Membaca Peluang Bisnis dari Internet (2)

  Membaca Peluang Bisnis dari Internet

BIBLIOTIKA - Begitu pula dengan organisasi kemasyarakatan. Kalau dulu keberadaan suatu organisasi tertentu hanya dikenal oleh lingkungan tertentu atau pihak-pihak yang interest saja, namun sekarang menjadi semakin mudah memperkenalkan dirinya kepada publik dengan adanya internet.

Organisasi ‘Green and Peace’, misalnya, dulu hanya dikenal namanya saja karena ada begitu banyak orang yang tidak tahu siapakah mereka sesungguhnya, dimanakah alamat sekretariatnya, bagaimana aktivitasnya, apa saja yang telah mereka lakukan dan sebagainya. Semua itu terjadi karena tidak lancarnya sistem informasi yang dapat mereka berikan kepada masyarakat, atau karena terbatasnya ruang lingkup jangkauan yang dapat mereka raih.

Namun sekarang, dengan sebuah website di internet, maka organisasi semacam itu akan lebih mudah dikenal dan diketahui keberadaan serta segala aktivitasnya, karena sebagian besar masyarakat (khususnya para pengguna internet) akan terjangkau oleh mereka. Dengan website ini mereka dapat memperkenalkan diri, memberitakan aktivitas-aktivitasnya, memberikan himbauan tertentu kepada masyarakat yang sesuai dengan visi dan misinya, serta juga dapat menjaring anggota baru untuk memperluas lingkup organisasi mereka.

Selain institusi organisasi, institusi penerbitan pun mulai memahami bahwa internet adalah salah satu sarana untuk terus mengembangkan bisnis mereka. Saat ini, ada begitu banyak institusi penerbitan yang juga membangun website untuk menyatakan keberadaan mereka, atau setidaknya memperkenalkan diri kepada masyarakat. Surat kabar-surat kabar yang selama ini sudah terkenal pun merasa perlu untuk juga memiliki website agar para pembaca yang tak membeli surat kabar mereka bisa tetap mendapatkan informasi dan berita yang mereka rilis setiap harinya.

Institusi penerbitan buku juga menjadikan internet sebagai salah satu sarana dalam tujuan yang tak jauh berbeda. Banyak sekali saat ini penerbit buku yang keberadaannya diketahui oleh publik melalui internet karena mereka memiliki website di internet. Kadang-kadang orang tidak pernah tahu seperti apakah buku yang mereka terbitkan, namun dengan internet, orang-orang pun tahu bahwa ada perusahaan penerbitan tertentu dan mereka pun kemudian mengenalnya.

Internet jelas merupakan sarana promosi yang efektif bagi para penerbit ini. Kalau selama ini mereka mungkin menggunakan surat kabar atau media massa cetak lain untuk memperkenalkan buku-buku baru terbitan mereka, maka sekarang website di internet dapat melakukannya dengan lebih efektif. Setiap kali mereka menerbitkan buku baru, maka website mereka akan memperkenalkan sekaligus mempromosikannya, dan ada sekian juta orang yang akan mengetahuinya.

Website mereka juga biasanya sangat menarik dan informatif (karena tentu tujuannya agar para pengguna internet suka mampir ke situs mereka), dan di website itu para penerbit ini dengan cukup lengkap menjelaskan profil diri mereka (seperti kapan didirikan, buku seperti apa saja yang mereka terbitkan, naskah seperti apa saja yang mereka butuhkan dan lain-lain).

Di website itu mereka juga dengan mudah memajang buku-buku baru terbitan mereka, lengkap dengan informasi dan isi di dalamnya (seperti resensi mini), lengkap dengan harganya.

Tentu saja, dengan adanya website yang personal seperti ini, para penerbit ini pun menjadi lebih mudah dalam memperkenalkan buku-buku produksinya, sekaligus juga lebih mudah menjangkau para pembaca baru yang mungkin belum mengenal mereka.

Perorangan

Jangankan perusahaan atau sebuah institusi organisasi, bahkan perorangan yang tidak memiliki kepentingan khusus pun merasa perlu untuk memiliki sebuah website tersendiri di internet. Dulu, sebelum era blog menjadi semacam fenomena di internet, orang-orang ini menggunakan ‘Frendster’ sebagai sarana untuk memperkenalkan diri kepada publik.

Frendster jelas merupakan sarana yang ampuh untuk tujuan itu, dan para pengguna frendster dari seluruh dunia pun berlomba-lomba memanfaatkannya, karena setidaknya mereka tidak perlu membayar seperti halnya kalau membuat website sendiri.

Namun sekarang, frendster telah ditinggalkan seiring dimulainya era blog yang dapat membuat siapapun memiliki website yang personal tanpa harus membayar. Orang-orang dari seluruh dunia pun kini berlomba-lomba membuat situs blog untuk dapat memperkenalkan diri kepada masyarakat, sekaligus menjalin interaksi di dalamnya. Saat ini, ada jutaan situs blog yang telah beroperasi di internet, baik yang terkenal ataupun yang tidak terkenal, dengan berbagai macam isi dan variasi tampilannya.

Apapun bentuknya, keinginan orang untuk dapat tampil di internet adalah karena keinginan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Frendster, blog, ataupun situs personal lain yang dibangun dengan profesional  menunjukkan bahwa orang butuh aktualisasi, dan sarana yang ditawarkan internet tersebut dipandang sebagai sarana yang sangat ampuh untuk melakukannya.

Dengan memiliki sebuah website di internet, keinginan terbesar mereka untuk dapat beraktualisasi pun tercapai. Lebih bagus lagi kalau kemudian para pengguna internet menyukai situs mereka dan rajin mengaksesnya.

Memanfaatkan keahlian merancang website

Nah, berdasarkan pemikiran-pemikiran semacam di atas itu, jelas saja kalau keahlian dalam membuat website merupakan sebuah keahlian yang dapat dijual kepada pihak-pihak yang menginginkan dan membutuhkannya. Sekali lagi, setiap orang ingin memiliki website di internet, namun tidak setiap orang dapat membuatnya. Karenanya, jika kita memiliki keahlian dalam hal itu, jangan sia-siakan. Promosikan keahlian itu, dan mulailah merenangi peluang yang ditawarkan internet ini!

Target pasar bagi keahlian membuat website ini bisa perusahaan, institusi (LSM, organisasi, penerbit dan lain-lain) atau juga perorangan. Tarifnya tentu bisa disesuaikan dengan tingkat sukar-mudahnya pembuatannya dan juga siapa klien yang kita layani.

Lalu bagaimana kalau kita tidak memiliki keahlian itu namun tertarik untuk menjadi perancang website profesional?

Kalau memang begitu kenyataannya, maka satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah dengan belajar terlebih dulu. Karena setiap hal memang membutuhkan proses pembelajaran, kan? Begitu pula halnya dengan pengetahuan serta keahlian dalam membuat website di internet ini.

Saat ini ada cukup banyak pelatihan yang menawarkan hal ini, dan kita bisa mendapatkan pengetahuan tersebut dari pelatihan-pelatihan itu. Biaya pelatihannya biasanya tidak terlalu mahal, dan waktu pendidikannya juga tidak sampai memakan waktu lama. Banyak pula buku ataupun e-book yang berisi tutorial menyangkut pembuatan website, dan buku-buku serta e-book ini banyak beredar di toko-toko buku dengan harga yang variatif.

Pendeknya, kalau kita memang berniat untuk mendapatkan pengetahuan tentang suatu hal (dalam hal ini membuat website), kita selalu memiliki jalan untuk mendapatkannya, hanya saja akhirnya kemudian tergantung pada tingkat niat dan kesungguhan kita. Namun apapun juga, semuanya tetap kembali pada keseriusan kita dalam meraihnya. Bukankah begitu?

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.