Renungan-renungan Bijak Tentang Kehidupan

Renungan-renungan Bijak Tentang Kehidupan

BIBLIOTIKA - Hidup merupakan pertukaran antara kesenangan instan dan ganjaran jangka panjang. Kehidupan kita menawarkan dua hal untuk kita pilih; “Membayar sekarang dan menikmati nanti,” atau, “Menikmati sekarang dan membayar nanti.” Kalau kita menginginkan kesenangan, kita bisa melakukannya saat ini juga.

Kita bisa menghabiskan waktu kita hanya dengan menonton televisi atau memutar VCD dan melupakan segala tugas yang lainnya. Tapi pada akhirnya, tugas-tugas lainnya itu akan terus menuntut kita untuk mengerjakannya. Seorang mahasiswa juga bisa saja menghindari tugas membuat skripsi dan mengisi waktu hanya dengan jalan-jalan dan shopping ke mall.

Tetapi sekuat apapun dia menghindari tugas itu, waktu akhirnya akan menuntutnya untuk mengerjakan tugas yang dihindarinya itu. Kita bisa saja mengisi hidup saat ini dengan kenikmatan-kenikmatan yang bisa dibeli dengan uang, tetapi ketika uang yang dihamburkan itu habis, maka kita pun akan dihadapkan pada kenyataan bahwa kita harus bekerja keras untuk memperoleh uang kembali.

Sekali lagi, bayar sekarang dan nikmati nanti, atau nikmati sekarang dan bayar nanti. Pilihan selalu ada di tangan kita. Tetapi pilihan bijak tentu akan memilih untuk membayar sekarang dan menikmati nanti, karena hasil dari segala sesuatu selalu terasa lebih nikmat apabila kita telah bersusah payah terlebih dulu untuk mendapatkannya.

Kuncinya? Berdisiplin atas segala hal yang tidak kita sukai, agar kita dapat mengisi hidup dengan hal-hal yang kita sukai.

Mempersiapkan keberuntungan

Banyak orang yang menanti datangnya keberuntungan. Keberuntungan menjadi semacam mitos takhayul karena orang yang menantikan keberuntungan biasanya hanya duduk santai sambil terus menanti-nanti datangnya keberuntungan itu. Apakah sebenarnya ‘keberuntungan’ itu? Ia bukanlah hadiah dari langit yang dijatuhkan secara tiba-tiba; keberuntungan adalah sesuatu yang diperoleh karena adanya persiapan yang lebih dulu.

Berikut ini lima definisi ‘ilmiah’ menyangkut keberuntungan:
  1. Kalau persiapan bertemu dengan peluang, maka itulah awal keberuntungan.
  2. Keberuntungan yang baik mengikuti pertimbangan yang baik, jika hal itu diikuti pula dengan tindakan yang baik.
  3. Semakin cerdas dan semakin keras kita bekerja, makin beruntunglah kita.
  4. Keberuntungan menyukai orang yang tabah, khususnya mereka yang tahu perjuangan yang mereka hadapi.

Kalau Anda menginginkan keberuntungan, kenalilah hal-hal yang disukai oleh keberuntungan. Keberuntungan menyukai inisiatif, tindakan, kegigihan, integritas, pengamatan yang teliti, kesehatan yang baik, pendidikan yang baik, rencana yang baik, hubungan yang baik, juga sasaran yang berharga.

Menyederhanakan pikiran

Kapan hidup ini akan menjadi lebih sederhana? Tidak akan pernah! Karena itu, hentikan saja keinginan untuk menunggu hidup menjadi lebih sederhana. Mengapa? Karena setiap kali kehidupan menawarkan kemudahan, kita pun meremehkan dan menginginkan yang lebih sukar. “Ah, kalau cuma begini, anak kecil juga bisa! Kalau cuma seperti ini, sambil mata terpejam pun saya sanggup menyelesaikannya!” Kehidupan menawarkan kesederhanaan, tapi kita menginginkan yang luar biasa.

Ketika hidup terasa lebih baik, penghasilan dari pekerjaan telah memberikan kenyamanan, dan perasaan kita telah tenteram sejenak, kita pun menginginkan untuk menikah, dan cakrawala pemikiran kita lalu berubah, radius keinginan kita bertambah. Kita mulai memikirkan rumah dan kendaraan keluarga.

Saat rumah dan kendaraan telah dimiliki, kita menginginkan rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, hidup yang lebih mewah. Saat semua itu pun tercapai, pikiran kita tak juga tenang karena ada hal-hal lain yang menuntut kita untuk juga mencapainya. Dan itu seolah tak pernah selesai, tak pernah berakhir.

Hidup tak akan pernah menjadi lebih sederhana. Kehidupan baru akan menjadi sederhana kalau kita mau menyederhanakan terlebih dulu pikiran kita.

Jangan mempersulit diri

Seorang pemuda pergi ke Jepang untuk menemui seorang ahli pengobatan (Sinshe). Dia bertanya pada sang Shinse, “Guru, saya ingin menjadi ahli yang terbaik. Perlu waktu berapa lama untuk belajar?”

“Sepuluh tahun,” jawab sang Sinshe.

“Tetapi Guru, saya sangat rajin! Saya akan bekerja siang malam. Sekarang perlu waktu berapa lama?”

Sinshe menjawab dengan tenang tapi mengejutkan, “Dua puluh tahun!”

Hidup akan menjadi sedemikian keras kalau kita bersikeras untuk menganggapnya begitu. Padahal, penting sekali bagi kita untuk bisa menerima apa saja dalam hidup ini, tanpa harus berpikir macam-macam.

Pentingnya bersyukur

Mengapa semua agama di muka bumi ini meminta kita untuk selalu bersyukur? Karena bersyukur itulah esensi paling mendasar dari hidup bahagia. Tidak ada kebahagiaan tanpa rasa syukur, dan jika selamanya kita tak pernah bersyukur, maka selamanya pula kita tak akan pernah bahagia.

Ada orang yang mengatakan, “Hatiku sedih karena aku tak punya sepatu, sampai kemudian aku berjumpa dengan orang yang tak punya kaki.”

Jika Anda bersedih hati karena dipecat dari tempat Anda bekerja, ingatlah orang-orang yang sudah bertahun-tahun tak memperoleh pekerjaan. Jika Anda merasa risau karena ketombe di rambut, ingatlah para penderita kanker yang harus kehilangan semua rambutnya karena kemoterapi.

Jika Anda mengeluh karena terjatuh atau tersandung berkali-kali, ingatlah orang yang lumpuh. Jika Anda ingin mengutuk pemerintah karena tak bisa memberikan kehidupan yang baik bagi warganya, ingatlah negara yang tengah diserang huru-hara perang dan kelaparan.

Jika Anda merasa kesal karena beratnya beban hidup dan tantangan yang harus dihadapi, ingatlah orang-orang yang terbaring tak berdaya di rumah sakit. Jika Anda bersedih hati karena terbaring di rumah sakit, ingatlah orang-orang yang telah terkubur di dalam tanah.

Sekali lagi, bersyukurlah... dan bersyukurlah.

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.