Poin-poin Penting Dalam Surat Lamaran Kerja (3)

Poin-poin Penting Dalam Surat Lamaran Kerja

BIBLIOTIKA - Artikel ini adalah lanjutan artikel sebelumnya (Poin-poin Penting Dalam Surat Lamaran Kerja 2). Karenanya, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sangat disarankan untuk membaca artikel sebelumnya terlebih dulu.

Jangan malas memperbaiki

Dalam upaya mencari dan mendapatkan kerja, tidak jarang kita harus melakukan puluhan kali aktivitas melamar kerja dengan mengirimkan surat lamaran kepada perusahaan-perusahaan atau kantor-kantor yang kita minati. Aktivitas seperti ini tentu saja sesuatu yang wajar, dan ada begitu banyak orang yang juga melakukannya dalam upaya untuk mendapatkan pekerjaan yang diidamkan.

Nah, setiap kali kita melamar kerja dan mengirimkan suatu surat lamaran (plus dengan segala berkasnya) kepada suatu perusahaan, jangan lupa untuk membuat copy atau salinannya untuk kita simpan sebagai semacam arsip pribadi.

Tujuannya adalah agar kita memiliki semacam dokumen dalam hal aktivitas kita dalam mencari kerja selama ini. Dengan adanya dokumen-dokumen tersebut, kita bisa melakukan evaluasi dan mempelajari kelebihan serta kekurangan yang mungkin terdapat pada surat-surat lamaran yang pernah kita kirimkan itu.

Dari sini, kita bisa memperbaiki mana-mana saja yang dirasa kurang, sehingga kita bisa membuat surat lamaran yang lebih baik ketika kita ingin melamar kerja kembali pada perusahaan lain.

Aktivitas semacam ini tentu saja membutuhkan ketelatenan dan kesabaran, namun tentunya kita tahu bahwa tidak ada pembelajaran yang sia-sia. Kalau kita mau sedikit berusaha untuk memperbaiki surat-surat lamaran yang pernah kita kirimkan itu, tidak mustahil kalau kemudian kita bisa menulis surat lamaran yang benar-benar baik (atau setidaknya lebih baik dari surat lamaran terdahulu) hingga dapat mengantarkan kita pada pekerjaan yang diidamkan.

Untuk melengkapi catatan ini, sekaligus untuk memberikan gambaran kerja seorang petugas HRD dalam menghadapi surat-surat lamaran yang masuk dan menumpuk di meja kantornya, berikut ini saya kutipkan sebuah artikel yang diposting dalam sebuah situs di internet, yang akan memberikan ilustrasi kepada kita tentang bagaimana dia menghadapi surat-surat lamaran yang biasanya datang ke mejanya setiap hari, dan langkah seperti apa yang kemudian dia tempuh dalam menghadapinya.

Catatan; artikel ini saya kutip secara lengkap, namun ada beberapa perbaikan dari saya menyangkut redaksionalnya.

Catatan seorang HRD Manager

Sebagai Manager HRD di sebuah perusahaan swasta, tahukah Anda tugas apa yang membuat saya bosan setengah mati? Ya, kalau Anda pernah bekerja di bagian HRD mungkin Anda bisa menebaknya, yaitu membaca CV (curriculum vitae) dan dokumen lamaran lainnya.

Bagaimana tidak bosan, satu lowongan kerja saja bisa mendatangkan ratusan pelamar kerja. Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu, ketika perusahaan kami membuka 9 lowongan kerja. Tebaklah berapa jumlah dokumen lamaran yang sampai ke bagian HRD kami? 2.452 dokumen!

Lalu apa yang harus kami lakukan dengan pelamar sebanyak itu? Memilih secara acak diantara dua ribu orang lebih? Terlalu riskan. Mengundang semuanya untuk wawancara? Terlalu makan waktu; manajemen senior hanya memberikan waktu 2 minggu.

Akhirnya seorang rekan mencetuskan sebuah ide yang (menurut saya) agak "jahat", yaitu cukup dengan melihat CV mereka saja. Intinya adalah CV yang tidak menarik dan tidak sedap dipandang mata, langsung kami buang ke tong sampah. Tentu saja, ini kejam sekali!

Tapi itulah yang kami lakukan mulai saat itu dan seterusnya; hanya menilai buku dari sampulnya. Yah, mau bagaimana lagi, kami sudah tidak tahu cara yang lebih baik. Lagi pula cara ini terbukti efektif dan efisien. Kami berhasil mendapatkan orang-orang berkualitas selama bertahun-tahun menerapkannya.

Sepanjang karir saya selama memeriksa dokumen lamaran, hanya ada tiga dokumen lamaran yang benar-benar saya ingat. Yang lainnya memang bagus, tapi yang tiga inilah yang paling unik dan berbeda (sehingga masih saya ingat sampai sekarang).

Yang pertama; berupa sebuah brosur. Bukan brosur sembarangan dan yang biasanya dicetak hitam putih. Tapi sebuah brosur yang sangat bagus sekali, dengan kertas yang berkualitas dan dicetak full-color! Hebat, orang ini sungguh serius sekali.

Yang kedua; hanya sebuah dokumen CV biasa. Yang membuatnya berbeda adalah CV ini dikirimkan dengan menggunakan jasa FedEx (Federal Express, biro ekspedisi internasional yang sangat terkenal di dunia). Karena mengira itu dokumen penting, dokumen itu sampai ke meja saya dengan mulus dan langsung saya baca. Dalam hal merebut perhatian saya, CV ini telah mengalahkan ratusan CV yang lain.

Yang ketiga; adalah CV yang menyertakan sebuah hyperlink ke sebuah situs pribadi. Yang sungguh mengagumkan adalah CV itu tidak berkata banyak selain membuat saya penasaran untuk mengunjungi situs tersebut. Dalam situs itu ada rekaman video singkat tentang mengapa saya harus memberinya pekerjaan. Inilah yang disebut berusaha ekstra untuk sebuah CV!

Kesimpulannya: Jangan takut untuk melawan arus. Lain kali Anda menuliskan CV Anda, buatlah yang berbeda dan unik. Jangan dengarkan suara dan ketakutan "orang yang biasa-biasa saja". Jadilah berani untuk tampil beda, karena itulah yang akan memudahkan kami untuk mengingat Anda dan menerima Anda bekerja di perusahaan kami.

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.