Etika Menulis Surat Lamaran Kerja

Etika Menulis Surat Lamaran Kerja

BIBLIOTIKA - Kehidupan manusia beradab diikat oleh etika, karena etika inilah salah satu pembeda antara manusia dengan yang bukan manusia. Etika itu juga tetap dibutuhkan ketika kita menulis sebuah surat lamaran pekerjaan.

Nah, sebelum kita masuk pada pembahasan menyangkut etika dalam menulis surat lamaran kerja, kita perlu mempelajari dulu mengapa etika diperlukan dalam hal ini, kaitannya dengan pihak yang kelak menerima surat lamaran kita.

Di setiap perusahaan, biasanya ada petugas khusus yang bertugas menangani dan mengurusi surat-surat lamaran kerja yang masuk. Para petugas di bidang ini bisa saja disebut ‘Human Resource Department’ (HRD), rekrutmen, departemen personalia, dan berbagai sebutan lain, namun tugas dan pekerjaan mereka begitu ‘membosankan’, yakni membaca dan mempelajari serta mengevaluasi sekian ratus atau bahkan sekian ribu surat lamaran yang dikirim ke perusahaan itu.

Pada divisi bidang HRD atau rekrutmen di berbagai perusahaan, menerima surat lamaran kerja merupakan menu kerja sehari-hari. Surat lamaran tersebut, baik yang dikirimkan melalui pos atau e-mail, jumlah rata-ratanya bisa mencapai 10 sampai 1000 surat perhari (tergantung besar kecilnya perusahaan).

Bayangkan bagaimana beratnya tekanan kerja yang harus dihadapi ketika waktu yang digunakan untuk mempelajari surat-surat itu begitu tak sebanding dengan jumlah surat yang datang.

Waktu kerjanya begitu singkat (hanya delapan jam perhari), sementara jumlah surat lamaran yang masuk terus saja menumpuk seperti gunung dan harus dibaca, dipelajari dan dievaluasi untuk mencari yang tepat, dan di atas semuanya itu, pihak perusahaan mendesak agar segera ditemukan orang-orang yang tepat untuk dipekerjakan pada bidang yang ditawarkan dalam lowongan kerja.

Waktu yang terbatas dan pemenuhan kebutuhan perusahaan yang mendesak itu kemudian menuntut divisi bidang tersebut untuk mampu mengambil keputusan dengan cepat dan cermat dalam melakukan sortir dan seleksi terhadap tumpukan surat lamaran yang menggunung itu.

Di sinilah kemudian etika kita sebagai pihak penulis surat lamaran akan mulai berperan. Ketika seorang petugas yang mengurusi surat-surat lamaran itu sudah mulai bosan dan lelah dan tertekan dengan pekerjaannya, dia bisa saja mulai tak bisa konsentrasi dengan baik dalam mempelajari surat lamaran yang ada di hadapannya, dan bisa saja dia membuang atau menepiskan sebuah surat lamaran karena ia anggap membosankan, sulit dipahami atau tidak jelas maksudnya. Dan tentu saja manusiawi seseorang berbuat begitu, terlepas apakah itu profesional atau tidak, karena bagaimanapun juga dia manusia biasa dan bukan robot yang tak punya rasa lelah atau bosan.

Nah, surat lamaran yang beretika, surat lamaran yang ditulis dengan baik, padat, singkat, mudah dipahami dan tidak bertele-tele, tentunya akan membantu si petugas ini untuk tidak terlalu ‘tegang’ atau tertekan dalam pekerjaannya.

Dia menjadi lebih mudah dalam membaca, mempelajari sekaligus mengevaluasi surat lamaran yang beretika semacam itu, sehingga dia pun bisa sedikit ‘rileks’ saat melakukannya. Hasil akhirnya, bisa saja surat lamaran itu kemudian yang ia pilih, meskipun mungkin secara kualitas belum tentu terbaik di antara surat lamaran lainnya. Sekali lagi, hal semacam itu tentu saja manusiawi karena yang bekerja di sini adalah manusia yang memiliki emosi.

Jadi, sekali lagi, di sinilah pentingnya etika ketika kita menulis sebuah surat lamaran. Etika tidak saja mencerminkan kepribadian pemiliknya, namun juga dapat mengantarkan kita pada nasib yang baik—dalam hal ini dibaca dan dipelajarinya surat lamaran kita, untuk kemudian dipilih sebagai orang yang akan mengisi lowongan yang ada.

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.