Poin-poin Penting Dalam Surat Lamaran Kerja (1)

 Poin-poin Penting Dalam Surat Lamaran Kerja

BIBLIOTIKA - Sebagaimana yang telah disebutkan pada artikel sebelumnya (Etika Menulis Surat Lamaran Kerja), surat lamaran kerja harus ditulis atau disusun berdasarkan etika. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimanakah menerapkan etika dalam menulis sebuah surat lamaran kerja? Berikut ini jawabannya:

Perhatikan efektivitas

Ini etika nomor satu dalam menulis surat lamaran; efektivitas. Surat lamaran yang kita tulis untuk kemudian kita kirimkan ke sebuah perusahaan itu semacam ‘duta’ atau utusan yang akan membawa kesan tertentu kepada si penerima duta atau penerima utusan. Jika duta itu nampak baik, maka hasilnya bisa saja baik. Begitu pula sebaliknya.

Nah, efektivitas adalah salah satu kunci untuk menciptakan kesan baik itu. Tulislah surat lamaran dengan efektif. Perlihatkan kesopanan, namun jangan sampai terkesan membosankan. Nyatakan keinginan, namun jangan terkesan memaksa.

Tunjukkan kemampuan, namun tidak dengan keangkuhan. Sampaikan harapan, namun tidak terkesan terlalu merendahkan diri. Itu adalah poin-poin penting yang selalu ada dalam sebuah surat lamaran yang menjadi duta kita; kesopanan, keinginan, kemampuan dan harapan.

Jika kita bisa menyampaikan empat hal itu dengan baik dan tidak bertele-tele namun juga tidak terkesan angkuh, maka kita telah mencapai satu titik poin yang bagus untuk berharap surat lamaran tersebut akan memperoleh perhatian dari pihak perusahaan.

Perhatikan komposisi surat

Kita mungkin pernah mengalami kejengkelan ketika membaca sebuah cerpen, novel atau buku cerita karena alur yang tidak nyambung, penjelasan yang tidak jelas, dan pemaparan yang tak dapat dipahami. Ketika kita membacanya, atau bahkan ketika belum selesai membacanya, kita pun sudah bisa memutuskan bahwa itu ‘cerita yang buruk’—dan biasanya kita akan jadi malas untuk meneruskannya.

Begitu pula halnya dengan si pembaca surat lamaran kita. Meskipun sebuah surat lamaran berbeda (bahkan jauh berbeda) dengan cerpen atau novel, namun komposisi penyampaian yang kita uraikan dalam surat lamaran harus jelas dan bisa dipahami oleh pembacanya.

Karenanya, nyatakan segala sesuatu yang ingin kisa sampaikan dalam surat lamaran dengan cara yang sejelas mungkin. Selain menghindari kesan bertele-tele, juga hindari penggunaan istilah-istilah yang sulit, pemaparan yang mutar-mutar atau penjelasan yang tidak nyambung.

Asumsikan bahwa pembaca surat lamaran kita adalah orang awam yang hanya ingin membaca sesuatu yang bisa dengan mudah dipahaminya. Karenanya, ketika menulis sebuah surat lamaran, bayangkanlah apakah yang kita tulis itu bisa dipahami dengan mudah, atau malah justru membuat pembacanya ingin muntah.

Kalau kita ingin lebih pasti mengenai hal ini, cobalah gunakan tes ini; setelah kita selesai menulis sebuah surat lamaran secara jelas dan lengkap, cobalah kita berikan teks surat lamaran tersebut kepada adik kita yang masih duduk di bangku SD atau SMP, dan suruh mereka untuk membacanya. Jika mereka paham dengan isinya (atau setidaknya paham sebagian besar atau 80 persen isinya), maka itu artinya surat lamaran tersebut sudah oke.

Perhatikan isi surat

Ketika tengah sangat bersemangat, kita bisa saja keasyikan ketika menulis sebuah surat lamaran, dan kita begitu menggebu-gebu saat menumpahkan semua yang ingin kita tuliskan dalam surat lamaran itu.

Biasanya, keadaan semacam itu terjadi ketika kita menemukan suatu lowongan kerja yang benar-benar pas dengan diri kita. Karena begitu bergairah, kita pun jadi sangat ingin menyatakan semua hal yang kita yakini sebagai kelebihan atau kualifikasi kita ke dalam surat lamaran itu dengan harapan agar kita menjadi sosok yang terpilih.

Tujuannya tentu saja benar, namun caranya belum tentu benar. Tentu saja kita memang harus dapat sebisa mungkin menyatakan keunggulan dan kualifikasi yang kita miliki, namun batasi, batasi dan batasi. Jangan terlalu mengumbar, jangan terlalu bersemangat. Ingat, pengirim surat lamaran itu belum tentu hanya kita seorang (dan tentunya pasti begitu).

Bayangkan petugas penerima surat lamaran itu harus menerima sekian ratus surat perhari dan jumlahnya kemudian menjadi sekian ribu dalam satu minggu. Semuanya itu harus dilihat, dibaca, diperiksa dan dipelajari untuk dipilih.

Ketika dihadapkan pada tekanan kerja semacam itu, masih mungkinkah seseorang mau ‘bersantai-santai’ menikmati puluhan lembar surat lamaran yang kita tulis? Jawaban logisnya tentu saja ‘Tidak’. (Kecuali kalau kebetulan kita adalah penulis terkenal dan nama kita sudah sangat dikenal, khususnya sangat dikenal oleh si petugas penerima surat lamaran itu dan dia kebetulan salah satu fans berat kita).

Jadi, sekali lagi, batasilah isi surat lamaran kita, meskipun begitu banyak yang ingin kita tuangkan ke dalamnya. Nyatakan semuanya secara ringkas, padat dan jelas, jangan terlalu mengumbar kata dan kalimat. Kita sedang menulis surat lamaran—dan bukannya menulis novel atau buku cerita petualangan.

Baca lanjutannya: Poin-poin Penting Dalam Surat Lamaran Kerja (2)

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.