pun tak jauh beda dengan itu.

Berdasarkan pemikiran semacam itulah, kita perlu mencari cara-cara yang kreatif agar aktivitas belajar jadi lebih efektif dan menyenangkan. Serial artikel mengenai pendidikan dan pembelajaran di situs BIBLIOTIKA bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan. Semoga bermanfaat.

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.