Perbudakan Tren dan Hilangnya Uang Kita

 Perbudakan Tren dan Hilangnya Uang Kita

BIBLIOTIKA - Di dalam buku Passion, Profit & Power, Marshal Silver menuliskan fakta-fakta yang amat mengejutkan menyangkut jumlah uang yang beredar di planet ini. Menurutnya, 50% uang yang beredar di dunia ini hanya dikuasai oleh 1% orang, 90% uang yang beredar hanya dikuasai oleh 5% orang, dan sisanya yang 10% diperebutkan oleh 95% orang lainnya.

Pertanyaannya; mengapa komposisinya bisa menjadi terkesan ‘tidak adil’ seperti itu? 

Coba tebak, apabila seluruh uang yang ada di muka bumi ini dibagi rata pada setiap orang penduduk bumi yang masih hidup saat ini, berapakah kira-kira masing-masing orang akan memperoleh bagian?

Anda pasti akan terkejut kalau tahu jawabannya.

Majalah keuangan terbitan Singapura, Wealth Mastery, memberikan jawabannya. Dan inilah jawabannya; apabila seluruh uang di seluruh negara yang ada di muka bumi ini dibagi rata pada setiap orang penduduk bumi yang masih hidup saat ini, maka masing-masing orang akan mendapatkan sekitar  USD 2.400.000 (dua juta empat ratus dolar US), atau sekitar Rp. 24.000.000.000,- (dua puluh empat milyar rupiah)!

Tetapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah, apabila seluruh uang yang ada di muka bumi ini benar-benar dibagi rata seperti itu, maka dalam waktu lima tahun semenjak uang itu dibagi rata pada setiap orang, maka proporsi dan komposisinya akan kembali lagi seperti yang disebutkan di atas; 1% orang akan kembali menguasai 50% uang yang beredar, 5% orang akan kembali menguasai 90%-nya, sementara yang lain (yang 95% orang) akan kembali berebutan pada sisa uang yang tinggal 10%.

Sekali lagi, mengapa bisa begitu…?

Jawabannya adalah apa yang terdapat di dalam kepala orang ketika mereka menerima uang.

Ada begitu banyak orang yang hidup hanya dengan menjadi semacam ‘selokan’ bagi uang. Mereka mendapatkan uang dari hasil bekerjanya, dan kemudian uang itu hanya mengalir sebentar di dalam dirinya untuk kemudian pergi lagi karena ditukarkan dengan barang-barang atau bentuk konsumsi lainnya.

Hasrat orang untuk terus membelanjakan uangnya sepertinya tak pernah usai, tak pernah selesai, dan salah satu pemicunya adalah apa yang disebut sebagai ‘tren’, ‘mode’ ataupun segala yang dianggap sebagai up to date.

Inilah yang menjadi jawaban utama dari pertanyaan di atas; mengapa komposisi jumlah uang yang beredar sebagian besarnya hanya dikuasai oleh sedikit orang, namun bagian kecilnya diperebutkan oleh sejumlah besar orang, yakni karena orang terus menjadi budak keinginan yang tak pernah selesai.

Sudah saatnya untuk menyadari bahwa hidup tidak sekedar mode, bahwa siapa diri kita bukan sekedar bagian dari tren. Apabila Anda memperturutkan keinginan untuk terus mengikuti tren, dan kemudian merasa ketinggalan jaman jika tidak mengikuti tren, maka sampai dimanakah pacuan itu akan selesai…? Hidup menjadi begitu melelahkan, bukan?

Pada jaman sekarang ini, tren mengalami siklus, rotasi dan peredaran yang amat cepat. Perjalanan tren itu hanya sekejap. Apa yang masih menjadi tren hari ini bisa dianggap ketinggalan jaman besok pagi. Jika kita terus berpacu mengiringi pacuan tren, maka hidup bukan hanya akan melelahkan, namun juga mencekik kebahagiaan kita, merampas kedamaian kita, sekaligus menghabiskan uang yang sesungguhnya dapat kita simpan untuk hal-hal bermanfaat lainnya.

Di suatu acara di televisi, pernah ada liputan mengenai antrian orang yang membeli ponsel produksi terbaru, yang diklaim hanya dibuat dalam jumlah terbatas. Karena edisi terbatas, tidak heran kalau harga ponsel ini tergolong mahal, yakni sekitar 12 juta rupiah. Namun, meskipun begitu, ada sekian banyak orang yang ingin membeli ponsel ini, dan sebagian orang yang tidak sempat kebagian pun mengeluh dengan kecewa.

Salah seorang pembeli yang beruntung kemudian diwawancarai oleh reporter acara itu menyangkut motivasi membeli ponsel tersebut. Yang mengejutkan adalah, si pembeli ponsel baru itu dengan terus-terang menyatakan bahwa niatnya membeli ponsel tersebut hanya karena merasa penasaran. Bayangkan, seseorang sampai menghabiskan uang hingga 12 juta rupiah hanya untuk mengobati rasa penasaran!

Jadi begitulah apa yang dinamakan sebagai tren itu bekerja; ia diciptakan dengan cara ‘hipnosis massal’, menciptakan kehebohan sesaat, dan kemudian memancing rasa penasaran sekaligus juga sedikit memberikan rasa kebanggaan. Jika gaya hidup semacam ini yang ingin kita ikuti, maka tidak heran kalau kita hanya menjadi semacam selokan bagi uang; mungkin uang mengalir masuk dengan deras dalam hidup kita, namun juga mengalir dengan sama derasnya ketika keluar meninggalkan diri kita.

Dapatkan banyak e-book bermanfaat secara mudah dan aman. Baca penjelasannya di sini.