Obligasi Konversi untuk Investasi

Obligasi Konversi untuk Investasi

BIBLIOTIKA - Apakah mungkin sebuah investasi dalam bentuk obligasi bisa diubah atau ditukarkan menjadi suatu investasi dalam bentuk saham? Jawabannya bisa, yakni dengan menggunakan obligasi konversi. Berikut ini uraiannya.

Mengapa ada orang yang menginginkan untuk menukar investasinya dari obligasi kepada saham? Secara garis besarnya adalah karena ada orang-orang yang lebih menyukai tingkat hasil investasi yang sedikit lebih rendah dengan adanya kemungkinan untuk memperoleh tingkat penghasilan yang lebih tinggi di masa yang akan datang, tetapi secara total tingkat penghasilan tersebut akan menjadi lebih tinggi dari tingkat penghasilan investasi berpenghasilan tetap dengan jangka waktu yang sama.

Orang yang menginginkan melakukan hal semacam itu biasanya adalah orang-orang (investor) yang berusia pertengahan baya (sekitar 35 sampai 40 tahun) yang membutuhkan dana setiap bulannya untuk membayar kebutuhan sekolah anak-anak dan mungkin juga biaya liburan keluarga, namun tetap menginginkan hasil investasi yang cukup bagus di masa mendatang untuk kebutuhan anak-anaknya yang telah dewasa, dan mungkin juga kebutuhan bagi dirinya sendiri ketika mulai pensiun.

Investasi yang dilakukan dengan cara seperti itu (melakukan penukaran bentuk instrumen investasi) tentu saja merupakan bagian dari investasi yang memiliki tingkat risiko tinggi kalau dibandingkan dengan bentuk investasi yang memiliki penghasilan tetap. Orang yang melakukan konversi atau perpindahan investasi ini akan mendapatkan penghasilan tertentu yang lebih rendah sampai periode tertentu, dibanding tingkat penghasilan yang diperolehnya dari investasi yang memberikan pengembalian tetap.

Selain itu, orang ini juga memiliki risiko tidak memperoleh tingkat penghasilan yang dapat disebut capital gain di waktu yang akan datang ketika obligasi di masa mendatang tersebut dikonversikannya ke dalam saham.

Nah, apa yang dilakukan oleh orang di atas ini adalah investasi obligasi yang dikaitkan dengan opsi yang disebut sebagai obligasi konversi.

Apakah yang dimaksud obligasi konversi itu?

Menurut buku Financial Management, obligasi konversi adalah surat hutang (obligasi) atau saham preferensi yang memiliki tujuan untuk mengeluarkan surat hutang atau saham preferensi dimana instrumen tersebut mengandung adanya provisi yang diijinkan untuk dikonversikan kepada saham yang dikeluarkan oleh perusahaan bersangkutan dengan hak sepenuhnya diberikan kepada investor.

Di dalam aktivitas menukarkan obligasi dengan saham perusahaan, maka pihak perusahaan tidak mengenakan biaya kepada investor dan konversi saham tersebut dapat dilakukan sesuai dengan yang diinginkan oleh investor. Di dalam akuntansi perusahaan, obligasi konversi ini akan dimasukkan sebagai hutang subordinasi atau hutang yang lebih lemah dibanding dengan hutang lainnya.

Apabila terjadi konversi saham, maka tidak ada aliran kas pada pihak perusahaan, tetapi terjadi perpindahan hutang yang berubah menjadi modal setor perusahaan, sehingga modal perusahaan akan meningkat dan juga jumlah saham perusahaan pun akan mengalami peningkatan. Selain itu, pemegang saham lama akan mengalami dilusi dalam bentuk harga ataupun prosentase kepemilikan yang disebabkan oleh jumlah saham yang meningkat, dimana peningkatan penghasilan tidak sesuai dengan peningkatan jumlah modal setor tersebut.

Karena obligasi konversi merupakan surat hutang, maka obligasi konversi ini pun memiliki kupon yang dibayarkan kepada orang yang memiliki obligasi konversi tersebut. Nilai kupon obligasi konversi ini bisa lebih rendah dibanding obligasi nonkonversi sejenisnya, atau memiliki kualitas yang sama.

Nah, setelah itu, pada satu periode sebelum obligasi konversi tersebut jatuh tempo, obligasi konversi tersebut dapat dikonversikan kepada saham. Biasanya, obligasi konversi ini mewajibkan pihak perusahaan yang mengeluarkannya untuk mencatatkan namanya ke bursa agar pemegang obligasi konversi bisa menjual sahamya untuk memperoleh capital gain.

Misalnya seperti ini; perusahaan A mengeluarkan obligasi konversi dengan jangka waktu lima tahun dengan jumlah sebesar Rp. 150 milyar, dengan kupon 8 persen pertahun yang dibayar secara semi-annual, dan harga exercise price atau konversi persahamnya adalah Rp. 1.250,- setelah dua tahun semenjak obligasi konversi tersebut dikeluarkan oleh pihak perusahaan A tersebut.

Nah, obligasi konversi ini dibeli oleh perusahaan B. Jumlah saham yang dikonversikan dengan nilai obligasi atau dengan rasio konversi adalah sejumlah Rp. 1.250,- yang besarnya adalah 120 juta lembar saham.

Di dalam kasus di atas itu, maka perusahaan A nantinya akan membayar bunga sebesar Rp. 12 milyar pertahunnya dengan cara pembayaran sejumlah Rp. 6 milyar setiap setengah tahun sekali, yang akan diterima oleh perusahaan B.

Ketika dilakukan konversi pada waktunya, maka perusahaan B akan mendapatkan saham perusahaan A sebanyak 120 juta lembar saham, sehingga hutang perusahaan A kepada perusahaan B menjadi tidak ada lagi. Dalam hal ini, aliran arus kas masuk menjadi tidak ada di perusahaan A, namun terjadi suatu perubahan perpindahan posisi hutang yang berubah menjadi modal setor.

Dalam hal ini, terjadi kenaikan di dalam modal setor sejumlah Rp. 150 milyar yang terdiri atas Rp. 120 milyar sebagai modal disetor dan sebesar Rp. 30 milyar sebagai agio, karena nilai nominal saham sebesar Rp. 1000,- dan nilai jual saham sebesar Rp. 1250,-

Setelah itu, apabila harga saham di perusahaan A di bursa saham meningkat menjadi Rp. 1600,- maka jumlah saham itu dikalikan dengan harga pasar saham tersebut dengan nilai konversi atau conversion value yang nilainya menjadi sebesar Rp. 192 milyar.

Pemilik obligasi konversi ini tentu saja akan melakukan konversi apabila nilai konversi dari obligasinya lebih tinggi atau harga pasar saham lebih tinggi dari harga konversi saham. Situasi semacam ini disebut sebagai ‘forced conversion’. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya (harga pasar saham lebih rendah dari harga konversi saham) maka situasi semacam itu disebut ‘overhanging issue’ atau konversi mengambang.

Jika tertarik untuk melakukan investasi pada obligasi konversi, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya:

Pastikan adanya penghasilan tetap selama periode tertentu, yakni periode saat dimulainya konversi obligasi kepada saham. Kita harus memperhatikan kupon obligasi konversi tersebut, karena kesalahan dalam memilih kupon obligasi akan berakibat tingkat pengembalian atau penghasilan yang rendah secara total nantinya pada waktu jatuh tempo.

Untuk hal ini, biasanya para investor akan memilih tingkat kupon tetap apabila memperkirakan tingkat bunga akan mengalami penurunan di masa mendatang, dan memilih obligasi konversi dengan kupon mengambang apabila diperkirakan tingkat bunga akan mengalami kenaikan di masa yang akan datang.

Pastikan adanya kemungkinan untuk memperoleh capital gain setelah obligasi tersebut dikonversikan kepada saham. Namun jangan lupa bahwa kemungkinan kerugian juga akan timbul karena harga saham di pasar lebih rendah dari harga konversi obligasi. Untuk itu, kita lebih baik menahan obligasinya terlebih dulu ketika tingkat bunga rendah dan tidak terburu-buru menukarkannya kepada saham.

Pastikan untuk memilih sektor industri yang cukup baik dari perusahaan yang mengeluarkan obligasi konversi tersebut. Bagusnya, kita bisa memilih perusahaan yang beroperasi pada sektor yang saat ini mungkin tergolong biasa-biasa saja namun di masa mendatang memiliki kemungkinan untuk terus tumbuh dan berkembang. Namun jangan lupa pula bahwa manajemen perusahaan tersebut juga perlu diperhatikan.

Pastikan bahwa perusahaan tersebut memiliki track record yang positif, agar kita tidak memiliki risiko yang besar. Kita harus memilih perusahaan yang memiliki manajemen bereputasi baik dan terpercaya. Jangan hanya terpaku pada besar-kecilnya perusahaan tersebut, karena sebesar apapun perusahaannya, kalau tingkat manajemennya buruk akan mengakibatkan obligasi yang dikeluarkannya itu memiliki kemungkinan untuk mengalami permasalahan di kemudian hari.

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.