Tinjauan Mengenai Minat Baca Masyarakat

Tinjauan Mengenai Minat Baca Masyarakat

BIBLIOTIKA - Sebuah negara disebut maju dan berkembang kalau penduduknya atau masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi dengan dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada di negeri tersebut.

Persoalan mengenai minat baca sudah sering ditulis di berbagai media masa dan juga sering dibicarakan dan diseminarkan, namun topik ini masih saja sangat menarik untuk dibicarakan. Hal ini disebabkan karena sampai saat ini peningkatan minat baca masyarakat masih tetap berjalan di tempat walaupun di sana-sini usaha telah dilakukan oleh pemerintah dengan dibantu oleh pihak-pihak lain yang sangat berkaitan dengan minat baca masyarakat, seperti guru, pustakawan, penulis, media masa dan gerakan cinta buku. 

Padahal jika dicermati, penerbitan majalah dan koran dalam sepuluh tahun terakhir jumlahnya sangat meningkat tajam. Mestinya semakin banyak penerbitan koran dan majalah, maka akan berimbas pada peningkatan minat baca masyarakat terhadap buku. Tetapi sayangnya, minat baca ini hanya sebatas peningkatan minat baca masyarakat terhadap koran dan majalah saja.

Sebagai masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan, kita mesti bertanya, kenapa hal ini terjadi atau apa penyebabnya sehingga minat baca masyarakat Indonesia dikatakan rendah dan berjalan di tempat?

Faktor-faktor yang menghambat minat baca

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan bisa menghambat masyarakat untuk mencintai dan menyenangi buku sebagai sumber informasi layaknya membaca koran dan majalah, yaitu:

Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di kelas.

Banyaknya hiburan televisi dan permainan di rumah atau di luar rumah yang membuat perhatian anak atau orang dewasa teralihkan dari buku. Sebenarnya dengan berkembangnya teknologi internet akan membawa dampak terhadap peningkatan minat baca masyarakat kita, karena internet merupakan sarana visual yang dapat dihubungkan dengan sumber informasi yang lebih baru dan cepat, tetapi hal ini disikapi lain karena yang dicari di internet kebanyakan berupa hal-hal yang lebih bersifat hiburan.

Banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, mall, supermarket, dan lain-lain, yang juga menjauhkan orang dari aktivitas membaca. 

Budaya baca masih belum diwariskan oleh nenek moyang kita, hal ini terlihat dari kebiasaan orangtua yang sering mendongeng kepada putra-putrinya sebelum anaknya tidur, dan ini hanya dilakukan secara verbal atau lisan saja dan tidak dibiasakan mencapai pengetahuan melalui bacaan.

Para ibu disibukkan dengan berbagai kegiatan di rumah/di kantor serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, sehingga waktu untuk membaca menjadi sangat minim.

Harga buku bagi sebagian masyarakat umum dianggap sangat mahal dan begitu juga jumlah perpustakaan masih sedikit dibanding dengan jumlah penduduk yang ada, dan kadang-kadang letaknya juga jauh.

Peran orangtua

Untuk menyiasati supaya masyarakat kita gemar membaca, dan menjadikan aktivitas membaca sebagai kebutuhan sehari-hari, maka peranan orangtua sangat dibutuhkan dengan cara membiasakan anak-anak usia dini untuk mengenal apa yang dinamakan buku, dan membiasakan untuk membaca dan bercerita melalui buku yang dibacanya.

Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang kuat dalam diri si anak sampai dewasa, sehingga membaca adalah suatu kebutuhan, dan bukan sekedar hobi atau pengisi waktu luang semata.

Peran pemerintah

Pemerintah daerah, dengan dibantu oleh kalangan dunia pendidikan, media massa, dan gerakan masyarakat cinta buku dapat bersama-sama merangkul pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mensponsori pendirian perpustakaan-perpustakaan kecil di lingkungan masyarakat seperti desa/kampung dengan bantuan berupa sarana dan prasarana dan koleksi perpustakaan, yang pengelolaannya dapat diserahkan kepada pamong desa atau Karang Taruna.  

Supaya efek keberadaannya dapat lebih meluas, dapat diadakan lomba yang bisa diekspos oleh media massa lokal maupun nasional, dengan iming-iming hadiah yang menarik, dan ini harus dilakukan secara teratur setiap tahunnya.

Peran lembaga pendidikan

Peranan kepala sekolah sangat penting sebagai ujung tombak terhadap pendirian perpustakan di sekolah. Begitu pun fungsi guru serta pustakawan sebagai pengembang perpustakaan harus selalu mendapat perhatian serius dari pihak pemerintah daerah, karena banyak sekolah dasar sampai menengah belum memiliki perpustakaan, dan kalaupun ada biasanya belum dapat berkembang secara maksimal karena berbagai masalah. 

Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi perpustakaan sekolah dengan cara menggandeng pihak-pihak swasta sebagai sponsor atau sebagai mitra. Perpustakaan keliling yang sudah ada sekarang ini perlu ditingkatkan dan diperluas jangkauannya dengan penambahan armada dan koleksi setiap tahunnya, dan bukan malah sebaliknya; semakin tahun semakin menurun dan akhirnya tidak beroperasi lagi. 

Apabila kita mencermati secara seksama, sebenarnya untuk menciptakan dan mengembangkan minat baca masyarakat akan bisa terwujud  kalau semua pihak dari mulai pemerintah, kalangan swasta, pustakawan, dunia pendidikan, orangtua, pecinta buku maupun elemen masyarakat lainnya mau sama-sama berusaha untuk saling melengkapi dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan bersama, yaitu mencerdaskan masyarakat melalui pemasyarakatan perpustakaan. 

Kalau semua sekolah/perguruan tinggi maupun dalam lingkungan kampung/desa tersedia perpustakaan, maka tentu akan banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut. Dengan demikian para penulis buku, penerbit, dan toko buku yang memproduksi dan mengedarkan buku serta mengisi perpustakaan di seluruh negeri dapat meningkatkan produksinya, yang dari sini juga akan membuat lapangan kerja semakin terbuka luas.

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.