Dua Macam Opsi Saham Karyawan

 Dua Macam Opsi Saham Karyawan

BIBLIOTIKA - Secara garis besar, opsi saham karyawan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu opsi saham karyawan yang disebut NSO dan opsi saham karyawan yang disebut ISO.

NSO (non satutory stock option) atau nonqualified adalah nonkualifikasi opsi saham. Ini adalah jenis opsi saham karyawan yang paling mudah dikelola oleh pihak perusahaan, karena opsi jenis saham NSO ini memiliki batasan atau restriksi yang paling sedikit, khususnya apabila dibandingkan dengan opsi saham kayawan yang disebut ISO. Di Amerika, opsi saham jenis NSO tidak dikenakan pajak.

Opsi saham jenis NSO menjadi populer dan disukai oleh pihak perusahaan, karena tingkat fleksibilitasnya. Di dalam jenis opsi saham ini, pihak pemilik perusahaan memiliki kebebasan dalam memutuskan karyawan yang mana yang akan mendapatkan opsi saham dan kapan waktu opsi saham tersebut dipergunakan. Selain itu, di dalam opsi saham NSO ini tidak ada batasan tertentu (menyangkut jumlah) bagi pemilik perusahaan untuk memberikan opsi saham karyawannya.

Jenis kedua, yaitu ISO (incentive stock option) atau statutory adalah opsi saham karyawan insentif. Opsi saham jenis ini harus memenuhi kualifikasi tertentu, sekaligus juga memenuhi kondisi tertentu, umpamanya saham yang dipegang itu waktunya harus lebih dari satu tahun, dan memiliki harga strike yang minimal sama dengan harga saham di pasar ketika hadiah saham tersebut diterbitkan.

Biasanya, pada opsi saham karyawan jenis ISO ini diberlakukan pajak khusus apabila kondisi-kondisi yang dituntut itu terpenuhi. Opsi saham jenis ISO ini umumnya disukai oleh para eksekutif perusahaan atau karyawan perusahaan yang memiliki gaji / penghasilan tinggi karena mereka dapat menghemat pajak penghasilan mereka. Sementara pihak perusahaan biasanya memberikan opsi saham ISO ini kepada para karyawan kunci atau kepada para eksekutif puncaknya, dengan harapan orang-orang ini tidak meninggalkan perusahaan.

Nah, tujuan besar dari diciptakannya sistem yang kemudian disebut sebagai opsi saham karyawan ini adalah untuk menciptakan suasana kerja yang lebih baik, lebih bagus dan lebih berkualitas, karena karyawan akan ikut merasa memiliki perusahaan tempatnya bekerja. Dengan adanya suasana dan semangat yang positif semacam itu, maka pihak perusahaan pun dapat mengharapkan memperoleh keuntungan yang lebih besar, sekaligus juga mendapatkan harga saham yang dapat meningkat di bursa saham.

Setelah kita mengulas secara cukup panjang lebar mengenai opsi saham karyawan ini, sekarang mungkin terbetik pertanyaan tentang bagaimana sistem atau bentuk transaksi jual-belinya?

Dalam rencana transaksi jual-beli opsi saham karyawan, kita akan mengenal dua istilah yang diberlakukan dalam hal ini, yaitu;
  1. ESPP atau Employee Stock Purchase Plans (rencana pembelian saham karyawan)
  2. ESOP atau Employee Stock Ownership Plans (rencana kepemilikan saham karyawan)

Kedua rencana tersebut (ESPP dan ESOP) merupakan rencana yang sangat positif bagi pihak karyawan perusahaan, khususnya apabila perusahaan tempat bekerjanya itu pada mulanya merupakan perusahaan milik keluarga (bukan milik publik).

Dengan adanya rencana pembelian dan kepemilikan opsi saham karyawan ini pun pihak perusahaan akan mendapatkan kesan yang positif dari para karyawannya yang akan menganggap bahwa perusahaan itu juga merupakan miliknya sehingga akan tercipta sistem dan suasana kerja yang lebih baik dan lebih konstruktif.

ESPP atau Employee Stock Pusrchase Plans merupakan sebuah bentuk penawaran saham yang diberikan kepada karyawan, dengan harga diskon atau lebih murah dari harga saham yang berlaku di pasar, dan pihak karyawan dapat membeli saham tersebut dengan cara memotong gaji bulanannya selama jangka waktu yang telah ditentukan.

Dalam hal ini pihak perusahaan memberikan penawaran kepada karyawan dalam satu periode untuk dapat membeli saham perusahaan dengan harga tertentu (lebih murah dari harga saham yang berlalu di pasar), selama suatu periode yang dapat ditentukan dari harga yang paling rendah.

Cara mudahnya seperti ini; perusahaan A memberikan penawaran ESPP kepada karyawannya dalam periode enam bulan dengan ketentuan harga saham yang dibeli karyawan tersebut didiskon sebanyak 10 persen dari harga saham yang terendah selama enam bulan yang berjalan. Artinya, apabila harga paling rendah dari harga saham perusahaan tempat karyawan tersebut bekerja memiliki nilai sebesar Rp. 3000,- maka si karyawan dapat membeli sahamnya dengan harga Rp. 2700,-.

Karenanya, apabila harga saham pada periode setelah penawaran kepada karyawan itu meningkat menjadi Rp. 4000,- maka karyawan tesebut telah memperoleh capital gain sebesar Rp. 1300,- Begitu pula halnya apabila harga saham perusahaan tersebut mengalami penurunan hingga menjadi Rp. 2000,- maka karyawan bersangkutan pun mengalami kerugian sebesar Rp. 700,- persahamnya.

Nah, sebagaimana yang telah dinyatakan di atas, pihak karyawan dapat membeli saham milik perusahaannya ini sejumlah minimal 1 lot atau 500 lembar saham. Apabila pihak perusahaan memberikan jatah penawaran pada seorang karyawan untuk membeli saham sejumlah 20 lot atau sebanyak 10.000 lembar saham, maka karyawan tersebut harus menyediakan uang setidaknya Rp. 30.000.000,- (berdasakan hitungan di atas), dan uang sejumlah tersebut akan dikumpulkan oleh pihak perusahaan melalui pemotongan gaji bulanan si karyawan selama jangka waktu enam bulan.

Dalam contoh kasus ini berarti pihak karyawan dan pihak perusahaan telah membuat perjanjian yang menyatakan bahwa si karyawan akan membeli saham sebanyak 10.000 lembar pada akhir periode penawaran. Namun yang perlu diingat di sini adalah bahwa pihak karyawan tetap memiliki hak untuk meneruskan atau menghentikan rencana pembeliannya pada pertengahan periode pembelian saham, sehingga karyawan tersebut akan menerima kembali uang gajinya yang telah dipotong setiap bulannya tadi.

Namun konsekuensinya, apabila penghentian semacam itu dilakukan, maka pihak karyawan tidak bisa lagi menuntut di kemudian hari apabila telah memutuskan untuk tidak ikut serta dalam program ESPP itu. Meskipun begitu, si karyawan tetap saja akan tercatat sebagai pihak yang ikut berpartisipasi di dalam ESPP pada hari akhir dari periode penawaran yang berlaku, namun si karyawan tidak akan dikenai pajak.

Baca lanjutannya: Mengenal Rencana Pembelian Saham Karyawan 

Tersedia paket e-book BIBLIOTIKA. 
Untuk mendapatkan, klik di sini.