Menghadapi Algoritma Terbaru Google

 Menghadapi Algoritma Terbaru Google

BIBLIOTIKA - Sekumpulan orang yang aktif di dunia maya berkumpul di forum, membicarakan blog mereka yang sedang dihantam algoritma terbaru Google. Siapa pun yang menjadi blogger aktif pasti tahu bahwa sejak setahun lalu Google terus melakukan pembantaian besar-besaran terhadap jutaan web/blog di dunia maya melalui algoritma buatannya yang makin hari makin canggih.

Blog yang menjadi korban pembantaian Google belum tentu dihapus atau di-banned. Kebanyakan blog yang masuk dalam pembantaian Google “hanya” disingkirkan dari daftar SERP. Tapi itu pun sudah sangat tragis, karena blog yang tidak masuk SERP bisa dibilang akan segera mampus, karena kehilangan pengunjung, atau trafiknya menurun drastis.

Karena itulah, sekelompok bocah yang aktif di dunia maya berkumpul dalam sebuah forum, untuk membicarakan nasib blog mereka yang sepertinya sebagian besar ikut terkena dampak pembantaian Google. Saya ikut dalam sarasehan virtual itu. Dari mereka, saya mendapat banyak pelajaran penting mengenai blog, yang saya sarikan dalam catatan ini.

Sejak sekitar setahun lalu, Google makin aktif melakukan pembersihan besar-besaran—hingga sering disebut pembantaian—terhadap blog-blog yang dianggap tidak beres. Pembantaian itu melibatkan tiga algoritma terbaru Google, yaitu Panda, Penguin, dan Hummingbirds. (Buat para master yang tempo hari ikut ngumpul, tolong ralat penjelasan saya berikut ini jika terdapat kesalahan ya, pals!)

Algoritma Penguin mengincar blog-blog sampah alias spam. Ada sebagian orang yang salah memahami definisi spam ala Google. Yang dimaksud “web/blog spam” oleh Google bukan blog yang setiap hari meng-update puluhan artikel, melainkan blog yang meng-update artikel asal jadi (biasanya ditujukan untuk mengincar dan menjaring kata kunci atau sekadar bertujuan memperbanyak artikel).

Artinya, jika blog kita setiap hari meng-update hingga 50 artikel, misalnya, dan setiap artikel itu bagus, orisinal, serta berkualitas menurut standar Google, maka blog kita bukan spam. Google tidak akan mempersoalkan blog semacam itu, mereka bahkan akan mendukung, karena blog itu menyuguhkan konten yang bagus. Sebaliknya, jika blog kita setiap hari hanya meng-update 2 artikel, tapi artikel itu sama sekali tidak bisa dibilang bagus atau bermanfaat bagi orang lain, maka blog kita bisa dianggap spam.  

Blog semacam itulah yang diincar algoritma Google Penguin. Jika Google Penguin mengendus sebuah blog sebagai spam, maka blog itu akan segera ditendang dari mesin pencari. Jadi, dalam konteks blog spam, yang menjadi kunci bukan seberapa banyak kita meng-update artikel di blog kita, melainkan sebagus dan seberapa manfaat artikel itu untuk orang lain. Poin pentingnya adalah kualitas dan manfaat. Ringkasnya, jika sebuah blog “hanya menghabiskan waktu pengunjung namun tidak memberi manfaat apa-apa”, maka blog itu bisa kena incaran Google Penguin.

Jadi, tidak perlu khawatir jika kita meng-update blog hingga puluhan artikel setiap hari. Selama semua artikel itu layak baca—orisinal, bagus, dan bermanfaat—bisa dibilang tidak ada masalah, khususnya dengan Google. Yang perlu dikhawatirkan jika artikel yang kita posting hanya dinilai spam oleh Google, karena tidak sesuai standar kualitas mereka. Blog semacam itu biasanya akan mendapat hukuman—ditendang dari hasil pencarian, dipenjara dalam Google Sandbox, sampai dihapus permanen.

Kemudian, algoritma Google Panda, mengincar blog-blog yang kualitas kontennya sangat rendah, asal jadi, atau tidak layak baca. Itu 11/12 dengan blog spam. Blog semacam itu mungkin meng-update artikel-artikel orisinal. Tetapi kualitasnya sangat rendah, dan tingkat kemanfaatannya juga rendah. Jika kita memiliki blog semacam itu, maka cepat atau lambat Google Panda akan sampai di blog kita, dan akan menjatuhkan hukuman.

Hukuman untuk blog yang diserang Google Panda umumnya trafik yang turun drastis. Jika trafik harian sebelumnya mencapai 10.000 pengunjung, misalnya, maka Google Panda akan menurunkannya hingga setengahnya, dan biasanya makin hari akan terus menurun. Konten yang tidak berkualitas hanya selisih sedikit dengan konten spam. Google ingin membersihkan hasil pencariannya dari blog yang memuat konten-konten semacam itu, karenanya blog yang kualitasnya rendah akan ditendang dari SERP.

Yang terakhir, Hummingbirds, adalah algoritma Google yang benar-benar sakti. Algoritma inilah yang sekarang menjungkir-balikkan para master blog dan master SEO, karena algoritma Hummingbirds bisa bekerja dan “berpikir” sebagaimana manusia.

Dulu, Google hanyalah mesin pencari. Hanya mesin. Karena mesin, dia bisa ditipu atau dicurangi. Celah semacam itulah yang dimanfaatkan oleh para ahli SEO dalam upaya mendongkrak blog milik mereka demi bisa merajai hasil pencarian di Google. Selama waktu-waktu itu, blog-blog yang SEO-nya digarap dengan baik bisa mendatangkan banyak trafik dari mesin pencari.

Tetapi, Google akhirnya menyadari bahwa praktik semacam itu sudah saatnya ditumpas, karena manipulatif, dan algoritma Hummingbirds-lah yang kemudian menumpasnya. Dengan algoritma Hummingbirds, SEO mungkin masih berlaku dalam upaya mendongkrak blog di mesin pencari, tapi efeknya sudah tidak sehebat sebelumnya.

Apa artinya itu? Bagi saya, kredo lama masih berlaku. Setiap blogger pasti sudah diberitahu bahwa content is king—konten adalah raja. Karenanya, jika ingin blog kita survive, fokuslah pada konten, pada konten, dan pada konten. Jika konten sudah beres, yang lain bisa menyusul. Sebaliknya, jika konten tidak beres, maka upaya apa pun bisa dibilang sia-sia. Karena itu, khususnya bagi blogger pemula, jauh lebih baik belajar menulis artikel yang bagus, daripada belajar teknik SEO atau semacamnya. 

Nah, karena adanya amukan tiga algoritma Google sebagaimana yang disebutkan di atas, jutaan web/blog di dunia maya pun jungkir balik tak karuan. Penguin, Panda, dan Hummingbirds, bagai tsunami yang memorakporandakan seluruh tatanan web di dunia maya.

Secara statistik, ketiga algoritma itu bahkan disebut-sebut mengubah lebih dari 80 persen indeks hasil pencarian. Artinya, web/blog yang selama ini mapan menempati peringkat atas di halaman pencarian Google bisa jadi meluncur turun ke halaman 2 atau lebih rendah, atau bahkan lenyap dari hasil pencarian. Karenanya, banyak blogger di berbagai negara bingung dan stres karena trafik ke blognya menurun tajam. Termasuk teman-teman yang tempo hari berkumpul bersama saya di forum.

Sebagian dari mereka ada yang telah merasakan efeknya sejak setahun lalu, ada pula yang baru merasakan efek amukan Google sejak beberapa bulan yang lalu. Pendeknya, mereka semua sedang stres gara-gara trafik yang turun. Yang mengerikan, dari waktu ke waktu, Google pasti akan terus memperbaiki dan memperbarui algoritmanya yang sangat sakti itu, dan malapetaka yang lebih besar sudah siap mengancam web/blog mana pun.

Sampai di sini, mereka pun tiba pada pertanyaan paling krusial, “Apa yang harus kita lakukan?”

Dalam tataran wacana, kita mungkin bisa mengajukan setumpuk usul dan teori untuk menghadapi amukan Google, dari memperbaiki konten yang telanjur diposting, sampai memperbarui blog secara menyeluruh. Tapi upaya itu jelas sangat membutuhkan energi dan waktu, sementara hasilnya bisa dibilang tak dapat diprediksi apalagi dipastikan. Kuncinya kembali lagi pada konten. Prinsipnya, konten yang berkualitas akan tetap selamat, tak peduli dihantam algoritma apa pun yang diciptakan Google.

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.